Peringatan Untuk Pertobatan
26 February 2019

Paulus menunjukkan bahwa sebagaimana orang-orang Israel ditewaskan di padang gurun, kita harus berhati-hati supaya kita juga jangan sampai gagal atau ditolak Allah. Dalam 1 Korintus 10:11 tertulis, “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” Dengan penjelasan ini tidak bisa dibantah bahwa orang yang mengaku percaya dan mengikut Tuhan Yesus pun bisa ditolak. Perhatikan kalimat: “Peringatan bagi kita.” Hal ini menunjuk bukan hanya bagi bangsa Israel pada waktu itu, tetapi juga orang percaya pada masa ini, termasuk Paulus sendiri. Paulus menggunakan kata “kita”. Bisa dimengerti kalau Paulus berjuang agar dirinya tidak ditolak oleh Allah. Harus diperhatikan dengan cermat bahwa ketika Paulus berbicara mengenai penolakan, ia sedang berbicara mengenai usaha memperoleh “mahkota abadi” (1Kor. 9:25-26). Hal ini berarti jelas-jelas terkait dengan pergumulan jemaat dan diri Paulus sendiri

Sangatlah keliru kalau ada yang berpikir bahwa Tuhan menentukan hanya orang-orang tertentu yang sampai di Kanaan sedangkan yang lain ditewaskan di padang gurun. Tuhan merencanakan semua sampai tanah Kanaan, adapun kalau ternyata di perjalanan banyak yang tewas sehingga gagal sampai Kanaan, hal itu bukan karena kesalahan Tuhan tetapi kesalahan mereka sendiri. Tuhan tidak menentukan mereka tewas di padang gurun, tetapi pilihan mereka sendiri. Hal ini paralel atau sejajar dengan proses keselamatan atas individu. Tuhan berusaha membawa umat yang dipilih untuk menghuni Kerajaan Surga, tetapi keputusan dan pilihan masing-masing individu yang menentukan. Dalam 1 Korintus 10:11, Firman Tuhan mengatakan: “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” Ditulis di sini “bagi kita,” artinya juga untuk penulis surat Ibrani sendiri.

Sebagaimana dalam perjalanan di padang gurun dari Mesir ke Kanaan Tuhan tidak menentukan orang yang tidak bisa menolak anugerah atau tidak bisa menerima anugerah untuk sampai tanah Kanaan, demikian pula keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Tuhan tidak pernah bertindak sehingga membuat seseorang tidak bisa menolak anugerah-Nya, juga sisi lain tidak bisa menerima anugerah-Nya. Hal ini perlu ditulis supaya kita yang hidup di zaman akhir ini tidak mengalami seperti yang dialami sebagian besar bangsa Israel yang tewas di padang gurun. Patut kita berhati-hati sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Peringatan Paulus kepada jemaat Korintus tersebut adalah peringatan untuk semua kita yang hidup sekarang ini. Dalam tulisan Paulus tersebut di 1 Korintus 10:1-4, hendak menunjukkan bagaimana Allah telah memperlihatkan perkara-perkara besar dan mereka mengalami hal-hal yang luar biasa, tetapi toh mereka gagal sampai tanah Kanaan. Hal ini menunjukkan bahwa untuk memiliki penurutan terhadap kehendak Allah bukan hal yang mudah. Melihat dan mengalami mukjizat bukanlah jaminan seseorang bisa bertobat sehingga selamat.

Dalam zaman Perjanjian Baru, Tuhan sudah mengadakan mukjizat agar mereka bertobat, tetapi mereka tetap tidak bertobat walaupun sudah membuat mukjizat. Mukjizat bukan tujuan, tetapi menjadi sarana agar mereka bertobat. Dalam hal ini nampaklah bagaimana Tuhan menginginkan orang-orang yang mendengar Injil bertobat dengan melihat mukjizat. Mukjizat sebagai alat bukti bahwa Allah hadir di tengah-tengah mereka dan menghendaki sesuatu yang harus mereka lakukan. Yang mereka harus lakukan adalah berbalik kepada Tuhan dan bertobat, tetapi ternyata mereka tidak bertobat.

Tuhan telah berintervensi sampai pada menunjukkan mukjizat, tetapi Tuhan tidak berintervensi sampai pada kehendak manusia tersebut. Intervensi Tuhan tetap terbatas sebab Tuhan memberikan independensi kepada manusia. Dalam hal ini untuk menghindarkan manusia dari kebinasaan Tuhan memberi peringatan-peringatan-Nya, tetapi Tuhan tidak mengambil alih kehendak bebas manusia. Dalam Alkitab kita menemukan begitu banyak tindakan Tuhan memberi peringatan-peringatan kepada manusia untuk tidak berbuat suatu kesalahan, tetapi keputusan akhir di tangan masing-masing individu.

Peringatan kepada Kain untuk tidak membunuh adiknya Habel, peringatan kepada Daud untuk tidak menghitung jumlah rakyatnya, peringatan kepada penduduk Niniwe, peringatan kepada Yudas dan banyak lagi contoh kasus dalam Alkitab mengenai hal ini. Dalam hal ini Tuhan dalam kedaulatan-Nya mengakui kedaulatan manusia dan tidak melanggarnya, sebab manusia harus menuai apa yang mereka sendiri tabur. Oleh sebab itu kalau seseorang mendapat teguran atau peringatan dari Tuhan, harus segera bertobat; sebab jika tidak, maka Tuhan akan membiarkan seseorang binasa.