Siapkah Saudara Menghadap Bapa
01 February 2017

Sesungguhnya satu hal yang paling mendesak dalam hidup Saudara sekarang ini adalah seandainya Saudara sekarang ini meninggal dunia, apakah Saudara sudah berkeadaan berkenan kepada Tuhan? Apakah Saudara pasti diterima masuk dalam anggota keluarga Kerajaan Surga atau tidak? Ini adalah masalah yang bukan saja sangat penting, tetapi sangat mendesak dan selalu harus dipandang sebagai sangat penting dan sangat mendesak. Kalau ada hal lain yang Saudara anggap lebih penting dan mendesak, maka hal ini pasti akan Saudara sisihkan dan abaikan, sehingga Saudara tidak memperkarakannya dengan serius. Hal inilah yang tengah diupayakan oleh kuasa kegelapan, yaitu menghujani seseorang dengan berbagai kesenangan, kesibukan, cita-cita dan obsesi. Selain itu juga terdapat pemikiran bahwa hal surga dan neraka hendaknya tidak perlu dipikirkan sekarang. Mereka berpikir selalu masih ada kesempatan, sehingga masih bisa ditunda.

Dengan tenang dan sejahtera mereka menunda untuk hidup sesuai dengan kehendak Bapa, sebab yang ada dalam pemikiran mereka adalah:
Mereka tidak bermaksud untuk berkhianat kepada Tuhan dan tidak mengingini neraka.
Mereka berpikir bahwa Tuhan pasti akan memaklumi dan menolerir keadaan mereka yang belum berkenan kepada-Nya, sebab kehidupan di dunia memang berat dijalani untuk hidup dalam kesucian Allah.
Yang penting mereka tidak menjadi orang jahat dan tetap menjadi Kristen serta pergi ke gereja. Mereka tidak mengerti atau tidak mau mengerti bahwa menjadi Kristen harus sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Menjadi manusia baik bukanlah tujuan keselamatan. Tanpa keselamatan dalam Yesus Kristus pun orang bisa memiliki moral atau mental yang baik.
Mereka tidak sadar bahwa penundaan akan berujung kepada keadaan tidak mampu lagi bertobat dan berubah lagi.

Kuasa kegelapan menipu seseorang dengan pemikiran bahwa sekarang ini, selama masih di dunia dan belum menghadap takhta pengadilan Allah, maka seseorang belum bisa mengetahui dengan pasti apakah dirinya ditolak atau diterima oleh Allah. Itulah sebabnya mereka berpikir tidak perlu mempersoalkannya dulu. Pemikiran atau anggapan ini sungguh-sungguh sangat menyesatkan. Dengan pemikiran tersebut seseorang menjadi ceroboh. Dirinya membuka celah bagi Iblis untuk menguasai hidupnya sampai pada taraf tidak dapat diubah lagi. Sebab sementara dirinya menunda bergumul menjadi seorang yang berkenan kepada Bapa dengan melakukan kehendak Bapa, maka pola pikir dan gaya hidup anak dunia mencengkeram dirinya semakin kuat sampai tidak akan dapat terlepas lagi.

Hendaknya Saudara tidak berpikir bahwa hal diterima atau ditolak Allah tidak bisa dipersoalkan sejak hari ini, seakan-akan Allah menyembunyikan hal tersebut. Jika seseorang beranggapan bahwa Allah sekarang ini (sejak manusia masih hidup) sengaja menyembunyikan kepastian diterima atau ditolak oleh Dia, berarti ia menuduh Allah sebagai Allah yang jahat dan licik. Sejak masih hidup (belum meninggal dunia dan belum menghadap takhta pengadilan Allah), seseorang dapat mengetahui dengan pasti keadaannya kalau meninggal dunia saat ini, apakah ia diterima atau ditolak oleh Allah. Itulah sebabnya Tuhan menghendaki agar setiap orang menguji dirinya dan mohon Tuhan membuka pikirannya untuk mengetahui apakah jalannya serong (2Kor. 13:5; Ef. 5:10; Mzm. 139).

Kalau Saudara bertanya bagaimana kita tahu sekarang ini bahwa kita pasti diterima atau ditolak oleh Allah, maka ukurannya adalah apakah seseorang sudah melakukan kehendak Bapa atau belum. Menjawab pertanyaan ini seseorang harus berjuang mengenal kebenaran, sebab dengan mengenal kebenaran seseorang akan memiliki kecerdasan roh untuk mengerti kehendak Bapa, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna. Selama seseorang belum menemukan dengan pasti bahwa dirinya sudah melakukan kehendak Bapa, ia harus terus berjuang untuk mencapai perkenanan Bapa. Di sini seseorang akan mengerti apa yang dimaksud Alkitab sebagai haus dan lapar akan kebenaran. Tuhan pasti memuaskannya. Perjuangan ini adalah perjuangan seumur hidup, sampai menutup mata. Bagi umat pilihan, hidup di bumi ini sesungguhnya hanya untuk mencapai satu hal saja, yaitu perkenanan Bapa.

Saudara harus berpikir bahwa kemungkinan atau posibilitas untuk ditolak selalu ada, sampai seseorang benar-benar mengalami dan menyadari bahwa dalam hidup kesehariannya selalu melakukan kehendak Bapa. Roh Kudus pasti menolong seseorang untuk mengenali keadaan dirinya menurut penilaian Bapa. Dari pergumulan untuk mengetahui apakah dirinya sudah melakukan kehendak Bapa atau belum, sudah mencapai perkenanan Bapa atau belum, seseorang akan mengalami perjumpaan dengan Tuhan terus menerus secara luar biasa. Inilah sesungguhnya proses menjadi murid Tuhan Yesus. Tuhan Yesus sendiri yang memuridkannya melalui Roh Kudus. Seakan-akan Tuhan Yesus mau berkata: “Seperti Aku telah lulus, hidup dalam perkenanan Bapa, Aku dapat mengajar kamu mencapai hal ini sehingga kamu siap menghadap Bapa.”