Yudas Meninggalkan Tuhan
25 May 2019

Terkait dengan hal Allah menentukan atau menetapkan sebagian manusia untuk pasti selamat masuk surga, Yudas menjadi sosok penting yang hidupnya patut kita amati sebagai sebuah pembelajaran, dan oleh karena Yudas juga merupakan kunci penting untuk kita bersama dalam memahami hal “pemilihan Allah.” Siapakah Yudas itu sebenarnya? Yudas adalah salah satu dari dua belas murid Tuhan Yesus yang ditunjuk langsung oleh Tuhan Yesus (Mat. 10:4; Mrk. 3:19; Luk. 6:16). Yudas dikenal sebagai Yudas anak Simon Iskariot. Perlu diketahui bahwa ada banyak nama Yudas selain Yudas Iskariot ini. Ada Yudas saudara Tuhan Yesus, Yudas bin (anak) Yakobus, Yudas yang diidentifikasi dari Tarsus, dan lain sebagainya.

Pemilihan atas murid-murid termasuk Yudas sebagai salah satunya, didahului dengan doa semalam-malaman oleh Tuhan Yesus (Luk. 6:12). Tentu Tuhan Yesus tidak bersandiwara dalam pemilihan tersebut. Sangat tidak mungkin Tuhan Yesus pura-pura memilih Yudas, namun di balik itu Tuhan berniat untuk menjadikannya “alat kejahatan.” Alat kejahatan artinya, Yudas menjadi berwatak “suka mencuri” dan demi uang kecil mengorbankan Gurunya. Adalah mustahil Tuhan bekerja sama dengan Iblis yang merasuki Yudas untuk merusak karakter Yudas, yang akhirnya mengkhianati diri-Nya. Sesungguhnya Tuhan Yesus memilih Yudas memang untuk dijadikan salah satu dari rasul. Semua yang diajarkan Tuhan Yesus di depan murid-murid dan orang banyak -termasuk bagi Yudas- tentu bukan sandiwara. Ia memberikan pengajaran-Nya agar Yudas menjadi rasul yang baik. Dalam Kisah Rasul 1:25 tertulis: “…untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah jatuh ke tempat yang wajar baginya.” Dari kalimat ini jelaslah bahwa Yudaslah yang meninggalkan jabatan kerasulan.

Dalam Kisah Rasul 1:17 dikatakan bahwa dahulu Yudas termasuk bilangan murid-murid terkemuka dan yang mengambil bagian di dalam pelayanan. Jabatan rasul memang diperuntukkan bagi Yudas juga, tetapi Yudas meninggalkannya. Perhatikan, bukan Tuhan yang membuat ia meninggalkan jabatan itu, tetapi Yudaslah yang meninggalkan jabatan rasul tersebut. Tentu bukan karena kemauan Tuhan, tetapi oleh kemauan Yudas sendiri dan dalam kesadaran penuh. Tuhan sama sekali tidak merekayasa keadaan Yudas yang mengkhianati Tuhan dan Gurunya sehingga ia menjadi anak kebinasaan.

Pertanyaan yang penting untuk diperkarakan adalah: Apakah dengan demikian Yudas memang ditentukan untuk binasa? Selama ini ada pemikiran bahwa Yudas memang diciptakan Tuhan untuk menjadi “alat” dalam tangan-Nya, yaitu untuk mewujudkan keselamatan. Di sini seakan-akan Tuhan membutuhkan Yudas untuk menggenapi rencana-Nya. Dalam hal ini seolah-olah Yudas juga bisa dipandang berjasa bagi proyek keselamatan manusia. Sehingga Yudas diakui sebagai manusia terpilih untuk melengkapi karya keselamatan Allah atas manusia. Bahkan ada yang mengatakan bahwa orang percaya patut berterima kasih kepadanya. Bahkan pernah seorang pendeta yang namanya cukup dikenal mengatakan bahwa Yudas tidak terbuang di neraka tetapi berada di surga, sebab ia dipakai oleh Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Pemikiran-pemikiran seperti ini adalah pemikiran yang salah dan menyesatkan.

Ada beberapa teks dalam Alkitab yang mengesankan bahwa Yudas memang terpilih untuk menjadi “pengkhianat.” Dalam Yohanes 6:70-71 tertulis: “Jawab Yesus kepada mereka: ‘Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis.’ Yang dimaksudkan-Nya ialah Yudas, anak Simon Iskariot; sebab dialah yang akan menyerahkan Yesus, dia seorang di antara kedua belas murid itu.” Pernyataan Tuhan ini dipahami oleh sebagian orang Kristen sebagai “penetapan Tuhan” bahwa Yudas adalah “Iblis” atau anak Iblis atau yang dikuasai oleh Iblis.

Harus diperhatikan dengan teliti bahwa kejadian atau peristiwa dalam Yohanes 6:70-71, terjadi pada waktu Tuhan Yesus belum menunjuk siapa yang akan menjadi pengkhianat. Yudas belum terbukti sebagai pengkhianat. Kalau Tuhan Yesus mengatakan bahwa salah satu dari murid Tuhan Yesus ada yang akan menjadi “Iblis,” karena memang telah dinubuatkan oleh kitab suci bahwa salah satu dari mereka yang makan sehidangan dengan Tuhan akan berkhianat terhadap-Nya (Mzm. 41:10). Dalam Kisah Rasul 1:16 Petrus juga menyatakan adanya pengkhianatan salah satu orang yang dekat dengan Tuhan Yesus, benar-benar telah dinubuatkan. Petrus menyebut nama Yudas sebagai pengkhianatnya, sebab kejadian pengkhianatan telah terjadi dan terbukti Yudaslah pelakunya. Petrus perlu menyatakan itu untuk menunjukkan bukti bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjikan oleh Allah dan yang telah dinubuatkan oleh Alkitab. Hal ini sangat dibutuhkan oleh manusia pada zaman itu yang memandang Yesus hanya seorang anak tukang kayu yang lahir dan hidup di tengah-tengah mereka. Dengan mengemukakan nubuatan tersebut, menunjukkan bahwa Yesus bukan manusia sembarangan, tetapi Dia adalah Mesias yang dijanjikan.