Proses
21 January 2021

Play Audio

Satu hal yang harus kita mengerti, bahwa memahami kebenaran itu tidak bisa dalam waktu singkat, tidak bisa dipadatkan. Karena, kebenaran yang kita pahami itu bertahap. Ini paralel dengan ilmu pengetahuan yang lain seperti matematika, bahasa, dan berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya. Maka, proses merupakan prinsip penting di dalam kehidupan. Yesus sendiri—seperti yang kita baca dalam Alkitab—mengalami proses. Dalam Lukas 2:52 tertulis: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Jadi, tidak bisa dalam sekejap seseorang itu menjadi dewasa, tidak dalam sekejap seseorang itu mengenal kebenaran; perlu sebuah proses.

Di sini dibutuhkan waktu. Tentu waktu tidak bisa kita ciptakan. itu anugerah, pemberian dari Tuhan, sebab kita tidak bisa menambah sehasta pun umur hidup kita. Jadi, Tuhan yang memberikan waktu. Dari pihak kita, ketekunan. Tekun untuk mendengarkan kebenaran Firman Tuhan. Di balik ketekunan tersebut kita juga harus memiliki kesediaan untuk melepaskan semua hal yang membuat kita tidak fokus akan kebenaran, terutama kesenangan-kesenangan hidup, kesenangan-kesenangan yang membuat kita tidak atau kurang menyukai kebenaran. Kalau jujur, semua manusia akan mengakui bahwa banyak kesenangan yang membuat kita jadi kurang atau tidak menyenangi Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau dikatakan “kurang” atau “tidak menyukai Tuhan” mungkin berlebihan, tetapi pada dasarnya begitu, kurang dan tidak menyukai kebenaran. Banyak orang Kristen yang tidak berpikir mengenai Kerajaan Surga, tidak pernah berpikir mengenai langit baru bumi baru, tidak pernah berpikir mengenai Rumah Bapa. Bahkan ketika mendengar kata “Rumah Bapa” juga sudah membuat mereka merinding, merasa takut.

Padahal, semestinya justru itu adalah hal yang menyenangkan, karena itu rumah kita. Dunia ini bukan rumah kita. Demikian pula dengan Kerajaan Surga, banyak orang yang tidak tertarik dengan Kerajaan Surga. Mendengar kalimat “langit baru bumi baru,” mereka jadi resistan, padahal mestinya tidak. Jika kita tidak tertarik dengan hal itu, sama juga kita tidak mengasihi Tuhan, tidak menghormati Tuhan. Kalau kita tidak merindukan langit baru bumi baru namun kita merasa mengasihi Tuhan, berarti kita ditipu oleh diri kita sendiri. Sama dengan orang yang tidak sungguh-sungguh merindukan kebenaran, berarti memang ia tidak menghormati Tuhan, dan tentu orang-orang seperti ini tidak mungkin setia kepada Tuhan.

Waktu yang Tuhan berikan adalah kesempatan untuk menghimpun, menumpuk, mengumpulkan kebenaran yang Tuhan sediakan bagi kita. Oleh sebab itu, waktu yang Tuhan berikan harus kita gunakan dengan sungguh-sungguh. Kalau perlu—dan semestinya—setiap hari kita memiliki jadwal untuk mendengarkan khotbah, membaca buku rohani. Kita tidak boleh berpikir atau tidak boleh membiasakan diri hanya pada waktu “mau atau senang dengar” saja, tapi jika sedang “tidak mau atau tidak senang dengar,” ya, tidak dengar. Tidak boleh begitu! Kita harus mendisiplin diri kita dengan menyediakan waktu secara khusus untuk mendengar khotbah; untuk belajar firman Tuhan, harus kita alokasikan waktu untuk itu. Jadi bukan pada saat kita mau mendengar khotbah saja kita mendengarkannya, dan pada waktu kita tidak mau, kita tidak mendengarkan khotbah. Dalam berolahraga juga kita tidak boleh menggunakan dasar “mau atau tidak mau.” Kalau ada selera, baru kita olahraga; tidak ada selera, kita tidak olahraga. Ini pasti tidak membuat kita memiliki tubuh yang sehat secara baik. Olahraga juga harus kita alokasikan waktunya, dan itu dijadwalkan. Apalagi hal kebenaran firman Tuhan yang menyangkut nasib kekal kita, tentu harus kita alokasikan. Jangan berpikir nanti kalau sudah longgar waktunya, kita baru belajar dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh kita berprinsip seperti itu.

Tuhan Yesus berkata: “Kumpulkan harta di surga.” Kata “kumpulkan” menunjuk sebuah langkah bertahap, proses akumulasi. “Harta di surga” bisa diartikan sebagai proses pendewasaan; harta di surga juga berarti proses memahami kebenaran. Perhatikan ayat 21—setelah Yesus berkata kumpulkan harta di surga—Yesus berkata: “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Lalu Tuhan berkata di ayat berikutnya: “Mata adalah pelita tubuh. Kalau matamu baik, baiklah seluruh tubuhmu. Kalau matamu gelap, gelaplah seluruh hidupmu.” “Mata” dalam ayat ini berbicara mengenai pengertian. Pengertian kita tidak bisa dibangun dalam waktu 1 hari, tidak cukup dalam waktu 1 tahun. Sepanjang umur hidup kita ini adalah proses belajar untuk menyerap kebenaran sebanyak-banyaknya.

Lagipula firman Tuhan mengatakan: “manusia hidup bukan hanya dari roti, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Sebagaimana kita membutuhkan makanan fisik untuk jasmani kita, demikian pula kita membutuhkan Firman yang menghidupi kehidupan rohani kita, membentuk karakter kita, membentuk watak kita. Dan Firman itu yang menguduskan; sebab kebenaran itu menguduskan (Yoh. 17:17). Jadi Firman ini adalah kebenaran, dan Firman inilah yang menguduskan hidup kita. Pengudusan ini bukan pengudusan oleh darah Yesus. Dosa-dosa kita disucikan oleh darah Yesus. Akibat perbuatan dosa kita telah selesai oleh darah Yesus, tetapi kodrat dosa kita ini dibersihkan, diluruskan, diubahkan oleh kebenaran Firman, dan itu memerlukan proses panjang, seumur hidup kita.