SURAT GEMBALA Surat Gembala
Hidup Dalam Pemerintahan Allah (2)
08 March 2020

Saudaraku,

Tanpa disadari banyak orang Kristen yang sebenarnya telah banyak terpengaruh oleh cara berpikir dan pandangan nihilisme. Dunia modern di mana ilmu pengetahuan dan teknologi manusia berkembang, segala sesuatu yang tak dapat dibuktikan atau diverifikasi secara sains, dianggap nonsense (omong kosong). Semakin orang menggunakan logika atau menggunakan nalar, maka hal-hal yang bersifat mistik tereliminasi (tersingkir)tidak ada dewa-dewa, tidak ada ilah-ilah yang memiliki unsur mistiktermasuk Tuhan, tidak ada Tuhan! Atau tidak perlu ada Tuhan!

Suasana dunia yang nihilistis memiliki pengaruh atas kita. Kita dikondisi untuk tidak menyadari bahwa kita hidup di satu dunia di mana ada Tuan rumahnya. Di satu dunia di mana ada Allah sebagai Kepala Pemerintahan yang berkuasa, yang mengatur. Kita pun diarahkan seakan-akan manusia memiliki hak untuk bertindak, untuk mengambil keputusan, atau untuk berbuat sesukanya sendiri. Memang kalau sekarang kita hidup suci, tidak bercacat tidak bercela, seakan-akan tidak ada pahala yang kita terima secara langsung; dan sebaliknya, kalau kita hidup dalam dosa pun, aman-aman saja. Ini keadaan seakan-akan tidak ada Allah yang menegakkan keadilan, tidak ada Allah yang mengontrol.

Berbeda dengan kehidupan bangsa Israel yang hidup dalam suasana kehadiran Allah yang nyata. Dimana jika mereka taat, mereka diberkati, kerajaan jaya, panennya berhasil, jauh dari epidemi penyakit. Tetapi kalau tidak taat, mereka terkena laknat; musuh menyerang, panen gagal, epidemi penyakit merajalela. Begitulah Allah memperlakukan umat pilihan, yaitu bangsa Israel, yang orientasinya masih duniawi. Namun, bagi umat Perjanjian Baru, Tuhan memperlakukan kita secara dewasa. Dimana umat tidak lagi terfokus kepada pemenuhan kebutuhan jasmani.

Tetapi sesungguhnya semua ini ada perhitungannya. Jadi, jangan berpikir seperti bangsa Israel! Kita harus meyakini ada pemerintahan Allah. Dan apakah pemerintahan Allah itu terwujud di dalam hidup kita secara nyata atau tidak, bukan tergantung Allah, melainkan tergantung kita! Justru di sinilah dahsyat dan mengerikannya hidup ini. Orang yang menemukan Tuhan adalah orang yang hidup di dalam pemerintahan Tuhan. Ciri yang paling nyata adalah kesucian hidup yang agung. Orang seperti ini tidak akan sembarangan bertindak. Dan orang yang menemukan Allah itu pasti mengalami sebuah proses pertumbuhan: kecerdasan roh, yaitu ketepatan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Adapun ciri kecerdasan roh adalah: Pertama, tidak melukai siapa pun. Walau kadang kita sudah berbuat sebaik-baiknya pun tapi orang tetap terluka; nah, itu di luar kemampuan kita. Kedua, membuat hati Tuhan nyaman. Kita urusan dengan Dia yang Mahahadir, yang mata-Nya seperti candid camera yang terus mengawasi kita. Jadi kebaikan kita harus setulus-tulusnya karena Tuhan menilai kita. Mungkin kita tidak merugikan sesama sama sekali, tapi kehendak Tuhan bukan hanya itu. Kehendak Tuhan adalah kita harus jadi roti yang terpecah dan anggur yang tercurah.

Kita dipanggil untuk hidup di dalam pemerintahan Allah. Mari, rendahkan hatimu dan berdamai dengan Tuhan selama masih ada kesempatan. Kita habiskan waktu kita untuk mengabdi kepada Tuhan. Apa pun keadaan kita hari ini—sakit, miskin, cacat, tidak terhormat—tidak masalah. Yang harus menjadi masalah adalah jika kita tidak hidup dalam pemerintahan Allah! Pemerintahan Allah bukan pemerintahan hukum agama, tapi pikiran dan perasaan Allah sendiri.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono