Tidak Sama Dengan Dunia
28 February 2018

Orang-orang beragama seperti agama Yahudi (agama samawi), berkeyakinan dan menjalankan hidup keberagamaan dengan sistem, yaitu mereka harus melakukan hukum yang mereka yakini dari Allah. Dengan melakukan hukum itu maka mereka mendapat pahala atau upah. Jika tidak melakukan hukum, maka mereka akan dihukum. Ini adalah sistem keberagamaan yang ada pada agama-agama Samawi, seperti agama Yahudi. Itulah sebabnya mereka berusaha untuk hidup tidak bercacat dengan menuruti Taurat. Paulus pun sebelum mengenal Tuhan Yesus memiliki pola hidup keberagamaan seperti itu. Dalam kesaksiannya Paulus mengatakan: …disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

Injil memperkenalkan “jalan” yang berbeda dengan apa yang dipahami agama-agama samawi seperti agama Yahudi. Injil menunjukkan bahwa semua manusia telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya yang dikehendaki oleh Allah atas manusia bukan hanya menjadi baik sesuai dengan hukum. Tetapi harus seperti rancangan semula. Bahwa tidak ada jalan untuk menghindarkan manusia dari akibat kesalahannya selain dengan darah Yesus. Ini berarti darah domba tidak berarti sama sekali.

Pembenaran tidak dapat dilakukan dengan darah domba dan perbuatan baik. Oleh karenanya Paulus mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat dibenarkan dengan melakukan hukum Taurat. Darah domba hanya tindakan profetik dari darah yang dikehendaki oleh Allah. Dengan demkian jalan (sistem) agama harus ditinggalkan. Diteguhkan lagi dengan pernyataan Tuhan Yesus: Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Dalam tulisannya Paulus mematahkan pola pikir sistem keagamaan yang dimiliki bangsa Yahudi: Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah. Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Paulus menyatakan bahwa Abraham tidak memiliki sistem keberagamaan yang diagungkan oleh agama samawi seperti agama Yahudi ini, tetapi Abraham dapat dibenarkan bukan oleh karena perbuatan. Kata perbuatan yang dimaksud adalah perbuatan yang sesuai dengan hukum dalam sistem keberagamaan. Penting untuk menandaskan bahwa kata “perbuatan” (Yun. Ergon; ἔργον) dalam Roma 4:2 tidaklah sama dengan tindakan yang menghasilkan atau mengekspresikan iman.

Karena pengertian “perbuatan” disamakan dengan tindakan, maka banyak orang Kristen merasa dan memahami iman adalah aktivitas pikiran, sekadar sebuah persetujuan pikiran atau pengaminan akali. Mereka merasa sudah percaya Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan merasa berhak untuk dibenarkan, sehingga diselamatkan. Abraham tidak melakukan “perbuatan” sesuai dengan aturan hukum, tetapi Abraham memiliki tindakan yang menunjukkan imannya. Itulah sebabnya Yakobus dalam tulisannya mengatakan: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati… Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman… demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. Iman yang dimaksud Yakobus adalah persetujuan pikiran. Hal itu tidak cukup harus disertai dengan perbuatan. Dalam hal ini pengertian kata iman dalam Yakobus 2:17-26 ini tidak sama dengan pengertian kata iman dalam Roma 4:1-4.

Dengan penjelasan di atas, kita bisa memahami dengan benar maksud Firman Tuhan yang mengatakan bahwa manusia dapat dibenarkan oleh iman. Dibenarkan artinya dianggap dan diakui benar, semua dosa diampuni dan manusia diterima kembali oleh Allah. Tetapi iman yang membuat manusia dibenarkan adalah melakukan kehendak Allah. Seperti Abraham rela melakukan apa pun yang Allah kehendaki, juga seperti Tuhan Yesus yang taat sampai mati bahkan mati di kayu salib, demikianlah seharusnya kehidupan iman orang percaya. Oleh sebab itu hendaknya orang percaya tidak merasa sudah memiliki iman sebelum meneladani kehidupan Abraham dengan mengenakan kehidupan Tuhan Yesus. Inilah yang membuat warna hidup seseorang yang beriman dengan benar berbeda dengan mereka yang tidak beriman kepada Tuhan Yesus. Dengan demikian kesimpulan tegas yang harus ditarik adalah: kalau kehidupan orang Kristen sama dengan dunia ini, berarti ia belum atau tidak beriman. Ia belum memiliki iman. Berarti pula ia belum dibenarkan secara benar.