Perjuangan Yang Berkesinambungan
13 February 2020

Firman Allah mengatakan, “Kumpulkanlah bagimu harta di sorga” (Mat. 6:20). Mengumpulkan harta di surga bukan berbicara mengenai mengumpulkan uang atau melakukan kegiatan amal yang diharapkan dapat membuahkan upah atau pahala di surga. Orang percaya tidak boleh terkecoh oleh kampanye-kampanye yang menjanjikan berkat berlimpah baik di bumi maupun di surga dengan jalan memberi persembahan uang ke gereja. Gereja yang selalu membicarakan berkat-berkat jasmani dan selalu berkutat pada masalah uang, secara tidak langsung tidak mengarahkan jemaat kepada harta di surga. Inilah yang terjadi dewasa ini, dimana pelayanan gereja menjadi bisnis yang berorientasi pada uang atau berkat jasmani, mukjizat, pembangunan gedung, dan jumlah jemaat. Nuansa ini sebenarnya berpotensi besar memarkir pikiran dan orientasi hidup jemaat dalam dunia ini.

Mengumpulkan harta di surga sebenarnya berbicara mengenai bagaimana kita bertumbuh menjadi anak-anak Allah yang semakin berkenan kepada-Nya. Dikatakan “mengumpulkan” berarti untuk mencapai kehidupan sebagai anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya tidak bisa dicapai dalam waktu singkat, dan bukan sesuatu yang mudah. Dibutuhkan perjuangan secara berkesinambungan dan harus mengerahkan seluruh potensi kehidupan. Mestinya, hal ini menjadi satu-satunya agenda dalam hidup ini. Orang Kristen yang tidak menjadikan hal ini sebagai satu-satunya agenda hidup, tidak akan pernah mengumpulkan harta di surga secara proporsional.

Dalam Lukas 12, Yesus mengemukakan mengenai orang kaya yang tidak pernah puas dengan jumlah kekayaan yang telah dikumpulkannya. Ia menginginkan kekayaannya bertambah lebih banyak dan berharap jiwanya mendapat ketenangan. Yesus memandang orang seperti ini sebagai orang bodoh yang mati dalam keadaan “miskin abadi.” Hidupnya hanya disibukkan dengan mengumpulkan harta dunia yang fana, sehingga tidak memberikan porsi yang memadai untuk mengumpulkan harta di surga. Apa yang dilakukan oleh orang kaya ini juga dilakukan oleh banyak orang Kristen hari ini. Oleh sebab itu, kalau kita ternyata seperti orang kaya yang bodoh ini, kita harus bertobat dan mengarahkan hidup kita hanya untuk mengumpulkan harta di surga.

Setiap hari, kita harus mengumpulkan harta di surga. Harta itu akan terakumulasi atau dikumpulkan, hal ini menunjukkan proses bertahap bertumbuhnya kesucian hidup ini, yang sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Proses ini bertahap ketat, tidak bisa hanya dilakukan dalam satu hari, satu minggu, bahkan tidak cukup hanya dalam satu tahun, melainkan sepanjang umur hidup. Dengan demikian, sesungguhnya hidup di bumi ini hanya untuk membangun kehidupan di dunia yang akan datang. Itulah sebabnya kita harus rela tidak memiliki kepentingan apa pun selain berjuang untuk menjadi anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya. Mengumpulkan harta di surga paralel dengan bertumbuhnya iman orang percaya. Orang yang percaya kepada Yesus harus berubah secara bertahap menjadi semakin seperti Yesus, artinya semakin hidup dalam kekudusan Allah. Dengan demikian, ciri dari orang percaya yang benar adalah semakin hari, ia semakin serupa dengan Yesus.

Sebelum seseorang semakin menjadi serupa dengan Yesus, belum bisa dikatakan sebagai orang percaya yang benar. Untuk ini harus ada proses bertahap dimana seseorang menjadi nyata semakin seperti Yesus. Kita harus berjuang untuk mengalami tahapan-tahapan pertumbuhan sampai menjadi seperti Yesus tersebut. Allah pasti menggarap kita, karena mesin anugerah Allah berjalan terus membentuk kita. Kalau fokus seorang Kristen adalah dunia ini—yaitu bekerja karena untuk memiliki fasilitas dan mencari kesenangan—maka kehidupan menjadi seperti Yesus tidak akan pernah terealisasi. Ini berarti tidak akan pernah menjadi orang percaya sampai selamanya. Sangat ironis, hari-hari ini banyak orang Kristen—walaupun rajin pergi ke gereja, menjadi seorang aktivis atau pengerja gereja atau bahkan seorang pendeta—tidak sungguh-sungguh mengagendakan hidupnya untuk hanya mengumpulkan harta di surga.

Firman Tuhan mengatakan, “Kumpulkanlah harta di surga,” ini berarti memang fokus hidup kita hanya untuk berubah sampai pada titik di mana kita dapat disebut sebagai orang percaya atau orang beriman dengan benar atau menjadi anak-anak Allah yang berkenan di hadapan-Nya. Fakta yang tidak dapat dibantah bahwa yang sering membuat rusak justru adalah para teolog, pendeta, atau pembicara di mimbar yang tidak memberikan standar yang benar dalam mengikut Yesus. Mereka mengajarkan bahwa percaya di dalam pikiran sudah memenuhi standar sebagai orang percaya. Sehingga jemaat merasa sudah puas dengan kehidupaan kekristenan yang mereka miliki. Mereka menjadi orang Kristen tanpa buah-buah kehidupan serupa dengan Yesus. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak merasa puas dengan iman atau kepercayaan yang sudah kita miliki. Kita harus terus bekerja dan tidak boleh berhenti. Bekerja tersebut adalah berjuang untuk bertumbuh dalam kesucian Allah, menjadi serupa dengan Yesus.