Untuk Meraih Kesucian
11 January 2020

Banyak hal yang Allah kerjakan untuk mendidik orang-orang yang dikasihi-Nya tanpa mereka mengerti. Sesuai Firman-Nya, jalan-jalan-Nya tidak terselami. Namun kemudian, tatkala melihat hasilnya, barulah kita tahu mengapa Allah mengerjakan semua ini. Dalam kisah Yusuf di Kitab Kejadian, Yusuf tidak akan menjadi orang kedua setelah Firaun di Kerajaan Mesir sebelum ia mengalami perlakuan-perlakuan yang tidak adil hingga masuk penjara. Daud tidak akan menjadi raja besar sebelum ia menjadi seorang pelarian. Demikian pula, bangsa Israel tidak akan menjadi bangsa yang besar sebelum mereka mengarungi sekolah atau pendidikan padang gurun yang luas. Melalui hal-hal tersebut, mereka dipersiapkan menghadapi bangsa Kanaan yang kuat dan selanjutnya mereka dapat membangun negara yang kuat.

Mengapa seseorang tidak menghayati kehadiran Allah? Itu karena mereka tidak hidup dalam kebenaran Firman Allah, sehingga mereka tidak mengalami pernyataan kehadiran dan kemuliaan-Nya. Allah tidak dapat berjalan dengan orang yang pakaian kehidupannya kotor. Bila terjadi demikian, Allah jelas tidak akan memercayakan perkara-perkara besar kepada orang yang tidak dapat dipercayai-Nya (Yes. 59). Kesucian haruslah diperjuangkan karena seseorang tidak akan dapat memiliki kesucian tanpa perjuangan. Kesucian hidup tidak dapat dimiliki orang percaya dengan sendirinya atau secara otomatis. Kesucian di sini maksudnya adalah kedewasaan rohani di mana seseorang memiliki pikiran dan perasaan Kristus, sehingga segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Level kesucian yang dicapai seseorang bukan hanya tergantung dari kasih karunia Allah melainkan juga sangat tergantung dari perjuangannya. Itulah sebabnya Yesus menyatakan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga harus berjuang (Luk. 13:24). Di bagian lain, Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Pilihan ini tentu juga berdasarkan respons seseorang terhadap anugerah-Nya. Sangat menyedihkan, banyak orang Kristen merasa sudah percaya kepada Yesus dan merasa memiliki kepastian selamat masuk Surga, tidak berjuang untuk mengambil bagian dalam kesucian Allah. Padahal dalam Matius 7:21-23, dinyatakan bahwa sekalipun seseorang sudah mengadakan banyak mukjizat tetapi kalau ia tidak melakukan kehendak Bapa atau hidup dalam kesucian, ia bisa ditolak oleh Allah. Percaya itu bukan hanya dalam pikiran, melainkan harus disertai dengan tindakan konkret. Tindakan tersebut adalah melakukan kehendak Allah.

Semua potensi yang Allah berikan haruslah digunakan untuk meraih kesucian. Perumpamaan talenta yang ditulis dalam Matius 25 sesungguhnya lebih dekat bertalian dengan hal kesucian atau kualitas hidup yang harus dicapai seseorang. Setiap orang percaya masing-masing mendapat kesempatan yang berbeda, tetapi seberapa banyak yang Allah berikan harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Kalau fasilitas yang Allah sediakan tidak digunakan secara bertanggung jawab, kesempatan itu akan hilang dan tidak ditemukan lagi.

Untuk mengalami pertumbuhan kesucian yang baik, seseorang harus memiliki kerinduan yang kuat untuk memahami semua yang Bapa kehendaki atas hidupnya untuk dilakukan dan rencana-Nya untuk digenapi. Kerinduan untuk melakukan kehendak Bapa inilah yang dimaksud haus dan lapar akan kebenaran (Mat. 5:6). Orang yang berkerinduan untuk mencapai kesucian yang menyukakan hati Bapa pasti dapat meraihnya. Dalam hal ini, ayat Firman Tuhan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah barulah berlaku. Tidak ada yang sulit kalau sudah dilakukan dan dibiasakan. Namun, hal itu akan menjadi sulit dan tidak mungkin bisa dilakukan kalau tidak pernah diusahakan untuk dilakukan dan dibiasakan. Hal ini akan menggerakkan orang percaya untuk memerhatikan langkahnya setiap detik, menit, dan jam. Oleh sebab itu, kalau orang percaya berbuat suatu kesalahan, ia harus segera memperbaiki diri. Selanjutnya, ia harus membiasakan diri untuk melakukan kehendak Allah tanpa memaksakan diri untuk itu, sehingga ia memiliki irama hidup dalam ketertundukan kepada Allah. Tanpa kesucian hidup, tidak seorang pun dapat mengalami Allah secara proporsional. Dengan demikian, hanya orang yang memiliki kesucian yang dapat secara terus-menerus mengalami dan merasakan kehadiran Allah.

Orang percaya harus selalu bersungguh-sungguh mencari Allah (1Taw. 16:11; Mzm. 27:8; Yes. 45:19; 55:6). Mencari Allah selama Ia berkenan ditemui menunjukkan bahwa ada saat dimana seseorang tidak lagi dapat menemui Allah.Ini berarti bahwaia akan terpisah dari Allah selama-lamanya. Oleh sebab itu, kesempatan yang tersedia hendaknya tidak disia-siakan. Kalau kesempatan ini tidak ada lagi, itu berarti menjadi bencana di atas segala bencana. Penyesalan orang yang tidak mencari Allah adalah ketika masih diberi kesempatan untuk mencari Allah, tidak akan bisa dilukiskan dengan cara apapun hari ini, tetapi suatu hari akan diekspresikan dengan “ratap tangis dan kertak gigi.”