Segala Sesuatu Mungkin Bagi Allah
22 March 2017

Anggota keluarga Kerajaan adalah orang-orang yang harus memiliki kebenaran lebih dari tokoh-tokoh agama manapun. Tuhan Yesus menyatakan: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga (Mat. 5:20). Kata hidup keagamaan dalam teks aslinya adalah dikaiosune (δικαιοσύνη). Kata dikaiosune ini lebih tepat diterjemahkan righteousness (kebenaran). Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang bertalian dengan sikap atau tingkah laku, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, yaitu sikap hati, sikap batin dan pola berpikir. Itulah sebabnya dalam Matius 5:17-48 Tuhan Yesus membandingkan standar hukum yang berlaku secara umum seperti berzina, membunuh, sumpah dan lain sebagainya, dengan standar hukum bagi umat pilihan. Standar hukum bagi umat pilihan sangat tinggi, jauh lebih tinggi dari standar hukum secara umum.

Dalam hal tersebut Tuhan memanggil orang percaya untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Kelakuan tokoh-tokoh agama yang baik sekalipun belumlah dapat membawa seseorang layak masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan. Ini sungguh satu hal yang sangat sensasionil pada zamannya. Tetapi Tuhan Yesus menyatakannya dengan tegas. Kemudian Tuhan Yesus mengakhiri dengan pernyataan: Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna.” (Mat. 5:48). Dalam hal ini sangat jelas bahwa Kekristenan adalah jalan hidup bukan berdasarkan hukum, tetapi berdasarkan pikiran dan perasaan Allah sendiri. Itulah sebabnya Kekristenan tidak dapat dibandingkan dengan kepercayaan, agama atau aliran filsafat manapun.

Terkait dengan hal ini perlu kita menyoroti kisah dalam Matius 19:16-21. Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.»

Kalau hanya perbuatan baik, maka tidak cukup menjadi anggota keluarga Kerajaan. Memang dengan kebaikan secara moral berdasarkan hukum yang dimiliki, orang kaya ini sudah memiliki hidup yang kekal dalam kualitas menjadi anggota masyarakat Kerajaan Surga, tetapi belumlah pantas menjadi anak Allah. Untuk memiliki hidup kekal dalam kualitas tinggi atau sempurna sebagai anak Allah, seseorang harus melepaskan semua ikatan dunia dan hidup meneladani Tuhan Yesus yang akhirnya dapat memiliki karakter-Nya. Hanya orang yang memiliki karakter Tuhan Yesus yang layak disebut anak Allah.

Dalam ayat-ayat selanjutnya (Mat. 19:22-30) tercatat orang kaya tersebut tidak mau mengikut Tuhan Yesus karena hartanya banyak. Monster pria itu sudah terlalu kuat, sehingga tidak mampu lagi menuruti ajaran Injil Kerajaan Surga. Murid-murid Tuhan Yesus pun berkata satu dengan yang lain “Jika demikian siapa yang dapat diselamatkan.” Hal ini menunjukkan bahwa sangatlah sukar masuk Kerajaan Surga sebagai anggota keluarga-Nya. Tuhan Yesus mengatakan bahwa “bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Terkait dengan hal ini, Rasul Paulus dalam tulisannya mengatakan:. “… celaka aku dengan tubuh maut ini” (Rm. 7:21-23). Ada keputusasaan menghadapi keinginan daging atas tubuh mautnya. Tetapi kemudian ia bersyukur kepada Tuhan Yesus yang dapat membebaskannya dari tubuh maut. Ini menunjukkan bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Dalam hal tersebut harus ada respon dari manusia, seperti seekor unta yang rela menanggalkan semua tunggangan di punggungnya dan asesoris di kepalanya, kemudian jongkok agar bisa masuk lubang jarum (pintu yang hanya cukup seekor unta masuk kalau jongkok), sebab ada yang akan mendorongnya.

Tuhan tahu betapa tidak mudahnya membunuh monster di dalam diri kita, tetapi kalau kita bersedia menanggalkan semua kesenangan dunia maka Tuhan akan menuntun kita untuk bisa mengenakan karakter-Nya. Ini berarti mematikan monster. Sayang orang kaya dalam Matius 19 tersebut menolak, sehingga gagal menjadi anak Allah, sebab ia tidak bersedia melepaskan ikatan dirinya dengan kekayaan. Hal ini membuat monster hidupnya tidak pernah dapat dimatikan dan digantikan kehidupan anak Allah.