Terikat Dengan Tuhan
30 April 2018

Hidup beriman dalam Tuhan Yesus artinya hidup dalam persekutuan yang berkesinambungan. Persekutuan dengan Tuhan adalah persekutuan yang tidak terhenti, artinya tidak boleh ada jeda sama sekali. Roh Kudus dimateraikan di dalam diri kita, mengindikasikan bahwa persekutuan dengan Tuhan adalah persekutuan terus menerus yang berlangsung di sepanjang waktu, di segala tempat, dan dalam keadaan apa pun dan bagaimanapun. Kesadaran ini harus mencengkeram jiwa kita, agar kita bisa menghayati kehadiran Tuhan setiap saat, di segala tempat dan dalam segala keadaan. Inilah yang dimaksud hidup di hadirat Tuhan. Hal ini menjadikan kesukaan dan kebahagiaan hidup yang tiada tara. Semua orang percaya memiliki kesempatan dan anugerah untuk mengalaminya. Dalam hal ini, kita dapat membuktikan pemenuhan janji Tuhan Yesus, bahwa ia menyertai kita sampai kesudahan zaman. Keterikatan dengan Tuhan dalam persekutuan yang indah bukan hanya ketika ada dalam ruangan kebaktian.

Keterikatan dengan Tuhan berkonsekuensi, yaitu kita tidak boleh terikat dengan dunia. Terikat dengan dunia artinya memiliki suasana hati yang kebahagiaan dan kesenangannya ditentukan atau hanya dipengaruhi oleh fasilitas dunia, dari kekayaan sampai keadaan nyaman. Orang-orang seperti ini pasti bertuankan mamon. Tuhan Yesus mengatakan dengan tegas, bahwa orang percaya tidak boleh memiliki dua tuan. Hanya boleh satu saja. Ini berarti keterikatan orang percaya harus dengan Tuhan atau tidak sama sekali. Dalam hal ini Tuhan tidak mau berbagi atau dibagi dengan yang lain.

Takhta hati kita dalam keterikatannya dengan obyek tertentu harus hanya diperuntukkan bagi Tuhan. Keterikatan dengan Tuhan harus keterikatan setiap saat dan dei setiap tempat, bukan hanya pada waktu ada di dalam ruangan gereja. Ketidakterikatan dengan dunia -bukan karena kita tidak ada di dalam gereja- harus berlaku di segala tempat dan di sepanjang waktu hidup kita. Walaupun seseorang memiliki kesempatan untuk terikat dengan sesuatu, tetapi ia harus menolaknya, maka berarti ia serius untuk tidak terikat dengan ikatan lain selain dengan Tuhan.

Sebagaimana kita tidak boleh terikat dengan Tuhan hanya pada waktu di gereja, demikian pula kita tidak boleh tidak terikat dengan dunia hanya pada waktu di kebaktian. Ketidakterikatan dengan dunia bukan karena kita tidak menjadi pengusaha, kemudian menjadi full timer gereja atau seorang pendeta. Harus dicatat, bahwa seorang pendeta belum tentu tidak terikat dengan dunia. Yudas selalu bersama-sama dengan Yesus, tetapi ternyata hidupnya terikat dengan dunia, dalam hal ini terikat dengan uang. Sehingga ia tidak jujur, bahkan mengkhianati Tuhan dan gurunya.

Ada orang-orang yang mau terus dalam persekutuan dengan Tuhan, dan hendak memiliki hubungan yang khusus dengan Tuhan, maka ia melakukannya dengan cara meninggalkan pekerjaan sekuler rajin datang kebaktian, supaya lebih sempurna lagi ia menjadi pendeta. Ini konsep yang salah. Konsep agama-agama kafir. Untuk menjadi orang suci dan tidak terikat dengan dunia, seseorang harus meninggalkan kesibukan dunia, menyepi ketempat-tempat tertentu, untuk dapat menyatu dengan Tuhan. Demikianlah konsep banyak agama, di mana mereka yang meninggalkan kesibukan hidup dianggap lebih suci dari orang-orang yang sibuk dalam pekerjaan. Mau menyatu dengan Tuhan harus menyingkir ke tempat sunyi adalah konsep yang salah.

Bagaimana seseorang dapat dikatakan perenang hebat, kalau hanya berenang di bak kamar mandi? Bagaimana Anda dapat terbukti sebagai suami yang setia, kalau tidak pernah bertemu dengan wanita cantik dan berbagai godaan untuk selingkuh? Bagaimana seseorang dapat membuktikan sebagai orang yang mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu, jika kita tidak pernah berkesempatan meraih kenikmatan dunia, gelar, kekuasaan, nama besar, nama baik yang dapat kita raih?

Tuhan memberi peluang untuk kita dapat terhindar dari segala keterikatan, tetapi apakah kita mau mengusahakannya? Apakah kita berani seperti Lot yang tidak menoleh ke belakang, sekalipun ia kehilangan semua hartanya di Sodom? Apakah kita mau barter seperti perumpamaan dalam Matius 13:44-46, menjual segala milik untuk membeli sebidang tanah atau mutiara yang berharga? Ini masalah hati, atau batin. Bukan masalah fisik atau apa yang kelihatan di mata manusia. Bagaimana dapat dikatakan puasa, kalau anda ada di sebuah gurun pasir yang memang tidak ada makanan dan minuman? Kekristenan memuaskan hati Tuhan jika orang percaya dapat menjadi satu Roh dalam keterikatan yang eksklusif dengan Dia. Ini sebuah harta yang lebih dari segala kekayaan dan harta yang dapat kita miliki. Ini lebih dari pangkat awam atau pendeta. Itulah sebabnya Kekristenan tidak hanya bagian dari hidup kita, tetapi seluruh kehidupan kita.