SURAT GEMBALA Surat Gembala
Hidup Dalam Pemerintahan Allah (1)
01 March 2020

Saudaraku,

Sesuatu tidak bisa dikatakan realitas kalau tidak tetap dan permanen. Segala sesuatu yang ada di bumi hari ini tidak ada yang tetap, termasuk tubuh kita ini. Yang tetap hanyalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Itulah sebabnya, Pertama, kita harus benar-benar bersentuhan dengan Allah. Harus ada perjumpaan yang nyata dan konkret dengan Allah. Kedua, kita harus hidup di dalam pemerintahan Allah, yaitu pemerintahan Kerajaan-Nya.

Tetapi manusia telah terperangkap hanya oleh apa yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasa membahagiakan jiwanya. Hal ini disebabkan karena jangkauan pandang manusia pada umumnya hanya tertuju kepada apa yang ada di sekitarnya. Padahal, secara fisik saja kalau kita melihat langit di atas berwarna biru—seakan-akan ada atap yang melingkupi bumi ini—tahukah Saudara bahwa langit ini tidak terbatas? Belum lagi benda-benda angkasa lainnya yang tidak terhitung.

Piciknya manusia membuat dirinya menjadi kerdil dan tidak mampu memahami kemuliaan Allah yang besar dan yang disediakan bagi orang percaya. Ini yang kelihatan! Belum yang tidak kelihatan, yaitu Kerajaan Allah yang hari ini belum dinyatakan. Kita yang diciptakan sebagai manusia—yang kemudian kita menjadi anak-anak Allah—mestinya memiliki jangkauan pandang yang tidak terbelenggu pada apa yang kelihatan dalam jarak pandang di bumi ini. Sebab yang diwariskan oleh Allah kepada Putra Tunggal-Nya Tuhan Yesus Kristus—dimana kita ikut mewarisi bersama-sama dengan-Nya—adalah triliunan planet dalam jangka waktu kekekalan yang tidak berakhir! Itulah sebabnya, jangkauan pandang kita harus jauh! Jangan terperangkap dengan pengertian realitas yang dangkal dan miskin.

Saudara dan saya harus mencari Tuhan dan benar-benar menemukan-Nya. Tuhan bukanlah fantasi, bukan hanya objek percakapan di ruang Pendalaman Alkitab atau perdebatan di medsos. Allah itu Pribadi yang hidup yang harus diperlakukan sebagai Pribadi yang hidup dan untuk itu kita harus hidup di dalam pemerintahan-Nya!
Jadi Saudara, mari kita membidik bintang di langit, jangan hanya membidik mangga tetangga. Artinya kita harus berusaha menjadi manusia yang sesuci-sucinya, sekudus-kudusnya! Mengapa? Sebab Allah berfirman, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus!” Dia mengkaitkan kekudusan-Nya dengan kekudusan kita karena standar kekudusan itu adalah diri-Nya sendiri.

Mari kita sepakat untuk menjadi anak-anak Allah yang hidup dalam pemerintahan Allah. Maka selalu perkarakan: “Apakah yang kupikirkan, kuucapkan dan kulakukan ini sesuai dengan kehendak Allah?” Dengan target hidup sekudus-kudusnya, kita akan makin mulai mencurigai setiap perbuatan kita: “Jangan-jangan melukai hati Allah.” Dan saya mengajak Saudara untuk turut memikirkan pekerjaan Tuhan yang besar. Memikirkan jiwa-jiwa yang telah diwarnai dunia. Kita berkejar-kejaran dengan waktu! Banyak orang yang tidak takut terhadap kekekalan! Betapa mengerikan keadaan itu, Saudaraku! Kita harus memiliki beban.
Dan kiranya Saudara memiliki kepekaan untuk bisa merasakan kapan Bapa disukakan oleh perbuatanmu. Kalau Saudara menghormati Tuhan, Saudara akan hidup benar, hidup suci. Tinggalkan semua hal yang Tuhan tidak berkenan, sediakan waktu untuk bertemu dengan Tuhan. Hanya orang yang hidup dalam pemerintahan Allah sejak hidup di bumi yang akan melanjutkan hidup dalam pemerintahan Allah di Kerajaaan Surga.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono