Secara Tunai Dalam Komitmen
20 March 2020

Dalam pertumbuhan iman Kristen, proses adalah fakta yang tidak dapat dibantah. Seperti sebuah organisme yang hidup, demikian hidup kekristenan kita mengalami sebuah proses perubahan. Kesucian hidup tidak bisa diraih dalam satu hari, tidak bisa dicapai dalam satu bulan, bahkan tidak cukup dengan beberapa tahun. Kesucian harus diperjuangkan sepanjang umur hidup kita. Hal ini seiring dengan proses pendewasaan rohani. Proses pendewasaan rohani, pada hakikatnya, sama dengan proses pertumbuhan kesucian, sama dengan proses mengenakan “kehidupan Yesus.” Hal ini juga disebut proses transformasi agar orang percaya tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi menjadi serupa dengan Yesus. (Rm. 12:1-2).

Transformasi atau proses mengalami pertumbuhan rohani atau kedewasaan tidak boleh dikenakan untuk komitmen meninggalkan dunia. Komitmen meninggalkan dunia bukanlah proses, melainkan sebuah keputusan dalam satu momentum. Hal ini seperti sebuah ikatan perjanjian. Ikatan perjanjian tidak dilakukan secara bertahap, melainkan satu kali momentum. Selanjutnya, orang percaya harus berusaha untuk memenuhi komitmen tersebut. Tindakan memenuhi komitmen ditunjukkan dalam ketekunan belajar kebenaran tiada henti, menyediakan waktu bertemu dengan Allah, memerhatikan setiap peristiwa di mana di dalamnya Allah berbicara dan bersekutu dengan orang orang yang takut akan Allah, yang memiliki kerinduan yang sama.

Meninggalkan dunia bukanlah proses, melainkan sebuah komitmen yang harus diambil dengan kesadaran penuh dan tekad yang kuat, dan dilakukan secara tunai dalam komitmen. Secara tunai dalam komitmen, artinya masih hanya berupa tekad dan janji, walaupun secara kenyataan kita belum bisa memenuhi komitmen tersebut dikarenakan keterikatan jiwa dan daging kita dengan dunia ini yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Keterikatan itu ada di wilayah jiwa dengan segala keinginan-keinginan dalam dan di wilayah daging dengan nafsu-nafsunya. Tentu saja pemisahan dua wilayah tersebut tidak mutlak tetapi relatif, sebab jiwa dan daging tidak dapat dipisahkan.

Kita harus memiliki komitmen yang bulat untuk meninggalkan keindahan dunia dengan segala hiburannya. Komitmen ini dapat digambarkan seperti sebuah benda yang dilempar di sebuah pusat pusaran air yang akan memutar dengan cepat benda tersebut. Demikian pula orang orang percaya, harus berani masuk pusat pusaran kebenaran, kehidupan yang sama dengan kehidupan yang dikenakan oleh Yesus. Orang percaya yang melakukan komitmen meninggalkan dunia atau berani masuk dalam pusat pusaran kebenaran akan mengalami kelelahan yang hebat karena merasakan betapa sukarnya ikut Yesus. Tetapi, ia harus bertekun dalam pergumulan tersebut untuk dapat menyesuaikan diri dengan putaran kehidupan mengikut Yesus.

Dulu, saya berpikir bahwa melalui proses pendewasaan rohani, saya baru bisa meninggalkan dunia dan kemudian bisa mengikuti irama mengikut Yesus. Selama dalam proses yang saya alami di mana saya berharap dapat meninggalkan dunia, ternyata tidak kunjung bisa. Hal tersebut disebabkan saya tidak memiliki komitmen yang bulat untuk meninggalkan dunia ini. Komitmen yang utuh untuk meninggalkan dunia bukanlah hasil proses pendewasaan, melainkan mengawali proses pendewasaan. Yesus menghendaki kita harus meninggalkan segala sesuatu dulu, barulah menjadi murid (Luk. 14:33); bukan menjadi murid dulu, baru bisa meninggalkan segala sesuatu.

Ketika Yesus memanggil murid-murid, mereka dalam keadaan belum memahami maksud keselamatan yang Yesus kerjakan. Mereka mengikut Yesus hanya karena mereka mau mengubah nasib, yaitu dari seorang nelayan untuk menjadi hulu balang atau pejabat kerajaan, karena mereka berpikir bahwa Yesus akan menjadi raja seperti Herodes atau kaisar Roma. Itulah sebabnya, beberapa kali mereka bertengkar mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka di dalam Kerajaan Yesus Kristus nanti. Bahkan, orangtua Yohanes meminta agar anak-anaknya mendapat kedudukan yang tinggi di dalam Kerajaan Yesus nanti. Setelah kebangkitan Yesus, murid-murid masih menuntut dipulihkannya kerajaan bagi Israel (Kis. 1:6-8). Semua ini membuktikan bahwa motivasi mereka mengiring Yesus tidak benar.

Walaupun motivasi pengiringan murid-murid kepada Yesus belum benar, tetapi Yesus menerima mereka dan dengan sabar menuntun mereka untuk memahami maksud keselamatan diberikan. Yang penting, mereka harus memiliki komitmen meninggalkan sesuatu dulu, seperti Petrus dan kawan-kawan harus meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan; Lewi harus meninggalkan meja cukainya, dan lain sebagainya. Meninggalkan segala sesuatu yang sama dengan meninggalkan dunia, harus menjadi awal dari perjalanan mengiring Yesus. Tanpa komitmen ini, seseorang tidak akan mengalami kemajuan rohani yang baik. Dalam hal ini, dibutuhkan keberanian untuk melangkah, sebab meninggalkan dunia sama seperti seseorang dieksekusi hukuman mati.