Pertobatan Sejati
20 January 2021

Play Audio

Suatu hari nanti, ketika seseorang berada di ujung maut dimana ia tinggal memiliki sedikit lagi waktu untuk hidup—biasanya ada di ruang ICU atau ICCU dan dalam keadaan sekarat—barulah ia menghargai betapa berharganya hidup ini. Apalagi kita yang sudah mengenal sebagian kebenaran atau mengenal sedikit kebenaran atau mungkin banyak kebenaran, bahwa setiap kita harus berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Pada waktu itu, banyak orang sebenarnya tidak siap menghadap takhta pengadilan Kristus. Mereka mengandalkan apa yang mereka miliki selama masih ada di bumi atau selama masih sehat, sebelum ada di ujung maut. Mereka tidak sungguh-sungguh mencari perkenanan Tuhan, tidak pernah sungguh-sungguh memeriksakan diri di hadapan Tuhan, bagaimana penilaian Tuhan terhadap dirinya. Mereka tidak sungguh-sungguh mempersoalkan itu.

Mestinya kita membuat simulasi setiap hari seakan-akan kita ada di hadapan takhta pengadilan Kristus. Jika ada sesuatu yang tidak patut masih ada pada kita—seperti kebiasaan-kebiasaan yang tidak berkenan di hadapan Allah atau ada percintaan dunia—maka kita dapat segera menyelesaikannya. Jadi, waktu hidup yang diberikan Tuhan kepada kita menjadi kesempatan untuk berbenah guna mempersiapkan diri agar kelak ketika kita berhadapan dengan Tuhan, kita didapati benar-benar tidak bercacat dan tidak bercela. Tetapi sayang sekali, banyak orang menyia-nyiakan waktu yang Tuhan berikan. Fokus hidupnya ditujukan kepada banyak hal yang tidak terkait atau tidak berdampak positif untuk kehidupan rohaninya. Banyak orang yang tenggelam dengan kesenangan-kesenangan jiwa seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia—yaitu keinginan mata, apa yang orang lain miliki, ingin ia miliki, dan juga keangkuhan hidup mengingini sebuah kehormatan, pujian, dan sanjungan manusia. Ini satu hal yang biasa dilakukan oleh semua orang. Tetapi yang mestinya kita lakukan adalah bagaimana kita dengan sungguh-sungguh membenahi diri agar kita benar-benar didapati Tuhan tidak bercacat dan tidak bercela.

Sejatinya, fokus hidup kita hanya untuk hal ini saja, lebih dari segala fokus hidup lainnya—bahkan mestinya ini menjadi agenda kita satu-satunya. Ketika seseorang ada di ujung maut, biasanya orang baru sadar betapa berharganya 1 menit, 1 jam, 1 hari waktu hidupnya. Sebab untuk membenahi diri, seseorang membutuhkan waktu tertentu atau stadium tertentu. Masalahnya, ada orang-orang yang tidak sanggup lagi bukan saja membenahi diri untuk berkenan, melainkan juga untuk memercayai keberadaan Allah. Ia tidak sanggup percaya bahwa Allah itu ada, dan memang barangkali di ujung maut itu Allah juga sudah tidak menyertai dia karena selama hidupnya ia juga tidak menyertai Tuhan, tidak menyertai pekerjaan-Nya, tidak belajar kebenaran—yang dalam pembahasan ini kita istilahkan “tidak menyertai Tuhan.” Orang seperti ini hanya mau disertai Tuhan karena ia mau memanfaatkan Tuhan.

Tuhan Yesus berkata: “Kamu yang bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan, kepadamu aku tetapkan hak-hak bagi Kerajaan-Ku.” Artinya, orang seperti ini yang akan mendapat kemuliaan bersama Yesus, yaitu mereka yang setia. Banyak orang Kristen tidak setia, sama sekali tidak memikirkan perasaan Bapa di surga dan sama sekali tidak memikirkan apa penilaian Tuhan terhadap dirinya. Yang mereka persoalkan adalah bagaimana mereka dapat memiliki uang banyak, memiliki berbagai fasilitas yang juga dimiliki orang lain, menjadi terhormat di mata manusia, dan lebih konyol lagi kalau sampai mereka hidup di dalam dosa, hidup di dalam kejahatan, hidup di dalam pemuasan nafsu. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak takut Tuhan dan tidak menghormati Tuhan dengan pantas. Jangan berpikir kalau di ujung maut baru minta ampun, bertobat, lalu dibawa Tuhan ke surga. Mereka mau mengakal-akali Tuhan, mau menipu Tuhan.

Tuhan tidak bisa ditipu! Kalau pada dasarnya seseorang memang tidak mengasihi dan tidak menghormati Tuhan—walaupun di ujung maut ia mengaku bertobat minta ampun—percuma, sebab sudah terlambat. Sejujurnya, ia pun bertobat minta ampun dengan hati yang tidak mengasihi Tuhan, hati yang tidak menghormati Tuhan. Pertobatannya di ujung maut itu hanya main-main, akal-akalan, dan tentu Tuhan tahu isi hati terdalam setiap insan. Tuhan tidak menerima pertobatan pura-pura seperti itu, karena pertobatan sejati atau pertobatan Kristiani yang benar adalah pembaharuan pikiran, bukan ucapan pengakuan dosa semata, lalu minta ampun dan diampuni, bukan itu! Dosa-dosa kita telah selesai dipikul di kayu salib, yang belum selesai adalah kodrat dosa kita. Dan untuk menyelesaikan kodrat dosa, kita harus mengalami pembaharuan pikiran.

Dari pembaharuan pikiran itulah maka kita memiliki gaya hidup, cara hidup yang berubah. Pembaharuan tersebut ada di dalam sikap hati kita, sikap batin kita, yang jika itu bertumbuh dengan baik, maka sikap hati kita menjadi benar di hadapan Tuhan. Tidak ada niat untuk berbuat dosa, takut dan hormat pada Allah secara patut, tidak terikat dengan dunia, tidak ada keinginan untuk dipuji, dihormati orang. Jadi, hati yang menghormati dan takut kepada Allah secara benar itu menjadi irama permanen yang dimiliki sehingga melahirkan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, dan itu merupakan suatu bangunan hidup yang juga dapat digambarkan sebagai sebuah lukisan yang indah. Kalau di ujung maut seseorang baru minta ampun karena menyadari bahwa lukisan hidupnya buruk dan berharap dalam seketika dia bisa membuat lukisan hidupnya bagus, itu jelas suatu kebohongan. Oleh sebab itu, kita harus dari jauh-jauh hari berkemas-kemas, berbenah untuk menjadi seorang yang berkenan di hadapan Allah.