Tindakan Konkret
22 April 2019

Kalau kita memperhatikan fakta dalam Alkitab, setiap tindakan Tuhan selalu diimbangi oleh respon manusia. Tuhan selalu menghendaki agar manusia merespon tindakan-Nya. Kalau kita berpendirian bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup manusia dikerjakan oleh Tuhan sendiri tanpa respon atau tindakan manusia, maka kehidupan ini menjadi fatalistik. Hidup menjadi tidak menarik karena tidak ada tantangan. Tidak ada pergumulan dalam arti yang riil, sebab manusia hanya menerima saja apa yang ditentukan oleh Tuhan baginya. Dengan demikian Tuhan menjadi penyebab segala sesuatu terjadi dalam hidup manusia, sehingga manusia tidak perlu bertanggung jawab.

Jika segala sesuatu terjadi hanya karena tindakan Tuhan, maka berarti realita hidup manusia adalah susunan cerita yang telah dikarang oleh seorang penyusun skenario. Tuhan dianggap sebagai sutradara yang menentukan alur cerita kehidupan manusia dari awal hingga akhir. Dan memang menurut sebagian orang Kristen, segala hal telah ditentukan dari semula. Jadi menurut mereka, Tuhan sudah menentukan siapa yang akan mengalami kelahiran baru dan yang tidak akan mengalami kelahiran baru. Ada yang ditentukan untuk selamat, dan pihak lain atau konsekuensinya ada yang binasa. Jika manusia hanya menerima nasib atau takdir yang telah dipersiapkan dan ditentukan baginya, adilkah ini? Apakah dengan cara yang sama kita diajar menyelenggarakan keadilan seperti itu? Tentu tidak. Manusia adalah gambar Tuhan, manusia diajaruntuk memiliki keadilan seperti keadilan-Nya.

Alkitab berulang-ulang menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bertanggungjawab. Manusia harus bertanggungjawab atas setiap tindakannya, dari ucapan, perilaku yang kelihatan, sampai sikap batinnya yang tidak terlihat. Firman Tuhan yang mengatakan agar kita mengoreksi diri dengan serius, “kalau-kalau jalan kita serong” adalah petunjuk yang sangat jelas bahwa manusia harus memberi respon terhadap panggilan Tuhan untuk hidup dalam kebenaran-Nya (Mzm. 139). Manusia adalah makhluk bebas (walau terbatas) yang tetap dituntut untuk merespon apa yang Tuhan tawarkan kepadanya. Hukum yang tidak dapat dibantah adalah bahwa apa yang ditabur seseorang, itu juga akan dituainya (Gal. 6:7). Fragmen yang dapat menjadi acuan kita mengenal kebenaran Tuhan adalah peristiwa jatuhnya manusia pertama ke dalam dosa. Tentu sangat gegabah kalau kita mengatakan bahwa Tuhan yang telah menyusun (set up) kejatuhan manusia tersebut. Ia bukan Allah yang kejam yang menyukai penderitaan manusia, tetapi manusia sendirilah yang telah memilih jalannya sesuai dengan kehendak bebas yang dimilikinya. Manusialah yang mengambil keputusan untuk memberontak dan sebagai akibatnya manusia itu harus menerima dan memikul hasil dari keputusannya.

Bila kita mengamati kehidupan Abraham yang menjadi teladan iman kita, di mana orang percaya pada masa kini diajar untuk memiliki iman seperti itu. Abraham memiliki respon yang positif dan kuat terhadap kehendak Allah (Kej. 15:6). Abraham, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah. Abraham disebut sebagai sahabat Tuhan dan imannya diperhitungkan sebagai kebenaran, setelah ia menunjukkan imannya dengan perbuatannya (Yak. 2:21-23). Dari langkahnya meninggalkan Ur-Kasdim sampai ia menaati perintah Tuhan untuk mengorbankan anaknya Ishak sebagai korban bakaran, tampak nyata responnya terhadap Tuhan. Kalau Abraham menolak meninggalkan Ur-Kasdim, ia tidak akan pernah menjadi nenek moyang umat pilihan Allah dan dinyatakan sebagai “bapa orang percaya”. Sejak Abraham keluar dari Ur-Kasdim sampai hari tuanya, di mana ia harus mengorbankan Ishak adalah rentetan pergumulan yang melaluinya iman Abraham disempurnakan. Respon itu bukan hanya satu tindakan saja dan dalam satu kali peristiwa, juga tidak sesaat saja. Respon haruslah tindakan terus menerus, yang menjadi sebuah akumulasi respon seseorang yang membawanya kepada tingkat percaya yang murni, seperti yang dimiliki Abraham.

Respon terhadap Tuhan juga bukan hanya sebuah persetujuan pikiran bahwa kita setuju dengan apa yang Tuhan katakan, tetapi respon adalah tindakan konkret yang menunjukkan percaya kepada-Nya. Apakah Abraham melakukan semua perintah dan kehendak Tuhan karena Dia yang menggerakkan Abraham, sehingga sekalipun Abraham tidak berminat melakukannya ia tetap akan melakukannya, sebab Tuhan menghendakinya demikian? Tentu tidak. Abraham memang memilih untuk taat. Itulah sebabnya ia disebut sebagai sahabat Allah. Ia bukan sahabat paksaan atau “sahabat buatan” karena terpaksa atau karena tekanan, tetapi dengan rela Abraham mau menjadi sahabat Tuhan dengan segala harga yang harus dibayar. Kalau Abraham menjadi sahabat Allah, semata-mata karena pilihan yang “dibuat atau ditentukan oleh Allah,” maka Abraham bukanlah sahabat sejati Allah.