Ukuran Hidup Kekal
22 August 2017

Dalam Lukas 18:18-19 termuat dialog antara Tuhan Yesus dengan seorang kaya. Orang kaya ini bertanya: “Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Orang kaya ini memperkarakan apakah kebaikan itu atau mengenai perbuatan manusia yang berkategori baik itu? Orang kaya ini percaya bahwa perbuatan yang baik akan menghasilkan kehidupan yang kekal. Hidup kekal bukan hanya semata-mata menunjuk kehidupan nanti di surga setelah mati, sebab pada umumnya orang tertumbuk pada kata “kekal”, asumsinya bahwa hanya di surga ada kekekalan. Padahal berbicara mengenai kekekalan bukan hanya di surga ada kekekalan, tetapi juga di neraka. Sesungguhnya hidup yang kekal berbicara mengenai hidup yang berkualitas atau hidup yang bermutu. Hidup kekal berbicara mengenai kebaikan yang ideal menurut Tuhan. Hidup kekal bukan hanya memuat pengertian panjangnya hidup, tetapi juga memuat dalamnya hidup atau kualitas hidup.

Tuhan mengemukakan kepada orang muda yang kaya, bahwa untuk memiliki suatu kehidupan yang berkualitas atau hidup kekal seseorang harus menuruti segala perintah Tuhan dalam Taurat-Nya. Tuhan Yesus berkata: “… Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah… Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Orang kaya tersebut mengaku bahwa dirinya sudah melakukan hukum-hukum Tuhan dengan baik. Mendengar ucapan pemuda yang kaya itu Tuhan Yesus tidak membantah. Ini berarti memang ia telah melakukan perintah Tuhan dengan baik. Ini juga berarti, bahwa di dunia ini sangat besar kemungkinan adanya orang-orang yang memang dapat melakukan perintah Allah atau hukum-hukum agama secara baik, atau mencapai kualitas kebaikan menurut hukum-hukum agama yang ada. Dengan demikian, ditinjau dari kehidupan umat Perjanjian Lama, ada orang-orang yang sudah berkategori memiliki hidup kekal atau hidup yang berkualitas.

Rupanya orang muda yang kaya ini merasa apa yang telah dilakukannya itu tidak cukup membuat dirinya telah mencapai hidup yang berkualitas. Itulah sebabnya orang muda yang kaya ini berkata kepada Tuhan Yesus, apalagi yang harus dilakukannya. Tuhan menjawab: “Jikalau kamu mau sempurna pergilah dan juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang miskin, lalu datanglah kepada-Ku”. Di sini ada hal yang harus kita perhatikan dengan serius, bahwa ada kebaikan nilai umum atau kebaikan nilai subyektif. Ini adalah kebaikan manusia. Tetapi di sisi lain ada kebaikan yang bernilai obyektif, mutlak dan ideal menurut perspektif Tuhan. Ini adalah kebaikan yang sempurna. Jika pemuda kaya tersebut bersedia melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, maka ia akan menjadi salah satu murid Tuhan Yesus. Tetapi sampai akhir Injil ditulis, nama pemuda kaya ini tidak pernah dikenal. Ia meninggalkan Tuhan dengan sedih dan tidak bersedia melakukan apa yang Tuhan perintahkan.

Ditinjau dari hukum Taurat pemuda kaya ini sudah benar, tetapi kalau ditinjau dari standar atau ukuran umat Perjanjian Baru, ia belum benar-benar benar. Belum benar-benar benar tidak dikaitkan dengan Allah yang memang sudah mutlak benar, tetapi dikaitkan dengan hukum atau norma manusia yang selama ini dianggap sudah benar, tetapi sebenarnya belum benar jika dibandingkan dengan standar hidup kekal ukuran umat Perjanjian Baru. Orang percaya dipanggil Tuhan untuk memiliki hidup kekal atau kehidupan berkualitas yang tidak didasarkan pada hukum Taurat atau hukum manapun, tetapi didasarkan pada kehendak Allah; sebab kehendak Allah adalah ukuran kebenaran atau kebaikan yang benar-benar benar. Hukum yang tertulis belumlah mewakili kehendak-Nya secara sempurna.