Percabulan Rohani
21 March 2020

Kita patut merenungkan: “Apakah yang paling berharga dalam hidup kita? Apakah uang atau harta, nama baik, harga diri, keluarga seperti anak, pasangan hidup, binatang peliharaan, lukisan atau barang antik—bagi yang menyukai barang seni—dan lain sebagainya?” Kita harus memperkarakan dengan serius: “Seberapa puas kita telah menikmatinya? Berapa lama kita akan dapat menikmatinya, dan dampak apa atau akibat kita memiliki dan menikmati hal tersebut?” Pertanyaan ini menggiring kita untuk dapat berpikir sehat, cerdas, dan rohani, yaitu melihat realitas yang tidak dapat dihindari bahwa semua yang kita miliki dan kita nikmati akan berakhir.

Pertanyaan-pertanyaan di atas bisa dianggap mengganggu kebahagiaan hidup kita atau sebaliknya, bisa menyempurnakan kebahagiaan hidup kita. Mengganggu berarti mengurangi perasaan bahagia atau mengganggu kesenangan, karena diingatkan bahwa suatu saat apa yang kita miliki akan kita lepaskan, dan ternyata segala sesuatu yang kita miliki, kalau tidak dikelola dengan benar, tidak membawa akibat apa-apa dalam kekekalan, bahkan bisa membinasakan kita. Tetapi perenungan di atas bisa menyempurnakan kebahagiaan kita, kalau kita menyadari bahwa segala sesuatu itu telah dipercayakan Tuhan kepada kita untuk dinikmati walau sesaat, dan kita dapat gunakan untuk melayani Maharaja guna persiapan kehidupan kekal.

Kita bersyukur, kalau kita bisa menyadari bahwa segala sesuatu yang pada umumnya dianggap berharga, tidak selamanya dapat dimiliki. Dengan demikian, kita dapat menghindarkan diri dari belenggu harta dunia yang dapat menguasai kita. Hari demi hari kita lalui, kita harus melepaskan setiap butir hari, butir bulan, dan tahun. Dan akhirnya, kita harus melepaskan segala sesuatu dari genggaman kita. Dan ternyata, memang tidak ada sesuatu yang dapat kita genggam secara terus-menerus. Segala sesuatu harus dilepaskan. Oleh sebab itu, sebelum kita dipaksa melepaskan segala sesuatu waktu nafas kita berhenti, lebih baik sekarang kita melepaskannya, agar kita dapat diajar untuk memindahkan hati di surga dan dipersiapkan menjadi mempelai Yesus yang tidak bercacat dan tidak bercela.

Harus diakui, semakin banyak kita merasa memiliki sesuatu, semakin berat dan sukar kita melepaskannya. Tentu hal ini tergantung sikap hati. Ada orang yang memiliki sedikit, tetapi juga sukar melepaskannya karena menganggapnya banyak. Tetapi logikanya, semakin orang memiliki banyak, semakin sukar ia melepaskannya. Sebab, ia akan semakin merasa sakit ketika harus melepaskannya. Inilah yang dimaksudkan Yesus lebih mudah seekor unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk surga (Mrk. 10:25). Dalam hal ini, Yakobus mengingatkan agar kita tidak berharap kepada sesuatu yang tidak pasti (1Tim. 6:17-19). Inilah tipu muslihat Iblis untuk membinasakan manusia. Iblis membuat manusia terikat begitu rupa dengan segala sesuatu yang bukan Tuhan. Inilah yang disebut Alkitab dengan percintaan dunia.

Penjelasan di atas bukan mengarahkan agar kita lebih baik menjadi orang miskin, melainkan mengarahkan hidup kita agar tidak terikat dengan dunia ini. Dalam hal ini, yang harus dikelola adalah hati (Luk. 14:33; Mrk. 10:21-22). Kalau seseorang tidak terikat dengan sesuatu, inilah yang disebut sebagai perawan suci (2Kor. 11:1-4). Injil yang benar mengajarkan bagaimana kita terlepas dari ikatan dunia, dan merasa puas dengan Tuhan saja dalam pengharapan terhadap kedatangan-Nya. Tetapi sebaliknya, injil yang lain, justru merangsang orang Kristen mengasihi dunia dan seolah-olah Tuhan menyetujuinya. Hal ini terjadi, sebab pemberitaan Firman yang disampaikan adalah injil palsu yang mengajarkannya demikian. Injil yang palsu menawarkan kemakmuran di bumi ini.

Orang percaya harus menjadi seperti perawan suci. Perawan suci dalam teks aslinya adalah partenon yang artinya hagneen, unmarried daughter (gadis yang tidak menikah atau wanita yang tidak mengikat tali perkawinan dengan pria). Pertanyaan bagi kita adalah: “Apakah kita masih memiliki ikatan dengan sesuatu yang mengganggu ikatan kita dengan Tuhan?” Tanpa disadari, banyak orang telah menjual diri dengan mengikatkan diri dengan pasangan lain selain Tuhan, artinya lebih tertarik dunia daripada hal-hal rohani. Kenyataannya demikian, banyak orang Kristen tidak memberi porsi yang sepatutnya bagi Tuhan. Mereka memberi porsi untuk dunia lebih banyak. Padahal, Firman Allah jelas mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Dalam hal ini, penulis Kitab Ibrani menasihati kita agar kita tidak melakukan percabulan rohani (Ibr. 12:16-17). Percabulan rohani adalah ketidaksetiaan kepada Tuhan karena masih membuka diri terhadap yang lain. Orang percaya harus sepenuhnya memberi hidupnya bagi Tuhan.