Tidak Cukup Merespons Dengan Nalar
08 February 2020

Para teolog hendaknya tidak merasa sudah percaya kepada Yesus hanya karena dapat membuat tulisan dalam format-format definisi kalimat akademis yang dinalar—mengenai apa yang dimaksud dengan percaya atau beriman—dalam lembar-lembar karya ilmiah. Semuanya hanya sekadar berupa kajian teologi, jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi. Sebenarnya “disertasi yang sejati” adalah lembaran hari hidup kita setiap hari dan teruji di mata Allah. Untuk membuat karya ilmiah dalam bentuk tulisan, seseorang bisa menyontek atau melakukan plagiasi; tetapi untuk menggelar kehidupan, ia tidak bisa menyontek. Kita memiliki soal sendiri yang tidak bisa dilihat orang lain. Masing-masing kita mempunyai pergumulan sendiri untuk mewujudkan iman, yang juga tidak sama dengan orang lain. Sampai titik tertentu, barulah kita bisa dikatakan percaya atau beriman. Bahkan, kadang-kadang kita tidak dapat mengambil referensi dari kehidupan orang lain, sebab Tuhan secara khusus berurusan dengan kita dan mau melahirkan pengalaman-pengalaman istimewa yang tidak akan terjadi dalam kehidupan orang lain. Ini yang namanya transempiris.

Format-format definisi kalimat akademis yang dinalar dalam berbagai pokok ajaran sering dipandang sebagai solusi untuk menjalani hidup kekristenan. Seakan-akan dengan memahami pengajaran-pengajaran tersebut, seseorang dapat membangun kehidupan kristiani sesuai standar Alkitab. Padahal, sering kali pengajaran-pengajaran tersebut hanya untuk mengisi pikiran tanpa memiliki implikasi yang tegas dan jelas. Hal ini juga disebabkan nuansa teologi lebih cenderung pada keyakinan dalam pikiran, bukan pada tindakan yang harus dilakukan. Misalnya, kalau seorang pendeta mengatakan bahwa keselamatan ditentukan secara sepihak oleh Allah, manusia tidak memiliki peran dalam keselamatannya. Umat hanya merespons dengan nalar. Sehingga pengajaran seperti ini lemah dalam implikasi. Doktrin seperti ini mengandaskan kekristenan di Barat, sehingga gereja-gereja sangat sepi pengunjung. Nihilisme, sekulerisme, hedonisme, materialisme dan semua “isme dunia” mencengkeram dan menawan kehidupan manusia di Barat. Tuhan dianggap tidak ada atau tidak perlu ada lagi.

Fakta ini terjadi pula dalam kehidupan banyak orang Kristen di sekitar kita, yaitu umat mendapatkan penjelasan mengenai iman dari bangunan berpikir para teolog yang dibesarkan dalam tembok akademis. Dengan arogannya, para pengajar tersebut mengesankan bahwa teologi mereka sudah cukup menjadi jalan bagi seseorang untuk dapat menjalani hidup kekristenannya dengan benar. Tidak heran kalau sepak terjang para teolog tersebut di dunia media sosial dengan segala pernyataannya menunjukkan kualitas hidup mereka yang rendah, walaupun kepiawaian mereka berbicara tidak diragukan. Dari tulisan mereka di media sosial, terasa “hawa” kehidupan yang mereka jalani setiap hari. Tentu saja tulisan ini tidak ditujukan kepada individu, tetapi kepada semua orang di seluruh dunia. Hal ini dimaksudkan agar jemaat awam yang tidak bisa berkata-kata atau menalar Tuhan seperti para “teolog” tersebut, memiliki kepekaan untuk menimbang siapa yang patut didengar dan yang tidak.

Dalam gereja, banyak ajaran yang secara logika memang dapat membangun penalaran yang sistematis mengenai pokok-pokok ajaran Alkitab yang diakui sebagai kebenaran dan dapat dipertanggungjawabkan pula secara akademis. Tetapi pada kenyataannya, penjabaran mereka tidak memiliki “roh atau spirit” yang membangkitkan kehidupan keberimanan yang benar. Hal ini menciptakan manusia-manusia beragama Kristen yang tidak memiliki “Roh Kristus.” Bisa dimengerti kalau gereja-gereja seperti ini bisa memiliki liturgi yang rapi, tertib, dan hikmat, tetapi semua diselenggarakan secara seremonial yang “mati,” tidak bernuansa hadirat Allah yang benar. Liturgi yang tidak menghadirkan hadirat Allah akan menciptakan kebosanan dalam berliturgi, yang akhirnya membuat jemaat satu per satu akan meninggalkan gereja. Inilah yang membuat gereja-gereja di Eropa menjadi suam, bahkan bangkrut karena kondisi seperti ini.

Seseorang bisa berkata bahwa dirinya percaya kepada Allah, tetapi apakah Allah merasa dan mengakui bahwa diri-Nya dipercayai oleh orang tersebut? Seseorang bisa berkata percaya kepada Allah, tetapi jangan-jangan Allah menilai bahwa orang tersebut sebenarnya belum percaya kepada-Nya. Abraham disebut sahabat Allah dan dinyatakan sebagai bapa orang percaya ketika Abraham begitu tekun bertahan dalam segala keadaan untuk menaati Allah. Abraham melakukan apa pun yang Allah perintahkan. Sampai hal yang paling “konyol,” yaitu mempersembahkan anaknya, Ishak, di mana dia harus menyembelih dengan tangannya sendiri. Dia sudah tua dan tidak mungkin mempunyai anak lagi. Namun, Abraham tetap percaya kepada Allah untuk apa pun yang Allah perintahkan. Abraham tetap dengan tegar melakukan apa yang diperintahkan Allah kepada-Nya. Itu adalah penyerahan diri yang benar. Ini adalah level yang harus dicapai oleh setiap orang percaya untuk menjadi orang beriman.