Tidak Ada Lagi Milik Pribadi
21 February 2017

Masihkah kita ingat pada waktu kita masih anak-anak ketika belum memiliki banyak pengetahuan, kita sering mendengar orang berkata kepada orang lain: “Kamu seperti orang kaya yang punya bank”? Dari perkataan itu tergambar dalam pikiran kita bahwa uang di bank adalah milik satu orang. Tergambar dalam benak pikiran saya pada waktu itu bahwa presiden komisaris atau pemimpin tertinggi bank tersebut adalah orang yang memiliki semua uang dalam bank. Sekarang setelah dewasa kita tahu bahwa uang dalam suatu bank bukan milik satu dua orang, tetapi banyak orang yang memiliki uang yang disimpan atau diinvestasi di bank tersebut. Pemilik bank dan semua stafnya adalah pengelola uang milik masyarakat. Presiden komisaris dan beberapa shareholders memiliki sebagian saja. Salah kelola atau salah urus bisa berantakan, uang milik orang bisa ludes, lenyap. Bisa-bisa pemilik bank dan pemimpin-pemimpin pengelola bank tersebut masuk penjara.

Sekarang setelah menjadi pemimpin jemaat, sering saya mendengar orang memuji saya karena jumlah jemaat yang datang ke gereja yang saya gembalakan jumlahnya banyak, apalagi banyak orang kaya yang hadir di dalamnya. Saya sadar benar, bahwa semua jemaat yang hadir bukan milik saya sama sekali. Kalau seorang presiden komisaris suatu bank masih bisa memiliki saham pada bank tersebut, tetapi sebagai pelayan jemaat saya tidak memiliki saham sama sekali dalam kepemilikan atas setiap individu jemaat. Jemaat adalah milik Tuhan. Sebab Tuhan Yesus yang mati bagi mereka dan menebus mereka dengan harga yang lunas dibayar. Dalam gereja pemegang saham tunggalnya adalah Tuhan sendiri. Saya bukan “owner” (pemilik), tetapi hanya seorang “manager” (pengelola).

Semakin banyak jemaat yang datang ke gereja yang saya gembalakan, apalagi semakin banyak orang yang beruang di dalamnya, maka semakin sulit saya mengelola pekerjaan Tuhan ini. Semakin banyak yang diurus, maka semakin sulit mengurusnya. Semakin banyak orang kaya, maka semakin sukar mengubah mereka, sebab orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga. Tanggung jawab ini besar sekali, bila salah urus atau salah kelola jemaat Tuhan, akibatnya mengerikan sekali, yaitu kebinasaan banyak orang. Dalam hal ini tanggung jawab seorang pelayan jemaat sangat berat. Seorang pelayan jemaat seperti seorang suster yang mengasuh anak majikan yang harus diurusnya dengan baik sesuai dengan kehendak majikannya. Ia tidak boleh mencari keuntungan apa pun dari anak majikannya, kecuali anak majikannya menjadi sehat dan semakin dewasa.

Tuhan memercayakan jemaat kepada seorang pelayan Tuhan agar jemaat diurus melalui pembinaan rohani agar menjadi semakin kudus, seperti mempelai yang tidak bercacat dan tidak bercela sehingga layak masuk ke dalam Kerajaan Surga. Untuk ini semua orang yang terlibat dalam pelayanan harus berpikir bahwa jemaat bukan milik gembala jemaat, bukan milik perorangan. Hal ini dimaksudkan agar aktivis jemaat dapat mendukung proyek rohani ini, bukan hanya nimbrung ikut-ikutan dalam kegiatan gereja seperti seorang “penggembira”. Kalau dalam masa kampanye, mereka seperti orang yang hanya ikut-ikutan karena dibayar, tetapi tidak sungguh-sungguh mau loyal terhadap satu partai.

Semua aktivis gereja harus mengerti maksud tujuan pelayanan yang benar, bahwa pelayanan adalah mengubah manusia. Tanggung jawab pelayanan bukan hanya di pundak gembala sidang atau pemimpin jemaat, tetapi semua pelayan Tuhan yang turut mengambil bagian dalam pelayanan. Oleh sebab itu seorang aktivis jemaat harus menyadari betapa hebat tanggung jawab yang dirinya ikut pikul. Untuk itu seorang aktivis jemaat harus terlebih dahulu berubah dan selalu mengalami perubahan ke arah keserupaan dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa. Selanjutnya ikut berjuang mengubah orang lain. Dalam hal ini seorang aktivis jemaat atau pengerja gereja bukan saja bisa berbicara mengenai Firman, tetapi benar-benar dapat menjadi teladan. Hanya orang yang rela kehilangan segala miliknya yang dapat dibentuk seperti ini.

Kita semua harus sadar bahwa seluruh harta kekayaan kita adalah milik Tuhan. Sejak kita ditebus oleh darah Tuhan Yesus, maka segala sesuatu yang kita miliki adalah milik Tuhan. Kita tidak berhak sama sekali atas apa yang ada pada kita, bahkan seluruh komponen tubuh kita dan semua keberadaan kita. Oleh sebab itu kita tidak berhak menggunakan dan mengelolanya sesuka hati kita sendiri. Semua harus dalam kontrol atau kendali Roh Kudus. Jadi, sejak kita ditebus maka tidak ada personal belonging dalam hidup kita (Luk. 16:12). Suatu hari nanti, kita harus mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan atas semua yang ada pada kita. Apakah kita telah menggunakannya untuk kepentingan Tuhan, sesuai dengan kehendak-Nya, atau untuk kepentingan diri sendiri; untuk kesenangan dan kepuasan diri sendiri? Kehidupan yang benar dalam kehidupan aktivis gereja atau pengerja gereja harus dapat menjadi teladan bagi jemaat.