Proyek Percontohan
23 August 2017

Kisah mengenai orang kaya yang menginginkan hidup kekal selain ditulis dalam Lukas 18:18-22, juga ditulis dalam Matius 19:16-22. Ia bertanya kepada Tuhan Yesus apa yang harus diperbuatnya supaya memperoleh hidup kekal? Tuhan Yesus menjawab: “Jikalau kamu hendak sempurna…”. Kata “sempurna” dalam teks ini sama dengan yang terdapat dalam Matius 5:48, yaitu teleios (τέλειος). Kata sempurna di sini mestinya terkait dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa hanya satu yang baik, yaitu Allah saja. Dari pernyataan ini, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa ukuran kebaikan atau kesempurnaan harus berpijak pada Allah, bukan berpijak dari sudut pandang siapa pun. Bahwa Allah adalah sumber dan ukuran kebaikan satu-satunya yang sempurna. Jadi, kalau orang kaya ini mengakui bahwa Yesus baik, itu berarti Yesus berasal dari Allah atau Allah sendiri.

Yesuslah sumber kebaikan dan ukuran kebaikan yang dikehendaki oleh Allah. Oleh sebab itu kalau ia mengakui bahwa Yesus adalah Allah sendiri, seharusnya ia tunduk kepada kehendak Tuhan Yesus, yaitu menjual segala miliknya, membagikan kepada orang miskin dan datang untuk mengikut Tuhan (Luk. 18:22). Mengikut Yesus dimaksudkan untuk menjadi baik menurut ukuran Bapa di surga, sebab Tuhan Yesus adalah model dari kebaikan yang Bapa kehendaki. Bapa tidak kelihatan tetapi Tuhan Yesus menampilkan karakter-Nya secara nyata (Yoh. 14:9).

Mengakui otoritas Tuhan Yesus adalah ukuran kebaikan. Kenyataannya, pemuda kaya dalam Matius 19 tersebut menolak melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus. Ini berarti ia tidak mengakui otoritas Tuhan Yesus atau tidak menerima konsep kebaikan yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus. Kisah ini menginspirasi kita untuk memberi diri tunduk kepada otoritas Tuhan Yesus, yaitu mempelajari dan menerima apa yang diajarkan-Nya serta melakukannya dengan tekun dan rela.

Tuhan menghendaki agar kita berusaha mencapai kebaikan yang ideal, kebaikan menurut Tuhan (mutlak, obyektif dan sempurna). Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dalam pernyataan-Nya: Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga (Mat. 5:48). Dengan demikian kehidupan moral orang percaya harus melebihi kebaikan moral ahli Taurat dan orang Farisi (Mat. 5:20). Orang percaya dipanggil Tuhan untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita dituntut dapat mencapai target yang melampaui mereka yang bukan anak Tuhan. Ini konsekuensi sebagai orang percaya yang tidak boleh dihindari. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak hanya menerima berkat keselamatan yang Dia berikan, tetapi juga menerima kehendak-Nya untuk sempurna seperti Bapa.

Dengan demikian sempurna seperti Bapa artinya mampu berpikir dan berperasaan seiring atau sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa. Dalam hal ini Tuhan Yesuslah sebagai teladan atau prototype-nya. Sempurna seperti Bapa artinya seluruh tindakan dan keputusan seseorang selalu sesuai atau sinkron dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Pribadi seperti inilah pribadi yang dinyatakan oleh Bapa di surga sebagai berkenan di hadapan-Nya. Inilah ukuran kebaikan yang sempurna itu.

Sebelum Tuhan Yesus menang, taat sampai mati, menderita, disalib dan bangkit, Ia berkata bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa, sebab pada waktu itu Ia belum bisa mengklaim bahwa diri-Nya menang. Tetapi setelah Tuhan Yesus menang, Ia bisa menjadi pokok keselamatan bagi orang yang taat kepada-Nya (Ibr. 5:9). Maka kalau seseorang mau sempurna seperti Bapa, ia harus mengenal kehidupan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menjadi pilot project (proyek percontohan) Ilahi yang melalui-Nya atau dengan mana orang percaya bertumbuh dan memproyeksikan dirinya menjadi sempurna seperti Bapa.