Standar Yang Harus Dikenakan
24 March 2020

Jalan yang harus dilakukan untuk menemukan kebebasan dari jerat dunia yang membinasakan adalah datang ke padang rumput yang hijau (Yoh. 10:1-5). Padang rumput hijau ini adalah rumput khusus yang hanya diberikan oleh Tuhan Yesus. Ini bukan rumput versi manusia, melainkan rumput versi Tuhan. Untuk bisa menemukan padang rumput tersebut, seseorang harus bisa mendengar suara Gembala dan mengikuti jejak Gembala (Yoh. 10:4-5). Domba yang hilang adalah domba yang memiliki rumput sendiri dan menikmatinya. Dalam hal ini, jemaat harus berhati-hati terhadap orang-orang yang menawarkan rumput yang palsu.

Sungguh sangat menyedihkan, kalau ternyata ada usaha banyak orang Kristen yang menarik Tuhan untuk menuntun mereka ke padang rumput lain, bukan padang rumput Tuhan. Lebih celaka lagi, tidak sedikit orang yang mengaku “hamba Tuhan” tidak menuntun domba-domba Tuhan ke padang rumput-Nya. Mereka menunjukkan padang rumput lain seolah-olah padang rumput Tuhan. Itu padang rumput palsu. Inilah fenomena hari ini, banyak orang Kristen yang diajarkan kelimpahan yang salah sehingga pengajaran itu makin membawa banyak orang Kristen kepada jerat yang makin kuat, yaitu jerat mencintai dunia, hidup dengan gaya hidup anak-anak dunia yang akan binasa. Kelimpahan yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes 10:10 diartikan “banyak” dalam arti “materi.” Memang hal ini akan menyedot banyak orang mengunjungi gereja yang mengajarkan rumput yang palsu tersebut, tetapi ini adalah penyesatan.

Orang percaya harus dibawa kepada apa yang diajarkan Tuhan Yesus yang tertulis dalam keempat Injil dan tulisan rasul-rasul. Orang percaya tidak boleh dibawa kepada ayat-ayat Alkitab Perjanjian lama tanpa mengerti makna esensinya, dan menelannya secara harfiah. Ayat-ayat Perjanjian Lama, pada umumnya bernuansa umat Perjanjian Lama yang fokus hidupnya belum Kerajaan Surga, melainkan kerajaan dunia. Fokus mereka adalah pemenuhan kebutuhan jasmani, bukan Kerajaan Surga atau perkara-perkara yang di atas. Kalau orang Kristen mengenakan ayat-ayat Perjanjian Lama secara harfiah, maka belum tampak paradoknya dengan kehidupan anak-anak dunia, sebab pada dasarnya standar agama atau moral Perjanjian Lama adalah standar agama-agama pada umumnya. Sedangkan, standar yang dikehendaki Bapa adalah kehidupan Tuhan Yesus Kristus. Standarnya adalah melakukan kehendak Bapa.

Kita harus memeriksa diri sendiri apakah kita telah melakukan kehendak Bapa atau tidak. Hal ini membutuhkan atau menuntut selain kejujuran, juga kerja keras. Pertanyaannya: “Seberapa sulitnya sehingga seseorang harus bekerja keras untuk itu?” Melakukan kehendak Bapa bukan sesuatu yang sederhana. Melakukan kehendak Bapa menyangkut dua hal:

Pertama, menjalani hidup pribadi sesuai dengan kebenaran Firman Allah. Dalam hal ini, sikap hati harus benar dan terwujud dalam tindakan-tindakan konkret yang akan membuat seseorang layak masuk Kerajaan Surga. Sikap hati yang benar yang terwujud dalam tindakan ini akan dirasakan oleh orang lain di sekitarnya.

Kedua, menemukan apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup pribadi dalam keterlibatan menyelamatkan orang lain untuk masuk Kerajaan Surga. Dalam hal ini, setiap orang pasti memiliki sesuatu yang istimewa yang Tuhan taruh dalam hidupnya, sehingga ia juga memiliki tempat dalam rencana Tuhan bagi proyek penyelamatan umat manusia.

Melakukan kehendak Bapa merupakan prestasi di kekekalan. Ketika kita menghadap takhta pengadilan Kristus (2Kor. 5:10), yang dipersoalkan adalah seberapa benar sikap hati kita yang terwujud dalam tindakan konkret, dan seberapa jauh kita telah turut menggenapi rencana Tuhan dalam proyek penyelamatan umat manusia dalam Yesus Kristus. Melakukan kehendak Bapa membutuhkan kerja keras, sebab untuk mengerti kebenaran Firman Allah yang diajarkan Alkitab, kita harus meninggalkan atau melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia (Luk. 16:11), bekerja keras mengejar pengetahuan yang benar mengenai Firman-Nya sampai kita bersedia melakukan Firman-Nya.

Ketika seseorang harus terlibat dalam menggenapi rencana Tuhan, ia harus rela kehilangan segala haknya. Hidupnya telah berubah fokus, dari fokus kepada diri sendiri, sekarang terfokus kepada keselamatan jiwa-jiwa. Irama hidup ini bertentangan dengan naluri manusiawi yang memang kodratnya adalah egois, mau dihormati, dihargai, disanjung, dianggap penting, diutamakan, dan memerintah orang lain. Ketika seseorang belajar meninggalkan naluri manusiawinya, ia akan merasakan suatu “duri” yang menyakitkan. Kalau seseorang bersedia bertahan terus, “duri” tersebut menjadi keindahan dan kenikmatan dalam hidupnya, sebab itulah salib yang harus dipikul.