Penyerahan Diri Kepada Allah
07 February 2020

Dalam Yakobus 2, Abraham barulah disebut sebagai “sahabat Allah” ketika ia dapat menunjukkan ketaatannya kepada Allah, Elohim Yahweh. Kemudian Abraham pantas disebut sebagai “bapa orang beriman.” Seseorang bisa disebut beriman jika mencapai level seperti yang dicapai oleh Abraham. Pasrahnya Abraham kepada Allah tampak sekali dalam menaati perintah yang sangat tidak bisa dimengerti. Itu adalah iman yang sejati. Puncaknya adalah ketika ia harus mempersembahkan anak tunggalnya sebagai kurban bakaran. Ketika Abraham memercayai Allah sepenuhnya, barulah ia menjadi sahabat-Nya. Inilah ketaatan yang total, mutlak, dan tidak bersyarat. Ketaatan total artinya tidak mencoba untuk mengurangi apa pun yang dikehendaki oleh Allah untuk dilakukan. Ketaatan secara mutlak artinya tidak memberi peluang untuk melonggarkan apa yang seharusnya dilakukan. Ketaatan tidak bersyarat artinya dalam kondisi bagaimana pun tetap teguh melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Untuk menjadi sahabat Allah, seseorang harus memiliki ketaatan yang total, mutlak tak bersyarat kepada Allah, seperti yang dilakukan oleh Abraham, dan secara sempurna telah dilakukan oleh Yesus. Dengan demikian, sangat jelas bahwa percaya atau beriman berarti berjuang untuk melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Kehendak Allah di sini tidak diwakili oleh hukum, tetapi pikiran dan perasaan Allah sendiri. Sehingga percaya kepada Allah berarti memiliki pikiran dan perasaan Allah yang nyata dalam diri Kristus (Flp. 2:5-7), sehingga segala sesuatu yang dilakukan oleh orang beriman yang benar selalu sesuai dengan keinginan Allah.

Abraham dapat disebut sebagai orang beriman ketika percaya kepada Elohim Yahweh dalam wujud tindakan nyata. Tentu sama dengan tindakan Abraham menaati Yahweh, percaya kepada Tuhan Yesus berarti mengikuti jejak hidup Yesus ketika Ia mengenakan tubuh daging selama tiga setengah tahun di Palestina. Yesus menaati Bapa sampai mati di kayu salib, sebuah ketaatan yang total, mutlak, dan tak bersyarat. Orang yang mengaku percaya kepada Yesus harus memiliki ketaatan kepada Allah Bapa secara total, mutlak, dan tak bersyarat. Jika demikian, barulah terpenuhi Firman Tuhan bahwa Yesus menjadi yang sulung bagi kita. Dengan demikian, barulah seseorang dapat dikatakan sebagai orang percaya.

Penyerahan diri ini menunjukkan kepercayaan kepada Pribadi Allah. Ketika Abraham harus keluar dari negerinya untuk menuju negeri yang Allah akan tunjukkan, ia tidak tahu negeri yang dimaksud oleh Allah. Sama sekali ia belum pernah mendengar mengenai negeri itu. Tetapi ia menaruh percaya kepada Allah tanpa ragu-ragu sama sekali. Ia harus mengganti namanya menjadi Abraham—yang artinya bapa banyak bangsa—padahal ia belum memiliki anak. Tetapi ia percaya tanpa ragu-ragu, dan melakukan apa yang Allah kehendaki. Bahkan, ketika ia harus mempersembahkan anak satu-satunya, ia melakukannya walau ia sudah tua dan tertutup kemungkinan sama sekali untuk memiliki keturunan. Penyerahan diri berarti ia bersedia tidak melihat hari depan. Abraham hanya melihat Allah yang memerintahkan dirinya untuk melakukan suatu tindakan, walau tindakan itu dalam perhitungan manusia menghancurkan masa depannya. Penerimaan Maria atas kehamilannya menunjukkan penyerahannya yang luar biasa. Ia tidak takut masa depannya hancur.

Penyerahan diri seperti ini yang harus juga kita miliki. Yesus menghendaki agar kita meninggalkan dunia, artinya agar kita tidak terikat dengan keindahan dunia. Dengan demikian, orang percaya harus tidak lagi dapat dibahagiakan oleh dunia ini. Segala sesuatu yang kita upayakan dalam hidup bukan untuk kesenangan diri kita sendiri, melainkan untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Rasul Paulus membahasakan kebenaran ini dengan kalimat: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Kehidupan seperti ini seakan-akan menutup mata kita terhadap masa depan. Dari hari ke hari hanya hidup untuk kepentingan Tuhan. Sebagai orang percaya, kita harus menjalani dengan percaya bahwa hari esok bisa dilalui. Inilah penyerahan yang benar.

Yesus mengatakan bahwa dunia bukan rumah kita. Ia sendiri mengatakan bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi kita. Yesus menjanjikan langit baru dan bumi yang baru. Kita harus meyakini penuh apa yang dikatakan oleh Yesus. Dengan demikian, kita hidup sekarang ini hanya untuk persiapan pulang ke rumah Bapa di mana Yesus berada. Kita tidak boleh mengharapkan kebahagiaan, ketenangan, dan kemapanan di bumi ini. Mata kita harus tertuju ke Rumah Bapa. Sejak di bumi, kita harus sudah memindahkan hati kita di surga, memikirkan dan mencari perkara-perkara yang di atas, artinya tidak lagi berfokus kepada perkara-perkara dunia. Inilah penyerahan yang benar yang harus kita miliki.