Penolakan Dari Kehendak Bebas
30 May 2019

Di dalam Roma 9:4-8, tertulis: “Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji. Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin! Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: ‘Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.’ Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar.”

Melalui ayat-ayat di atas, Paulus hendak menunjukkan bahwa bangsa Israel adalah umat pilihan yang sangat istimewa; yaitu diangkat menjadi anak, menerima kemuliaan, perjanjian-perjanjian, hukum Taurat, ibadah, dan keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia. Walaupun demikian, tidak semua mereka menjadi anak-anak perjanjian, artinya tidak semua mereka akan diakui sebagai umat pilihan; milik Allah. Keberadaan mereka yang istimewa tersebut bukanlah jaminan bahwa mereka menjadi umat Allah yang abadi di Kerajaan Surga nanti.

Dalam Roma 9:6-8 tertulis: “Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel.” Dalam ayat ini Abraham mau menunjukkan siapa sebenarnya yang dimaksud Israel itu. Israel yang sesungguhnya bukan mereka yang berbangsa Israel dari suku-suku yang dilahirkan oleh Yakub (Israel). Terkait dengan hal ini Paulus mengatakan dalam tulisannya kepada jemaat Efesus 2:11-13, “Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat,’ yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, — bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu ‘jauh,’ sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus.” Ayat ini menegaskan apa yang Paulus tulis di dalam Roma 2:29, “Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.”

Dalam tulisannya ini Paulus hendak menunjukkan bahwa zaman Perjanjian Lama sudah berlalu. Sesudah Yesus datang ke dunia menebus dosa manusia, maka manusia memasuki zaman baru yaitu zaman anugerah; zaman Perjanjian Baru. Kebanggaan sebagai umat pilihan secara darah daging sudah tidak mendapat tempat lagi. Umat pilihan Allah tidak lagi berdasarkan garis keturunan secara darah daging, tetapi berdasarkan iman. Itulah sebabnya Paulus menulis: “Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal.”

Ada kesulitan untuk memahami kalimat dalam Roma 9:6, “Akan tetapi Firman Allah tidak mungkin gagal.” Apa yang dimaksud ayat ini? Teks asli ayat ini adalah ouks hoin de oti ekpeptoken ho logos tou theou (Οὐχ οἷον δὲ ὅτι ἐκπέπτωκεν ὁ λόγος τοῦ θεοῦ). Kata ekpeptoken dari akar kata ekpipto (ἐκπίπτω) yang bisa berarti beberapa hal, antara lain: Fall off or from, drift off course, run aground, fig lose, fail, weaken (jatuh atau dari, hanyut, kandas, kalah, gagal, melemah). Jika dikaitkan dengan ayat-ayat sebelumnya maka Roma 9:6 seharusnya berbunyi: “Ini bukan berarti Firman Allah gagal….” Dalam terjemahan bahasa Inggris lebih jelas diterjemahkan dengan: “Their condition does not mean that God’s word has failed.”

Walaupun bangsa Israel berkeadaan begitu istimewa bukan berarti hal itu menjamin kepastian bahwa mereka akan tetap permanen sebagai umat pilihan. Penolakan mereka terhadap Mesias, mengakibatkan mereka tertolak sebagai umat pilihan yang terpilih. Kegagalan mereka menjadi umat pilihan Perjanjian Baru yang terpilih, bukan berarti menunjukkan bahwa Firman Allah gagal. Keadaan di mana sebagian bangsa Israel yang akhirnya tidak menjadi umat pilihan Perjanjian Baru, tidak menunjukkan kegagalan Allah menjadikan mereka umat pilihan. Pemilihan mereka sebagai umat pilihan (secara darah daging dari keturunan Abraham) tidak menjamin dengan pasti mereka dapat tetap menjadi umat Allah Perjanjian Baru yang adalah umat pilihan yang kekal. Meneguhkan hal ini perlu kita mengamati kisah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan. Walaupun Allah yang memilih bangsa itu untuk keluar dari Mesir dan Allah menghendaki mereka dapat mencapai Kanaan, tetapi ternyata sebagian besar mereka tewas di padang gurun. Hal ini bukan karena Allah gagal. Kehendak bebas bangsa Israel secara komunitas dan kehendak bebas masing-masing secara pribadi sangat menentukan keselamatan mereka.