Petualangan Hidup Beriman
06 February 2020

Iman adalah respons individu terhadap kasih, kebaikan, dan anugerah-Nya. Respons itu melibatkan seluruh kehidupan kita; dari pikiran, tenaga, waktu, dan semua yang ada pada kita. Hal inilah yang dilakukan oleh Abraham. Itulah sebabnya, sebagai orang yang mengaku percaya kepada Tuhan, masing-masing kita harus memiliki pengalaman iman seperti yang dialami Abraham. Jadi, kalau seseorang hendak memiliki iman yang benar—yaitu iman yang menyelamatkan—ia harus meneladani kehidupan Abraham, yaitu melakukan segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah, Bapa kita, serta menjalani perjalanan hidup yang membawa iman kita kepasda kesempurnaan, artinya kita bisa semakin hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah seperti Abraham, dan bahkan seperti Yesus sendiri. Inilah perlombaan yang wajib bagi semua orang percaya (Ibr. 12:1-2). Itulah sebabnya, orang percaya harus menanggalkan atau melepaskan beban dan dosa. Beban artinya keterikatan dengan dunia dan dosa artinya keterikatan dengan hasrat dosa di dalam diri kita. Kesediaan untuk melepaskan beban dan dosa merupakan respons yang menunjukkan bahwa kita bersedia beriman kepada Tuhan.

Seperti Abraham, kita harus berani meninggalkan dunia dan menyerahkan yang “tersayang” atau paling berharga dalam hidup ini bagi Allah. Abraham bersedia meninggalkan negeri dan sanak familinya untuk menuju ke negeri yang dia tidak tahu, sampai pada suatu saat ia harus menyembelih anak satu-satunya, ia pun bersedia melakukannya. Orang percaya harus melakukan hal yang sama. Dalam hal ini, kita bisa memahami maksud pernyataan Yesus: “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 10:39). Untuk memiliki iman yang benar, Abraham harus kehilangan “nyawa,” yaitu tanah leluhur negeri kesukaan, tempat dirinya menemukan kenyamanan dan kemapanan, bahkan ketika harus menyerahkan anaknya sebagai kurban bakaran, ia juga bersedia. Negeri leluhur dan Ishak, anaknya, adalah “nyawa” bagi Abraham, tetapi demi penurutan atau ketaatannya kepada Elohim Yahweh, ia rela melepaskannya. Terkait dengan hal ini, Yesus menyatakan kalau kita tidak melepaskan diri kita dari segala milik kita, maka kita tidak layak menjadi murid-Nya (Luk. 14:33).

Seperti yang dilakukan oleh Abraham dalam perjalanan hidupnya, jika hal yang sama juga kita lakukan—yaitu hidup dalam penurutan atau ketaatan terhadap kehendak Allah—barulah kita disebut sebagai beriman. Seiring dengan bertambahnya penurutan atau ketaatan kita kepada Allah, iman kita menjadi semakin sempurna. Inilah yang dimaksud oleh Yesus bahwa kita harus bekerja untuk makanan yang tidak dapat binasa. Pekerjaan itu adalah percaya kepada Dia yang diutus oleh Allah (Yoh. 6:27-28). Percaya kepada Dia yang diutus oleh Allah adalah meneladani hidup-Nya, yaitu hidup dalam penurutan dan ketaatan kepada Bapa. Hal ini sejajar dengan pernyataan Yesus di ayat-ayat berikutnya bahwa tubuh-Nya benar-benar makanan dan darah-Nya benar-benar minuman (Yoh. 6:54-55). Tuhan menghendaki kita makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya, maksudnya agar kita mengenakan hidup-Nya. Sampai kita bisa berkata, “Hidupku bukan aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Dengan demikian, kita dapat dibenarkan, yaitu kita diterima oleh Allah atau diperkenan oleh Dia, yaitu kalau kita melakukan kehendak Bapa seperti yang Yesus lakukan (Yoh. 4:34). Memang pada akhirnya, hanya orang-orang yang melakukan kehendak Bapa yang dikenal oleh Tuhan (Mat. 7:21-23).

Masing-masing orang tentu memiliki pengalaman petualangan hidup yang berbeda dalam mewujudkan percayanya atau berimannya atau pisteuo-nya ini. Karena Allah itu luar biasa, berhikmat, dan cerdas, petualangan keberimanan kepada Dia yang berhikmat dan cerdas itu pasti luar biasa dan memiliki tujuan. Jadi, kalau kehidupan Abraham diteliti—sejak keluar dari Ur-Kasdim, mengubah nama walaupun belum mempunyai anak, nyaris kehilangan istrinya di Mesir, melewati masalah Hagar, sudah mempunyai anak tetapi harus dikurbankan—perjalanan iman Abraham tersebut adalah petualangan hidup yang luar biasa. Itu semua merupakan perjalanan iman Abraham, yang titik puncaknya adalah ketika Abraham harus mempersembahkan anaknya, Ishak. Masing-masing individu orang percaya juga mestinya memiliki pengalaman hidup beriman yang luar biasa.

Pertanyaan untuk orang Kristen hari ini adalah, “Apakah mereka telah memiliki pengalaman petualang hidup sebagai orang yang beriman seperti Abraham?” Tentu kasusnya bisa berbeda, tetapi pada hakekatnya, intinya sama. Jika tidak memiliki pengalaman petualang iman, berarti iman yang mereka miliki bukanlah iman yang menyelamatkan yang dimaksud oleh Alkitab. Pengalaman petualangan hidup dalam beriman tersebut menumbuhkan kedewasaan dan kesempurnaan di dalam Tuhan. Pada dasarnya, mereka bukan orang beriman yang benar.