Tunai Dibayar
19 March 2020

Banyak orang Kristen yang mengalami pergumulan seperti pergumulan yang saya alami selama bertahun-tahun. Bertahun-tahun menjadi orang Kristen, tetapi merasa selalu gagal untuk menyenangkan hati Tuhan. Bertahun-tahun merindukan sebuah kehidupan yang sempurna, tetapi selalu gagal dan merasa tidak akan pernah bisa menjangkaunya. Sampai suatu hari, setelah sekian puluh tahun jatuh bangun, saya menemukan satu formula kehidupan yang mengubah hidup saya, walaupun masih harus terus berproses. Berangkat dari apa yang saya pahami mengenai kehidupan orang Kristen abad pertama, bagaimana Tuhan memisahkan mereka dari Yudaisme (agama Yahudi); Tuhan memisahkan mereka (cut off) secara drastis dari masyarakat yang fanatik dalam beragama. Tokoh-tokoh agama mereka berusaha memunahkan kekristenan dengan melakukan persekusi terhadap orang Kristen. Demikian juga orang percaya juga dipisahkan diri dunia secara drastis melalui aniaya yang dilakukan oleh kekaisaran Roma. Dengan aniaya tersebut, orang percaya terpisah dari kenikmatan hidup di dunia ini.

Saya percaya, format ini menjadi format penting yang dapat menjadi pola atau landasan hidup orang percaya sepanjang zaman. Pola itu adalah memutuskan hubungan dengan dunia. Istilah yang saya gunakan adalah “dhel” (cut off). Tentu landasan kebenaran untuk hal ini bukan hanya dari fakta sejarah ini, melainkan juga ayat-ayat Alkitab yang juga sangat mendukung. Bagaimana kita bisa membangun hidup kekristenan yang benar, untuk mencapai kehidupan yang semakin benar-benar sempurna, sehingga kita berkenan kepada Allah? Dalam 1 Korintus 6:19-20 tertulis bahwa Tuhan telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar. Kalimat “lunas dibayar” menunjukkan bahwa pembayaran tersebut bukan membayar secara bertahap seperti mengangsur, melainkan cash atau tunai. Ini berarti, dalam satu kali pembayaran secara de jure oleh Yesus dengan menebus kita, kita ini sudah lunas menjadi milik Allah. Berangkat dari konsep ini, kita juga harus berani bersikap bahwa kita adalah milik Tuhan yang sudah tidak lagi dimiliki dunia, bahkan tidak dimiliki oleh diri kita sendiri. Pembayarannya sudah lunas.

Dulu, saya berpikir bahwa Allah menolerir sikap saya, kalau saya dimiliki oleh Allah secara bertahap. Biasanya, kita menyebutkannya sebagai “proses.” Fakta kehidupan rohani yang kita jalani menunjukkan bahwa kita tidak pernah dimiliki oleh Allah secara bertahap. Sebaliknya, kita selalu memiliki diri kita sendiri. Sementara itu, kita membuka hidup kita terhadap banyak keinginan dunia, maka berarti kita selalu dimiliki oleh dunia ini. Sementara itu pula, di kedalaman hati kita ada jeritan: “Mengapa saya tidak bertumbuh secara signifikan sebagai anak-anak Allah? Mengapa saya tidak bertumbuh mencapai kesucian yang berarti?” Faktanya, memang masih banyak perasaan negatif yang menguasai kita; seperti kesombongan, mau menjadi berharga, mudah tersinggung, mudah kecewa, sukar menerima orang lain, mudah meledakkan kemarahan, dan lain sebagainya. Dalam daging, kita masih bisa merasakan keinginan-keinginan yang kadang-kadang mendesak untuk dipuaskan. Hal-hal ini menunjukkan bahwa kita merasa berhak atas diri kita sendiri. Padahal, secara tunai Yesus telah membeli kita.

Dalam Lukas 14:33, tertulis: “Tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Seseorang harus melepaskan diri dari segala miliknya, ia baru bisa menjadi murid. Dulu, saya berpikir bahwa melepaskan diri dari segala milik bisa kita lakukan secara bertahap. Hal ini didasarkan bahwa melepaskan diri dari segala milik bukan sesuatu yang mudah, dan faktanya kita sering gagal. Jadi, saya berpikir bahwa Allah menolerir kalau pelepasan diri dari segala milik bisa dilakukan secara bertahap. Sama seperti penjelasan di atas, hal ini membuat kita tidak pernah bisa memiliki kemajuan rohani yang berarti. Kita harus berani bertekad untuk membuat komitmen bahwa kita sudah meninggalkan dunia ini. Kita tidak memiliki apa pun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya. Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik Tuhan. Kesadaran ini harus dibangun dan diperbaharui setiap hari.

Penyerahan diri kepada Tuhan dan langkah meninggalkan dunia bukan secara bertahap. Penyerahan diri dan langkah meninggalkan dunia adalah komitmen sekali untuk selamanya. Selanjutnya, pergumulan kita adalah bagaimana memantapkan komitmen tersebut. Jadi, ibarat jumlah barang, kalau jumlahnya seratus yang kita harus serahkan, bukan setiap hari diangsur secara bertahap satu demi satu, melainkan sejumlah seratus dalam sekali penyerahan. Selanjutnya, kita harus terus dalam kesadaran bahwa kita sudah menyerahkan semua. Kita harus memperbaharui komitmen tersebut setiap hari. Kita harus selalu berkata kepada diri kita sendiri bahwa kita sudah tidak bermilik apa-apa, semua milik Tuhan. Dunia tidak berhak memiliki diri kita. Maka, semua yang kita ingini tidak boleh untuk kesukaan kita, tetapi untuk kesukaan Allah.