Satu-Satunya Kesempatan
13 January 2020

Menemukan, mengalami, dan memiliki hubungan yang eksklusif dengan Allah secara permanen membutuhkan perjuangan yang berat. Perjuangannya terletak ketika kita harus melepaskan segala ikatan dan percintaan dengan dunia dan menempatkan Tuhan sebagai pribadi yang paling berharga dan tercinta. Pertama, sebagaimana kita harus meninggalkan ayah dan ibu dan bersatu dengan pasangan hidup kita, demikian pula, kita harus menanggalkan segala keterikatan (Ibr. 12:1; Mrk. 10:21-22). Perjuangan ini sangat berat sebab keterikatan dengan mammon adalah ikatan yang nyaris tidak dapat dipatahkan. Namun, yang mustahil bagi manusia itu tidak mustahil bagi Allah. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dengan mendahulukan Kerajaan Surga. Hidup ini merupakan petualangan yang hebat kalau diisi dengan pencarian hubungan yang eksklusif dengan Allah tersebut, yang sama dengan usaha untuk menempatkan diri sebagai mempelai wanita yang setia. Suatu kali nanti, ketika pesta perkawinan anak domba berlangsung, semua orang yang setia sampai akhir menjadi mempelai-Nya akan memperoleh kebahagiaan yang luar biasa.

Kedua, kita menghadapi kuasa kegelapan yang terus berusaha untuk menarik kita masuk kedalam persekutuan dengan kuasa gelap itu (2Kor 11:2-3). Hari ini banyak orang yang telah disesatkan oleh kuasa kegelapan sampai tingkat tidak dapat ditolong lagi. Banyak orang Kristen tidak setia, yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk kacang merah (Ibr 12:16-17). Percabulan dalam ayat ini bukanlah percabulan secara fisik (seksual), melainkan percabulan rohani. Ini hal yang sangat penting. Itulah sebabnya hukum pertama dalam Dekalog adalah agar tidak ada Allah lain dihadapan-Nya. Tidak ada Allah lain bukan hanya dimengerti sebagai adanya Allah lain selain yang dikenal dalam agama Kristen, melainkan juga ketika hubungan eksklusif dengan Allah digantikan dengan kesenangan dunia. Itu juga merupakan pelanggaran yang berat.

Keberhasilan hidup manusia yang sebenarnya atau yang sejati adalah ketika seseorang menjadi kekasih Allah. Konsep ini sebenarnya juga dimiliki oleh agama lain selain agama Kristen. Dengan segala cara, mereka berusaha untuk menjadi kekasih Allah. Di antaranya adalah filsafat menjadi satu dengan Allah (manunggaling kawula Gusti). Mereka menyadari bahwa menjadi kekasih Allah adalah sesuatu yang sangat mulia. Pelayanan harus menunjukkan hal ini, bukan mengarahkan jemaat kepada kenyamanan hidup untuk memiliki dunia dengan segala kesenangannya. Ukuran keberhasilan harus diubah, bukan pada sukses studi, karier, rumah tangga, dan lain sebagainya, melainkan persekutuan sebagai kekasih Allah. Ada seorang anak Allah berkata, “Saya tidak memiliki cita-cita lain, kecuali pergi ke Israel sebelum saya meninggal.” Orang lain berkata, “Cita-cita saya sebelum meninggal adalah ini atau itu ….” Tidak salah ke Israel atau mengingini ini atau itu. Namun, menjadi salah dan masalah mengerikan kalau seseorang belum menjadi kekasih Allah sebelum meninggal, sebab kesempatan ituhanya ada pada waktu seseorang masih hidup di bumi ini. Dalam hal ini Tuhan Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya” (Mrk. 8:36).

Allah menghendaki agar hati kita diserahkan kepada-Nya secara penuh. Orang yang menyerahkan hatinya kepada Allah berarti mengingini Allah lebih dari mengingini segala sesuatu. Allah menjadi tujuan kehidupan ini. Artinya, segala sesuatu yang kita lakukan, hanya untuk Allah dan Kerajaan-Nya. Oleh sebab itu,hal ini harus dicamkan baik-baik bahwa satu-satu agenda hidup ini adalah mengenal Allah dan Tuhan Yesus Kristus serta memiliki persekutuan dengan Dia secara benar. Segala sesuatu yang ada di bumi ini bukanlah kewajiban atau keharusan untuk diraih dan dimiliki. Kalau seseorang bersikap seperti wajarnya anak-anak dunia yang hidupnya hanya untuk memburu kesenangan dunia, berbagai fasilitas, dan hiburannya, orang Kristen tersebut hidup di luar pola hidup yang diajarkan oleh Tuhan. Itulah sebabnya Paulus mengatakan supaya kita tidak sama dengan dunia ini (Rm.12:2). Dengan berkeadaan tidak sama dengan dunia ini, seseorang barulah layak menjadi kekasih Allah.

Sejatinya, disingkatnya umur hidup ini, satu-satunya tujuan hidup yang harus dimiliki dan ditunaikan oleh orang percaya sebagai umat pilihan adalah menemukan sebuah relasi yang harmonis dengan Bapa sebagai anak dan bapa; dan dengan Yesus sebagai kekasih;sebagaimempelai wanita dengan TuhanYesus sebagai mempelai pria. Dengan demikian, hidup di bumi selama tujuh puluh sampai sembilan puluh tahun ini harus dijadikan satu-satunya sarana untuk mencapai hal tersebut. Segala sesuatu menjadi tidak wajib, kecuali menemukan Allah dan TuhanYesus Kristus. Yang mendapat kesempatan dan karunia untuk menjadi kekasih Allah, yaitu anak-anak kesayangan dan kesukaan Allah, hanyalah orang-orang pilihan.