Sudah Ada Dalam Perlindungan-Nya
18 March 2020

Kalau kita teliti memerhatikan fenomena kehidupan orang Kristen dewasa ini, kita dapat menemukan adanya penyesatan yang benar-benar merusak dan mematikan kehidupan iman. Penyesatan tersebut berupa ajaran yang mengesankan bahwa orang percaya berhak memiliki kepentingan sendiri dalam hidup ini. Oleh karenanya, mereka merasa berhak menuntut Tuhan melakukan sesuatu bagi diri mereka, yaitu menuntut sesuatu yang dirasakan sebagai suatu kebutuhan. Ajaran seperti ini sangat kuat diajarkan kepada jemaat. Bagi mereka yang belum dewasa dan belum memahami tujuan hidup—bahwa tujuan hidup kita adalah Tuhan dan Kerajaan-Nya, dan bahwa kita tercipta hanya untuk Tuhan—mereka menjadikan kepentingannya sendiri sebagai tujuan hidup. Tentu mereka tidak akan memedulikan kepentingan Tuhan sama sekali. Mereka tidak tahu apa yang dimaksud hidup untuk kemuliaan Allah.

Banyak pemahaman yang berbeda-beda mengenai apakah yang dimaksud hidup untuk kemuliaan Allah. Di antara pemahaman-pemahan tersebut, antara lain bahwa kalau seseorang sudah menyanyi, memuji-muji nama Tuhan di gereja, berarti sudah memuliakan Allah. Membuat maju pekerjaan Tuhan dengan menambah jumlah jemaat, membangun rumah ibadah, berarti sudah memuliakan Allah. Padahal, semua itu belum menjawab apa yang dimaksud dengan hidup untuk kemuliaan Allah. Hidup untuk kemuliaan Allah adalah menyerahkan segenap hidup untuk kesukaan hati Bapa. Ini berarti segala sesuatu yang kita lakukan bertujuan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan.

Banyak orang hidup hanya untuk memiliki sebuah kehidupan seperti yang dikehendaki atau yang diinginkan. Sedangkan, ukuran hidup yang diinginkan adalah gaya hidup manusia di sekitarnya. Sebuah gaya hidup yang jauh dari standar yang Tuhan inginkan. Standar hidup yang dimiliki biasanya antara lain: sekolah, kuliah, berpendidikan dan bergelar, mencari nafkah, menemukan pasangan hidup, punya anak, membesarkan anak, mencari menantu, menjaga cucu, dan lain sebagainya. Jadi, banyak orang menjalani hari hidup hanya untuk sebuah standar hidup ini. Standar hidup yang telah diraih, diperjuangkan mati-matian tanpa batas. Inilah yang Paulus maksudkan dengan makan dan minum, besok kita mati (1Kor. 15:32).

Untuk mempertahankan eksistensi kehidupan seperti manusia pada umumnya, seseorang menjadi orang beragama untuk berurusan dengan Tuhan. Tuhan sebagai andalan untuk meraih standar hidup tersebut. Orang-orang seperti ini berurusan dengan Tuhan bukan karena urusan Tuhan, bukan untuk kemuliaan Tuhan, melainkan urusannya sendiri; kemuliaan sendiri. Dan banyak orang yang mengaku hamba Tuhan malah mendukung pengertian yang salah ini. Cara beragama seperti ini sudah jadi ukuran umum atau standar yang benar menurut banyak orang. Kebanyakan orang Kristen pun juga demikian adanya. Pengajaran yang salah makin merajalela. Pola pikir yang salah makin tertanam di hati dan pikiran banyak orang Kristen hari ini. Inilah yang membuat banyak orang Kristen gugur dalam menghadapi pengaruh dunia yang semakin fasik.

Kalau pengertian yang salah ini ada pada orang yang masih baru menjadi Kristen, hal ini cukup dimengerti dan ditolerir; tetapi kalau seseorang sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen, cara berpikir yang salah ini sungguh-sungguh menyedihkan hati Tuhan. Tuhan mau meningkatkan kualitas hidup orang percaya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, tetapi ia mengajak Tuhan masuk bisnis atau urusannya sendiri, tanpa mengerti rencana Tuhan. Banyak orang mencoba menggunakan atau memanfaatkan Tuhan untuk memberi kemuliaan kepada diri mereka sendiri. Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Kamu mencari Aku bukan karena melihat tanda itu, tetapi karena kamu telah makan roti sehingga kenyang” (Yoh. 6:26). Jadi, pernyataan Yesus tersebut berarti mereka lebih “mementingkan perut” daripada rencana Tuhan. Tuhan datang untuk memberi hidup-Nya, agar hidup-Nya diteladani atau dikenakan, tetapi mereka masih mempertahankan hidup mereka sendiri untuk kepuasan daging mereka. Ternyata banyak orang Kristen masih memiliki taraf hidup seperti ini.

Biasanya, orang-orang seperti tersebut di atas selalu minta perlindungan Tuhan atas hidupnya, dengan berharap agar dirinya dan keluarganya dijauhkan dari apa yang merusak kesejahteraan hidup. Bagi mereka, segala sesuatu yang merusak cita-cita dan keinginan adalah malapetaka. Sebab, menurut mereka “malapetaka” mengurangi kualitas hidupnya. Biasanya orang seperti ini menggunakan Tuhan untuk mempertahankan keberadaan kehidupnya yang nyaman dan meningkatkan seperti yang dicita-citakan. Padahal, anak-anak Allah yang benar tidak perlu berharap perlindungan Tuhan, sebab Tuhan sudah dan sedang melindungi. Orang percaya yang benar dan sudah dewasa tidak memiliki keraguan sedikit pun terhadap penyertaan Allah.