Tujuan Hidup Yang Benar
17 March 2020

Banyak orang berusaha membuktikan kebaikan Tuhan dengan cara atau model sendiri. Mereka berusaha untuk dapat membuktikan bahwa Tuhannya baik dengan bukti hidupnya dibuat tidak bermasalah, makmur, dan membanggakan. Mereka tidak mengenal Allah dengan baik. Untuk ini, perlu kita memerhatikan Ayub 42:2. Ayub berkata, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.” Rencana Tuhan tidak pernah gagal. Demi penggenapan rencana-Nya, Tuhan harus menggagalkan rencana-rencana Ayub. Ini sama dengan peristiwa Natal. Demi rencana keselamatan Allah, Allah Bapa menggagalkan rencana Maria. Masa depan dan cita-cita Maria menjadi berantakan dengan kehamilannya, sehingga rencana Allah digenapi.

Dalam hal ini, kita baru bisa mengerti apa yang dimaksud dengan: Rela kehilangan nyawa (Mat. 10:39). Kata “nyawa” di sini adalah psuke (jiwa). Dalam jiwa, ada keinginan dan hasrat. Mengikut Yesus harus menanggalkan hawa nafsu dan keinginannya (Gal. 5:24). Inilah penyangkalan diri yang benar. Penyangkalan diri bukan hanya sikap penolakan terhadap perbuatan-perbuatan yang dikategorikan sebagai dosa, melainkan kesediaan untuk tidak mengenakan naluri kemanusian atau hasrat manusia pada umumnya, kemudian melakukan kehendak Allah.

Ketika seseorang berusaha mencapai standar hidup seperti manusia lain, ia sedang mengejar sesuatu untuk kesenangan dirinya sendiri. Tentu saja, orang-orang seperti tidak berusaha mengerti kehendak Allah untuk dilakukan dan tidak berusaha menemukan rencana Allah untuk dipenuhi. Orang Kristen seperti ini sebenarnya percuma mengucapkan kalimat: “Datanglah kerajaan-Mu” dalam Doa Bapa Kami. Pada dasarnya, mereka hidup dan berjuang hanya untuk menghadirkan kerajaannya sendiri. Mereka tidak berusaha untuk “merealisasikan” kehendak Allah, tetapi hanya merealisasi kehendaknya sendiri. Mereka tidak memiliki Kerajaan Allah, sehingga suatu hari nanti tidak akan terhisab di dalam anggota keluarga Kerajaan Allah.

Banyak orang belum mengerti bagaimana merealisasikan kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah dengan baik itu, dan mereka tidak pernah mempersoalkan dengan serius, karena mereka tidak merasa perlu untuk mempersoalkannya. Bagi banyak orang, merealisasikan kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah adalah hal yang abstrak. Orang-orang seperti ini, kalau tidak bertobat dan merubah diri, tidak akan pernah mengalami bagaimana memiliki hidup yang benar, hidup yang berkualitas tinggi, dan hidup yang akan berkelanjutan di langit baru dan bumi baru. Hanya orang-orang yang hidup bagi Tuhan atau untuk kemuliaan Tuhan yang akan melanjutkan hidupnya di kekekalan.

Inilah faktanya, banyak orang yang hidup bagi diri sendiri. Rumus hidupnya adalah “selalu untukku.” Inilah orang-orang yang tidak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya. Selalu membuka mata untuk mengumbar keinginan, guna memperoleh sebanyak-banyaknya apa yang disediakan dunia yang juga dimiliki oleh orang lain. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak memiliki kasih akan Bapa. Mereka tidak mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budinya. Hal ini sangat berbahaya, sebab orang yang tidak mengasihi Tuhan adalah orang-orang yang terkutuk (1Kor. 16:22).

Mereka yang hidup dalam keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup adalah orang-orang yang tidak mengasihi Allah. Keinginan daging artinya kepuasan diri dalam dagingnya; keinginan mata artinya hasrat memiliki pemenuhan kebutuhan jasmani seperti yang orang lain miliki; dan keangkuhan mata adalah kehormatan yang diharapkan diberikan orang kepada dirinya. Kehormatan ini bisa dibeli dengan kekuasaan, pangkat, gelar, uang, penampilan, perhiasan, dan lain sebagainya. Di manakah posisi Anda hari ini? Jika tidak pada posisi yang benar, cepatlah berbalik dan bertobat.

Untuk dapat mewujudkan Firman Allah dalam 1 Korintus 10:31, yaitu “hidup untuk kemuliaan Allah atau hidup bagi Allah,” seseorang harus mulai mengenal kebenaran Tuhan bertalian dengan tujuan hidup manusia. Ia harus mengerti dan menerima dengan sukacita; bahwa hidup ini memang hanya untuk Penciptanya. Kita tidak boleh mengikuti pola hidup manusia pada umumnya, yaitu hidup untuk diri sendiri dan orang-orang yang mereka cintai secara terbatas. Mereka tidak mengerti rencana besar Allah menyelamatkan dunia ini. Sebenarnya, mereka menolak Doa Bapa kami: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Irama hidup mereka adalah “datanglah kerajaanku, jadilah kehendakku di mana pun dan kapan pun.” Ini adalah irama hidup yang diinginkan kuasa gelap untuk dimiliki manusia, sebab pikiran manusia yang bukan dari Allah adalah pikiran Iblis (Mat. 16:23). Adapun pikiran Allah akan membawa seseorang kepada tujuan hidup yang benar.