SURAT GEMBALA Surat Gembala
Memercayai Allah Yang Benar (2)
16 February 2020

Saudaraku,
Tidak ada satu hari berlalu tanpa berkat dari Tuhan, asalkan kita berjalan bersama Tuhan. Tentu “berkat” tersebut tidak boleh kita pahami sebagai pemenuhan kebutuhan jasmani. Kata “berkat” memiliki pengertian secara etimologis the power of life; kuasa hidup, menghidupkan. Bagi umat Perjanjian Lama yang orientasi berpikir dan fokusnya pemenuhan kebutuhan jasmani, maka “berkat” itu adalah hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi bagi orang percaya, berkat yang kita pahami adalah berkat kekekalan. Tidak ada satu hari kita tidak mengalami atau tidak menerima berkat selama kita berjalan dengan Tuhan.

Kita memang sering merasa bingung mengapa harus mengalami kejadian tertentu. Keadaan sulit yang kita alami, kadang-kadang kita berpikir Tuhan seperti tidak membela pekerjaan-Nya di tangan kita.

Namun, kita tidak boleh mengandalkan manusia, tidak boleh bergantung pada kekuatan manusia. Kalau sampai ada sesuatu yang terjadi dan mempermalukan kita, kita serahkan dalam tangan-Nya. Ini yang akan membuat kita menjadi teduh. Jangan sampai kita berpikir Tuhan memang sengaja menyusahkan kita tanpa alasan. Orang seperti itu pasti tidak memahami bahwa Arsitek Agung sedang membentuk kita. Jadi, semakin kita mau dimurnikan oleh Allah, semakin berat masalah yang kita hadapi dan seakan-akan semakin Allah tidak campur tangan atau tidak hadir di situ.

Oleh sebab itu, kita harus percaya apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat.” Percaya kepada Allah harus dengan keyakinan tanpa menuntut bukti atau tanda lahiriah kehadiran-Nya. Ini menjadi prinsip penting. Hal ini akan membuat kita tetap menghormati Dia. Walau bagaimana pun keadaan kita, kita akan tetap setia kepada-Nya, mengasihi Dia, dan tekun diam di kaki-Nya. Sehingga, kita bisa menghayati Tuhan di tengah-tengah keadaan di mana kita tidak bisa menghayati-Nya.

Sebenarnya, tidak ada satu detik pun dimana kita tidak berurusan dengan Allah. Tidak ada peristiwa dalam hidup ini yang terjadi di luar kontrol dan monitor Allah. Allah yang baik, yang menyediakan berkat. Bukan untuk pemenuhan kebutuhan fisik kita semata-mata, melainkan justru mempersiapkan kita menjadi umat yang layak. Ini hebatnya orang percaya yang mengasihi Dia, karena Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan. Dan kebaikan itu adalah kita menjadi serupa dengan Yesus.

Situasi gereja mula-mula, orang-orang Kristen benar-benar teraniaya. Mengapa, dan seakan-akan Tuhan tidak membela pekerjaan-Nya? Jawabnya adalah untuk menguji kemurnian iman mereka (1Ptr. 1:7). Hal ini tidak dialami semua orang, sebab ini hanya terjadi atas orang-orang yang mengasihi Tuhan yang dalam level tertentu. Tidak mungkin tidak ada sesuatu yang luar biasa terjadi dalam hidup kita. Sesuatu yang bisa membingungkan kita, seakan-akan Tuhan tidak hadir atau bahkan tidak ada. Diuji kemurnian kita seperti orang-orang percaya di abad mula-mula itu.

Ironis, sering kali gereja hanya menjadi tempat orang berliturgi dan tempat lembaga menjual jasa (mendoakan, mengkampanyekan kuasa, dan kebaikan Tuhan). Tetapi inilah yang Tuhan kehendaki: kita mengkampanyekan kebaikan dan kuasa Tuhan, dan fokuskan diri kita ke langit baru bumi baru!

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono