Tuhan Tidak Menetapkan
28 April 2019

Apakah benar kalau Allah memilih seseorang untuk pasti selamat masuk surga, maka ia tidak bisa menolak? Untuk menemukan jawaban dari pertanyaan ini, marilah dengan teliti dan jujur kita memeriksa Alkitab. Jika pikiran seseorang sudah dikuasai premis tertentu, maka ia tidak akan bisa lagi berpikir obyektif, dan Roh Kudus tidak akan bisa memperbaharui pikirannya secara proporsional. Kalau Tuhan membuat seseorang tidak bisa menolak anugerah-Nya, maka dapat dikatakan bahwa Tuhan juga menentukan orang-orang tertentu untuk tidak bisa menerima anugerah-Nya. Sebab bila kita berbicara mengenai kedaulatan Allah yang membuat orang tidak bisa menolak anugerah-Nya, maka pasti ada juga orang yang berkeadaan sebaliknya.

Tuhan memilih keluarga Lot untuk diselamatkan dari sekian banyak keluarga yang ada di kota Sodom Gomora dan Tuhan pasti menghendaki semua keluarga Lot untuk diselamatkan. Tetapi ternyata istri Lot tidak mematuhi nasihat malaikat agar tidak menoleh ke belakang. Sehingga karya keselamatan Allah atas istri Lot gagal. Mengapa? Apakah karena istri Lot tidak dapat menerima anugerah sementara anggota keluarga yang lain tidak bisa menolak anugerah Tuhan? Dalam percakapan antara Tuhan dan Abraham, mengenai rencana Tuhan membinasakan Sodom dan Gomora, Tuhan tidak menetapkan istri Lot binasa (Kej. 18:16-33). Bahkan malaikat yang diutus Tuhan menyelamatkan Lot dan keluarganya, mendesak Lot untuk mengajak kaumnya yang lain untuk diselamatkan (Kej. 19). Dengan demikian tidak mungkin Tuhan menetapkan istri Lot untuk binasa dan tidak mungkin pula istri Lot dibuat Tuhan untuk tidak bisa menerima anugerah keselamatan sementara anggota keluarga yang lain dibuat tidak bisa menolak anugerah-Nya.

Fakta ini penting bagi orang percaya di zaman Perjanjian Baru. Itulah sebabnya Tuhan Yesus memunculkan fakta ini dalam pengajaran-Nya (Luk. 17:32). Mengapa Tuhan Yesus menyebut istri Lot dalam pengajaran-Nya? Kalau kita memperhatikan ayat sebelum dan sesudahnya (Luk. 17:22-37), Tuhan Yesus sedang menunjukkan pola hidup manusia akhir zaman yang tidak memedulikan keselamatan jiwanya: Mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Mereka sibuk sendiri dan tidak memedulikan keselamatan. Seperti zaman Lot, mereka tidak menyadari hujan belerang dan api akan menimpa mereka. Mereka menolak diungsikan, walaupun Lot sudah memberitahu mereka akan datangnya penghukuman itu. Demikian pula dengan manusia hari ini, mereka menolak menerima keselamatan. Ingat! bukan karena dibuat tidak bisa menerima keselamatan atau anugerah, tetapi oleh karena pilihan mereka sendiri.

Hal yang sama juga terjadi pada zaman Nuh. Pada zaman Nuh orang sibuk makan dan minum, kawin dan dikawinkan sampai tidak memedulikan keselamatan. Dalam Alkitab Nuh disebut sebagai pemberita kebenaran (2Ptr. 2:5). Tentu Nuh sudah berusaha mengajak orang-orang untuk ikut “proyek penyelamatan” ini, tetapi ternyata tidak ada yang mau (1Ptr. 3:20). Dikatakan pula dalam 1 Petrus 3:20, bahwa Tuhan dengan sabar menantikan mereka untuk bertobat sementara Nuh membuat bahtera. Bertahun-tahun Nuh memberitakan kebenaran atau seruan pertobatan dan Tuhan dengan sabar menunggu mereka untuk mengubah hati agar ikut proyek keselamatan bersama Nuh, tetapi mereka tetap mengeraskan hati. Sehingga Tuhan membinasakan mereka semua.

Melalui peristiwa Sodom Gomora ini, Tuhan Yesus juga ingin menunjukkan pola hidup manusia akhir zaman seperti juga yang terjadi pada zaman Nuh (Luk. 17:26-27). Di mana orang-orang tidak memedulikan keselamatan jiwanya. Alkitab mencatat bahwa sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia: Mereka makan dan minum, mereka kawin dan dikawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera.Nuh memberitakan berita keselamatan, tetapi orang-orang itu menolak. Sementara Tuhan memberi kesempatan mereka untuk bertobat dan diselamatkan. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan serius berusaha menyelamatkan mereka, tetapi mereka menolak. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memang memiliki kesempatan untuk menolak anugerah masuk proyek bahtera. Sehingga ketika air bah datang maka mereka semua binasa. Kebinasaan itu bukan penentuan Tuhan, tetapi pilihan mereka. Kondisi manusia pada zaman Lot dan Nuh paralel dengan manusia menjelang kedatangan Tuhan Yesus nanti. Manusia mau menyelamatkan nyawa (psuke), mengumbar keinginan jiwanya yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Dalam hal ini keselamatan harus direspon oleh individu, sebab seseorang memiliki peluang untuk menerima atau menolak keselamatan. Kalau pada zaman Lot dan Nuh keselamatan berbicara mengenai keselamatan jasmani dari api dan air bah, tetapi pada zaman Perjanjian Baru keselamatan berorientasi pada keselamatan jiwa abadi, yaitu surga kekal atau neraka kekal.