Tidak Diterima Oleh Lingkungannya
30 September 2017

Dalam pikiran banyak orang Kristen terdapat pandangan bahwa kalau menjadi Kristen yang sejati, maka di mana pun akan selalu mudah diterima orang, sehingga akan sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan. Mereka berpikir bahwa Tuhan Yesus mengajarkan demikian. Faktanya sebenarnya tidak. Tuhan Yesus mengatakan bahwa musuh orang bisa seisi rumahnya. Jangankan orang lain, seisi rumahnya pun bisa memusuhinya. Mengapa demikian? Sebab pengajaran yang diberikan oleh Tuhan Yesus di dalam Injil banyak yang bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh dunia. Kehidupan Tuhan Yesus sendiri adalah kehidupan yang dianggap bertentangan dengan kehidupan manusia di sekitarnya. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menyatakan pernyataan ini: Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus (Gal. 1:10). Orang yang menuruti Injil yang sejati bisa tidak diperkenan manusia.

Kehidupan orang percaya harus meneladani kehidupan Tuhan Yesus, tanpa kompromi dengan siapa pun. Dalam hal ini bisa terjadi benturan antara orang percaya yang sungguh-sungguh hendak mengikut jejak-Nya dengan orang-orang di sekitarnya. Selalu saja akan ditemukan benturan yang terjadi antara konsep hidup pengikut Yesus sejati dengan pengikut Yesus palsu dan orang-orang di luar Kristen. Tetapi yang paling menyakitkan justru dari orang-orang Kristen yang tidak memahami integritas sebagai pengikut Yesus. Mereka tidak memiliki integritas tersebut disebabkan karena mereka tidak mengenal Yesus yang sejati. Mereka mengenal Yesus fantasi yang tidak memiliki integritas Bapa di surga.

Perbedaan itu menyangkut berbagai aspek, seperti misalnya mengenai kesempurnaan. Orang Kristen yang memiliki Yesus fantasi berpikir bahwa orang Kristen hendaknya tidak terlalu fanatik atau ekstrem dalam kesucian hidup. Bagi mereka manusia di bumi tidak mungkin dapat sempurna. Mereka setuju untuk hidup baik melakukan hukum dan tidak merugikan sesama, tetapi kalau harus hidup dalam kesempurnaan seperti Bapa, mereka menganggapnya sebagai tidak realistis. Orang Kristen yang memiliki Yesus sejati yang merindukan dan terus berjuang untuk sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus dianggap sebagai kesombongan. Pada akhirnya orang Kristen yang memiliki Yesus yang sejati ini dianggap sebagai ancaman bagi mereka dengan Yesus fantasinya.

Orang Kristen dengan Yesus yang sejati mengarahkan hidupnya hanya untuk mewarisi Kerajaan Surga yang akan datang dan menetap di langit baru dan bumi yang baru. Mereka berusaha untuk dapat menghayati hidup kemusafirannya di bumi, bahwa hidup di bumi hanya menumpang. Hidup di bumi hanya untuk persiapan dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan dan layak menjadi mempelai Yesus. Sebaliknya, orang Kristen dengan Yesus fantasinya merasa cukup puas dengan menjadi orang baik yang dapat hidup dengan tenang menikmati semua fasilitas mereka miliki. Mereka merasa tidak terlalu perlu terobsesi dengan Kerajaan Surga dengan langit baru dan bumi baru. Mereka menganggap memikirkan kehidupan di langit baru bumi baru membangun abnormalitas kehidupan dan mengancam kesejahteraan hidup di bumi sekarang ini.

Mereka yang memiliki Yesus fantasi tanpa sadar memandang Yesus yang sejati, yang diajarkan Injil di dalam Alkitab Perjanjian Baru yang dikenal oleh orang Kristen yang benar, sebagai Yesus yang aneh. Mereka menuduh orang Kristen yang benar tersebut sebagai memiliki Yesus yang lain, padahal justru mereka yang tidak mengenal kebenaran tersebut yang memiliki “Yesus yang lain”. Sangat menyedihkan, banyak orang Kristen yang sebenarnya tersesat dengan Yesus fantasi mereka. Tetapi mereka tidak menyadarinya. Mereka sedang menjadi mangsa kuasa kegelapan.