Perjuangan Sebagai Anak Allah
25 January 2017

Perbuatan seseorang menunjukkan keadaan batiniah mereka. Dalam hal ini hanya Tuhan yang mengetahui apakah kebaikan yang mereka lakukan, mereka lakukan dengan motivasi yang benar atau tidak, sebab Tuhan yang mengetahui dan menyelidiki keadaan batiniah seseorang. “Keselamatan mereka” sebenarnya juga oleh karena pengorbanan Tuhan Yesus, tetapi bukan seperti orang percaya yang dikembalikan ke rancangan semula Allah dan diperkenan menjadi anggota Kerajaan. Mereka yang di luar Kristen keselamatannya hanya diperkenan masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat. Tentu hanya mereka yang berbuat baik (tidak membahayakan bagi sesama) yang akan diperkenan masuk sebagai anggota masyarakat di Kerajaan Surga nanti (Mat. 25:31-46).

Orang percaya yang mengerti dan menerima pengampunan dosa mendapat tuntutan yang berat yaitu untuk sempurna seperti Bapa. Mereka yang di luar Kristen tidak dipanggil untuk sempurna seperti Bapa, sebab yang dipanggil sempurna hanyalah mereka yang mengenal Bapa di surga. Orang percaya harus meyakini bahwa masalah dosa dalam arti pelanggaran terhadap hukum Taurat dan keadaan meleset (hamartia) sudah diselesaikan tuntas. Oleh pengorbanan Tuhan Yesus tersebut manusia bisa diterima sebagai anak-anak Allah.

Ketika baru diterima sebagai anak Allah seseorang tidak langsung menjadi menjadi anak yang sah (huios), tetapi masih berstatus anak gampang (nothos). Anak gampang belum bisa mengambil bagian dalam kekudusan Bapa (Ibr. 12:9). Itulah sebabnya mereka harus dididik untuk menjadi huios tersebut. Inilah persoalan tersulit dalam kehidupan umat pilihan Allah. Oleh sebab itu orang Kristen harus memeriksa diri apakah layak diterima di rumah Bapa atau tidak. Sebab hanya mereka yang “menjadi saudara bagi Tuhan Yesus”, artinya memiliki keberadaan seperti Tuhan Yesus, yang akan disambut sebagai putra-putri atau pangeran Allah. Inilah perlombaan yang diwajibkan bagi semua orang percaya (Ibr. 12:1).

Harus kita mengerti bahwa banyak teks dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa menjadi anak adalah sebuah proses yang harus diperjuangkan (Yoh. 1:11-13; 12:36; 13:15; Flp. 2:15 dan lain sebagainya). Tetapi banyak orang Kristen yang tidak mengerti atau tidak mau mengerti bahwa menjadi anak-anak Allah seperti yang diinginkan Allah Bapa adalah panggilan yang berat yang harus diperjuangkan. Dengan demikian legalitas atau pengesahan menjadi anak Allah tergantung masing-masing individu. Bertalian dengan ini kita bisa mengerti mengapa Petrus dalam suratnya mengatakan bahwa jika kita menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kita hidup dalam ketakutan selama kita menumpang di dunia ini (1Ptr. 1:17).

Penjelasan ini tidak bermaksud mempersulit seseorang berstatus sebagai anak-anak Allah yang sah dan diperkenan masuk surga, tetapi menunjukkan tanggung jawab sebagai umat pilihan, agar benar-benar terpilih. Inilah harga untuk mengikut Tuhan Yesus guna dilayakkan untuk dimuliakan bersama dengan Yesus. Kalau Perjanjian Baru mengutip kisah Esau dan Yakub sebagai pelajaran rohani, tentu kisah ini memiliki kesejajaran atau analogi dengan kehidupan Kekristenan (Ibr. 12:15-17). Orang percaya harus mengikuti perlombaan yang diwajibkan, perlombaan itu adalah memiliki iman yang sempurna seperti Tuhan Yesus (Ibr. 12:2-5), yaitu ketaatan kepada Bapa. Jadi, perlombaan ini adalah usaha untuk mengesahkan diri sebagai anak Allah.

Dengan penjelasan ini, maka dapat diambil kesimpulan tidak mungkin ada lagi masalah pengampunan di dunia yang akan datang. Pengampunan berkenaan dengan perbaikan hanya berlangsung di dunia hari ini. Hasil dari perbaikan inilah yang akan menempatkan setiap individu di Kerajaan Surga nanti. Dengan demikian tidak ada lagi pengampunan dan penyelesaian dosa setelah penghakiman. Penghakiman adalah titik finalnya. Akhirnya kita harus tegas mengatakan bahwa api penyucian bukanlah pengajaran yang sesuai dengan kebenaran Alkitab.