Pertobatan Yang Membangun Manusia Allah
31 March 2017

Agama Kristen bukanlah agama yang hanya melakukan perbaikan-perbaikan atas moral manusia, tetapi membuat seseorang hidup baru (Ef. 4:24; Kol. 3:10). Hidup baru yang dimiliki seseorang akan membawanya kepada klimaks, yaitu pengakuan “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal. 2:19-20). Jadi yang penting bukan sudah berapa lama kita menjadi Kristen, tetapi apakah kita mengenakan hidup baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Bagaimana menghancurkan hidup “lama kita” supaya kita dapat membangun hidup baru di dalam Tuhan? Penghancuran manusia lama yang sama dengan membunuh monster masing-masing kita sangat ditentukan atau diperankan oleh diri sendiri. Penghancuran manusia lama hendaknya tidak dipahami sebagai proses mistis tetapi sebuah tindakan konkret seseorang yang disebut langkah pertobatan. Langkah pertobatan bukan hanya satu kali tindakan seperti sebuah titik, tetapi seperti garis panjang artinya terus menerus. Seiring dengan terjadinya pembaharuan pikiran oleh kesadaran terhadap kebenaran-kebenaran yang Roh Kudus singkapkan kita bertobat, artinya kita menerima kebenaran tersebut dan membuang konsep yang salah.

Pengertian pertobatan dalam Kekristenan tidaklah sama dengan konsep pertobatan menurut bangsa Israel atau umat Perjanjian Lama dan agama-agama pada umumnya. Pertobatan dalam Kekristenan adalah perubahan cara berpikir dan seluruh gaya hidup yang didorong oleh kesadaran terhadap kebenaran. Kebenaran di sini bukan hanya menyangkut kesadaran moral, tetapi juga meliputi pemahaman hidup secara menyeluruh (ekstensif) berdasarkan kebenaran Firman. Pemahaman hidup itu antara lain: siapa Allah; siapa manusia; bagaimana seharusnya manusia menyelenggarakan hidup; manusia akan mati dan menyongsong kehidupan di balik kubur; manusia harus menghadap takhta pengadilan Allah dan dihakimi menurut perbuatannya. Ukuran perbuatan yang dinilai benar bagi orang di luar umat pilihan adalah perbuatan baik, tetapi bagi umat pilihan harus berkenan kepada Allah atau sempurna.

Kesadaran dan pemahaman terhadap kebenaran sangat penting sebab membangkitkan pertobatan yang sejati, pertobatan yang benar atau yang ideal di hadapan Tuhan. Tentu pertobatan yang sejati akan mengubah bukan saja perilaku seseorang, tetapi juga seluruh filosofi hidupnya. Pertobatan harus dimulai dari satu kesadaran bukan hanya terhadap pelanggaran moral atau pola hidup yang tidak sesuai dengan hukum, tetapi kesadaran terhadap tujuan hidup manusia, maksud Tuhan menciptakan manusia dan lain sebagainya. Di sini peran pengertian (understanding) terhadap kebenaran sangat penting.

Proses pertobatan yang terus-menerus inilah yang dapat memerdekakan seseorang dari dosa, sebab dengan pembaharuan pikiran seseorang mengenal kebenaran dan dengan mengenal kebenaran itu, maka seseorang dibebaskan dari perhambaan dosa (Yoh. 8:31-32). Perhambaan dosa artinya tindakan yang tidak tepat seperti yang Allah kehendaki. Dari proses inilah se-seorang diubah untuk memiliki pola hidup yang baru, yaitu pola hidup anak-anak Allah yang mengenakan kodrat Ilahi. Inilah buah pertobatan yang benar. Kekudusan inilah yang menjadi tujuan pertobatan. Tentu kekudusan di sini menggunakan ukuran Tuhan. Itulah sebabnya Ia berkata: Kuduslah kamu sebab Aku kudus (1Ptr. 1:16). Kekudusan di sini memiliki arti yang sangat luas, yaitu lebih menekankan sikap batin atau sikap hati atau manusia batiniah seseorang, bukan sekadar kebenaran moral dalam standar etika umum. Dalam ayat ini, Tuhan menghubungkan kekudusan-Nya dengan kekudusan kita. Ini berarti, Ia menghendaki kita memiliki kekudusan standar Tuhan.

Setelah mengalami pertobatan secara berkesinambu-ngan, model atau gaya hidup kita pasti berbeda dengan model atau gaya hidup manusia pada umumnya. Gaya hidup yang baru inilah yang akan membuat seseorang memancarkan sebuah pe-sona yang akan membuat orang mengenal jalan keselamatan yang benar. Orang akan melihat bahwa kita telah keluar dari kegelapan atau keluar dari model dan gaya hidup anak dunia kepada model atau gaya hidup anak-anak Allah. Oleh sebab itu harus dipersoalkan apakah model atau gaya hidup kita berubah, sebelum kita memiliki kesediaan mengikut Tuhan Yesus dengan sesudah kita mengikut Tuhan Yesus. Kalau model atau gaya hidup kita tidak berubah berarti kita belum mengikut Tuhan Yesus. Beragama Kristen tidak memiliki kuasa mengubah hidup. Tetapi mengikut Tuhan Yesus mendatangkan perubahan nyata dalam model dan gaya hidup kita. Dalam hal ini pelayanan gereja bertujuan membawa atau membimbing umat untuk hidup dalam model atau gaya hidup baru yang Tuhan kehendaki. Seiring dengan me-ngenakan gaya hidup Tuhan Yesus dengan spirit atau gairah yang murni dari Roh Kudus, maka monster dalam diri seseorang dapat diakhiri atau dimatikan.