SURAT GEMBALA Surat Gembala
Kerendahan Hati
15 March 2020

Saudaraku,
Dalam Injil Matius 11:29, Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa diri-Nya rendah hati. Dalam hidup-Nya di bumi, Tuhan Yesus menampilkan sebuah peragaan kerendahan hati dengan sangat mengagumkan. Mari kita persoalkan, apa sebenarnya kerendahan hati itu? Pertama, kerendahan hati berpangkal pada kesadaran bahwa seluruh keberadaan kita ini hanya karena anugerah dari Bapa. Tuhan Yesus dalam suatu pernyataan-Nya mengakui bahwa Ia tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Nya sendiri (Yoh. 5:19).

Dalam Injil Yohanes memang dikatakan dengan jelas bahwa segala sesuatu dijadikan oleh Dia, tetapi bukan berarti Tuhan dapat mengerjakan-Nya sendiri. Alkitab menunjukkan bahwa Ia bersama-sama dengan Bapa (Yoh. 1:1-3). Bapalah yang empunya segala kuasa, kemuliaan dan Kerajaan kekal selama-lamanya. Dari pernyataan Tuhan Yesus di Yohanes 5:19, Tuhan Yesus mengakui bahwa kemampuan yang ada pada-Nya dan segala kesanggupan-Nya mencipta dan berkarya adalah karena Bapa yang mengajari-Nya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan apa yang dikerjakan oleh Bapa, itu juga yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Ini berarti, tanpa Bapa Tuhan Yesus tidak dapat berkeadaan seperti saat itu dan selamanya.

Kedua, kerendahan hati berpangkal pada bahwa seluruh keberadaan-Nya dipersembahkan bagi kemuliaan Bapa. Itulah sebabnya jelas sekali dikatakan dalam Filipi 2:11 “dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” Yesus menjadi Tuhan bukan bagi diri-Nya sendiri, tetapi menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Dalam hal ini kita dapat memahami mengapa orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, tidak diperkenankan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat. 7:21-23).

Ketiga, Ia sama sekali tidak mencari kehormatan dari manusia. Ia hanya mencari kehormatan untuk kemuliaan Bapa dan akhirnya kehormatan yang dinantikan adalah pujian dan kehormatan dari Bapa sendiri. Dalam Injil Yohanes 8:54, Tuhan menyatakan suatu pernyataan: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami.” Tuhan Yesus juga direndahkan dengan berbagai alasan. Tetapi Tuhan Yesus tetap teduh, sebab Ia tidak mencari kemuliaan dan kehormatan dari manusia.

Kerendahan hati Yesus inilah yang harus menjadi tantangan kita, yaitu kita juga harus berjuang untuk dapat mencapai kerendahan hati Tuhan Yesus. Sejatinya, kita dapat juga mengenakan kerendahan hati seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Hal ini bukan sesuatu yang mudah, tetapi tidak mustahil untuk dapat dilakukan.

Kita harus mulai belajar untuk mengakui dengan tulus bahwa keberadaan kita ini semata-mata karena Tuhan. Jika bukan Tuhan yang menolong, kita tidak menjadi seperti sekarang ini. Keberadaan yang ada pada kita sekarang di bumi ini adalah milik Tuhan yang harus dipersembahkan semua bagi Tuhan. Kita tidak boleh mengambil atau menyisakan setitik pun bagi kepentingan diri kita sendiri. Tuhan mengosongkan diri untuk melepaskan semua hak-Nya, agar semua yang ada pada-Nya hanyalah bagi kemuliaan Bapa. Demikian juga dengan hidup kita yang sepenuhnya harus bagi kemuliaan Allah. Orang yang masih mencari kehormatan manusia tidak mungkin bisa percaya kepada Yesus dengan benar dan tidak akan pernah dapat memperagakan karakter-Nya.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono