Rela Kehilangan Hak Untuk Menikmati Keluarga
25 May 2017

Berbicara mengenai ukuran standar hidup, pengertian normal memang relatif, tetapi kalau ditinjau dari pola hidup masyarakat pada umumnya, kehidupan Yesus nampak tidak normal. Hal ini dimulai ketika Ia berusia 12 tahun. Anak-anak seusia ini biasanya masih hanyut dengan berbagai kesibukan sebagai anak-anak. Tetapi Yesus pada usia tersebut sudah sangat giat belajar Torat. Karena kemampuan-Nya memahami Torat, maka Ia bisa bersoaljawab dengan para alim ulama. Dalam peristiwa di kota Yerusalem, ketika Yesus masih berusia 12 tahun, orang-orang terkagum-kagum terhadap kecerdasan-Nya (Luk. 2:46-47). Peristiwa ini memberi isyarat jelas bahwa sejak kanak-kanak Ia telah memiliki kehidupan yang tidak sama dengan anak-anak lain. Bisa diduga secara logis bahwa hari-hari hidup Anak Allah ini sangat giat belajar Torat lebih dari anak-anak sebayanya. Hal ini dibuktikan dengan kehandalan-Nya bertanya jawab, sebab memang hal ini diajarkan kepada anak-anak Israel.

Sebagai pria yang normal, pada umumnya usia 30 tahun sudah menikah dan hidup berumah tangga. Hari-hari hidupnya dihabiskan bersama keluarga, tetapi tidaklah demikian dengan Yesus. Setelah baptisan yang diterima-Nya di sungai Yordan dari Yohanes Pembaptis, Yesus mulai dengan tugas penyelamatan. Ia memilih murid-murid, dan sejak itu Ia mulai memberitakan Kerajaan Allah. Yesus meninggalkan ayah-Nya, Yusuf dan ibu-Nya, Maria, serta serta saudara-saudara-Nya. Alkitab menginformasikan bahwa Ia berjalan keliling untuk mengajar (Mat. 4:23-35). Hampir tidak ada catatan dalam Alkitab bahwa Yesus kembali ke kampung halaman berkumpul kembali dengan keluarga-Nya. Petualangan Anak Allah ini berakhir di kayu salib. Di kayu salib Ia hanya bisa menatap ibu-Nya yang tentu memandang-Nya, kemudian Ia menyerahkan tanggung jawabnya dalam memelihara ibu-Nya kepada murid-murid-Nya (Yoh. 19:27).

Dalam Alkitab jelas sekali dinyatakan bahwa dalam segala hal Yesus disamakan dengan manusia (Ibr. 2:17). Ini berarti Ia mengenakan tubuh yang proses kimia atau metabolisme tubuh-Nya sama seperti manusia pada umumnya. Ia tidak menggunakan tubuh maya yang kebal terhadap nyeri kalau terluka. Dengan keberadaan-Nya ini maka Tuhan juga bisa menghadapi masalah-masalah fisik. Kalau Yesus dilukai, maka Ia akan merasa nyeri; kesakitan. Ia dapat merasakan lapar, haus dan berbagai fenomena fisik lainnya. Dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus sering harus menghadapi manusia dalam jumlah yang besar, sampai-sampai Ia menunda makan dan kurang beristirahat. Inilah realitasnya bahwa Ia rela kehilangan hak menikmati kenyamanan fisik. Kalau Yesus berbicara mengenai keberadaan-Nya yang tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya (Luk. 9:58), hal ini menunjukkan bahwa ia bekerja keras sehingga Ia tidak memiliki kesempatan menikmati hidup bersama keluarga. Hidup-Nya adalah perjuangan yang berat menyelesaikan tugas Bapa yang berat. Filosofi hidup-Nya adalah: Makanan-Ku melakukan Kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Jadi salahlah kalau seseorang mengikut Yesus dan turut mengambil bagian dalam pelayanan dengan maksud supaya bisa menikmati kenyamanan hidup. Justru mengikut Yesus harus rela kehilangan kenyamanan, termasuk di dalamnya kenyamanan hidup bersama keluarga. Mengikut Yesus adalah memikul salib. Salib yang sama atau mirip dengan salib-Nya.

Sebagai pelayan Tuhan, dalam kondisi tertentu seorang pelayan Tuhan harus rela meninggalkan keluarga demi tugas pelayanan. Ini berarti waktu bersama dengan keluarga menjadi berkurang. Kadang-kadang di tengah-tengah kebersamaan dengan keluarga di rumah, seorang pelayan Tuhan harus memberi konseling melalui telepon, tentu hal ini mengurangi waktu kebersamaan dengan keluarga. Bahkan kadang-kadang seorang pelayan Tuhan harus keluar di tengah malam buta atau pada pagi dini hari untuk melawat jemaat yang dalam persoalan berat. Tentu hal ini sangat mengganggu kehidupan bersama dengan keluarga, tetapi seorang pelayan Tuhan tidak mempunyai pilihan lain. Pelayanan bagi kepentingan jemaat harus merupakan prioritas penting. Seorang pelayan Tuhan harus peka terhadap “komando” Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya. Hal ini tidak boleh dipengaruhi oleh siapa pun juga. Kadang-kadang seorang pelayan Tuhan harus membagi milik yang menjadi hak keluarga bagi orang lain. Tentu hal ini mengurangi kenyamanan hidup keluarganya. Realita ini harus diterima sebagai fenomena wajar, sebagai konsekuensi logis seorang pelayan Tuhan.