SURAT GEMBALA Surat Gembala
Mengakhiri Jalan Hidup (1)
23 February 2020

Saudaraku,

Semakin kita menggali kebenaran Firman Tuhan melalui kehidupan konkret—bukan hanya melalui literal dari apa yang kita baca, tapi apa yang kita alami—maka kita akan menemukan betapa sederhananya mengikut Yesus itu sebenarnya. Sederhana bukan berarti mudah, melainkan sukar! Sebab pertaruhannya adalah segenap hidup! Maka kalau kita mengikut Tuhan Yesus, kita harus berani mengakui dan menjalani bahwa kita telah mati 2000 tahun yang lalu bersama Dia. Jadi semua cara hidup kita, gaya hidup kita, kebiasaan hidup kita yang lama harus ditinggalkan. Dengan satu prinsip bahwa “2000 tahun yang lalu saya telah mati bersama dengan Dia di kayu salib.”

Sederhana bukan? Tetapi ternyata tidak mudah, Saudaraku. Itulah sebabnya dalam Injil Matius 11:28-29 Tuhan berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.
Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Letih lesu dan berbeban berat ini bukan karena banyak masalah hidup. Kita tidak akan pernah lepas dari masalah hidup. Dan “ketenangan atau perhentian” di sini bukan berarti kita telah lepas dari masalah hidup, melainkan kita tidak menganggap masalah-masalah hidup itu sebagai hal yang sukar, sebagai beban yang menyakitkan dan melukai.

Dan jangan Saudara berpikir bahwa kita tidak boleh punya keinginan. Manusia tidak boleh tidak punya keinginan, tetapi bagi orang yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, keinginannya harus sesuai dengan kehendak Allah. Bejana hatinya harus diisi oleh kehendak Allah, sehingga apa yang dia ingini merupakan jiplakan dari apa yang Allah kehendaki.

Paulus menggatakan, “Aku selalu membawa kematian Tuhan di dalam tubuhku ini!” Dengan kalimat lain, “Aku telah mati 2000 tahun yang lalu” atau “Aku telah mengakhiri jalan hidupku!”

Sejatinya, ketika kita merasa letih lesu dan berbeban berat karena kita salah arah, salah konsep hidup. Namun kalau kita mau meletakkan semua itu, Tuhan akan memberi kita perhentian atau kelegaan. Sehingga akhirnya, Saudara tidak akan menganggap masalah-masalah itu sesuatu yang menyakitkan. Apalagi kalau Saudara memahami bahwa Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia.

Setiap kita pasti mengenal kekurangan atau kelemahannya. Jika kita sungguh-sungguh berurusan dengan Allah dan mengasihi Allah, maka Allah akan membidik kekurangan, kesalahan, kelemahan atau cacat karakter kita itu melalui peristiwa-peristiwa hidup. Di situ kita bisa membuktikan kehadiran Tuhan dalam hidup kita.

Kita tidak perlu menuntut untuk mengalami Tuhan melalui mukjizat atau kejadian-kejadian yang spektakuler! Tapi kita akan mengalami Tuhan lewat perubahan karakter; di mana kita membuktikan bahwa Dia membidik dan mengubah kita lewat peristiwa-peristiwa hidup dan kita bisa mengerti betapa bijaksana-Nya Allah itu.

Jadi, kejadian seburuk apa pun tidak akan menyakitkan, karena ada jejak Tuhan di situ. Sebaliknya, masalah-masalah hidup yang kita anggap menjadi bencana, akan menghalangi Tuhan dalam membentuk kita. Seharusnya kita sudah tidak lagi mempersoalkan bagaimana akhir atau penyelesaian dari masalah hidup, tetapi yang kita lihat adalah akhir dari perbaikan karakter kita!

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono