Penghakiman Atas Anak-Anak Allah
17 June 2019

Setiap orang Kristen pasti mengaku sebagai anak-anak Allah. Benarkah setiap orang Kristen adalah anak-anak Allah? Dan biasanya mereka berpikir kalau menjadi anak-anak Allah dalam penghakiman atau pengadilan, pasti masuk surga. Bagaimana sebenarnya seseorang pantas disebut sebagai anak-anak Allah? Dalam Roma 8:14 Alkitab mencatat bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak-anak Allah. Kata “dipimpin” dalam teks aslinya adalah agontai (ἄγονται) dari akar kata ago (ἄγω), selain berarti memimpin (to lead) juga berarti “dibawa” (to bring; to carry) atau dimotori (to drive). Istilah “anak Allah” ini (Ibr. ben Elohim) muncul pertama dalam Kejadian 6:1-3. Siapa sebenarnya anak-anak Allah di Kejadian 6:1-3 tersebut dan apa dasarnya mereka disebut anak-anak Allah?

Dalam Ibrani 12:8 terdapat kata “anak gampang”. Apa sebenarnya maksudnya? Dalam teks asli Alkitab, kata “anak gampang” di sini adalah “nothos” (νόθος) yang artinya anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate son). Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard). Dalam Yunani, selain ada kata nothos, juga ada kata huios (υἱός) yang artinya anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, ada anak yang berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orang tua, atau seperti pangeran; tetapi ada anak gampang, anak yang tidak sah yang tidak akan mewarisi kekayaan orang tua. Dalam kehidupan orang Kristen juga terdapat orang-orang yang tergolong sebagai nothos dan sebagai huios. Kalau jujur, Saudara termasuk yang mana?

Berbicara mengenai anak-anak Allah, perlu kita meninjau Yohanes 1:12. Bagi mereka yang percaya, diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah. “Kuasa” itu dari teks aslinya exousia (ἐξουσία), yang artinya hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak-anak Allah. Fasilitas itu adalah pemeliharaan Tuhan, Roh Kudus, Firman, dan penggarapan intensif Allah atas orang yang mengasihi Dia.Jadi kuasa itu tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak Allah. Tetapi kuasa itu diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah. Jadi kalau seseorang tidak memanfaatkan kuasa itu, maka seseorang tidak pernah menjadi anak Allah. Menjadi anak Allah berarti berkarakter seperti Allah atau sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Panggilan sebagai orang percaya hanya ini: Menjadi serupa dengan Bapa.

Pada waktu seseorang dengan mulut mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka ia diberi kuasa atau hak supaya menjadi anak-anak Allah. Ini belum tentu membuat dia sudah sah sebagai anak-anak Allah (Yun. huios). Ia masih berstatus nothos, yang artinya anak yang belum atau tidak sah. Jika kemudian ia memanfaatkan kuasa atau hak itu, maka ia akan bertumbuh menjadi anak-anak Allah yang sah. Jika tidak, maka ia tidak akan bertumbuh. Ciri dari nothos adalah tidak mau dihajar dan diajar Bapa.

Pada zaman penggenapan ini, Allah hendak melahirkan orang yang menerima Tuhan Yesus supaya menjadi anak-anak Allah, inilah tujuan penyelamatan. Tujuan keselamatan pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dengan berkeadaan sebagai anak-anak Allah, maka seseorang barulah mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian, seseorang dikatakan berstatus sebagai anak-anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Berkeadaan sebagai anak-anak Allah maksudnya memiliki tanda atau ciri, yaitu seperti Yesus yang melakukan kehendak Bapa.

Fakta yang kita saksikan dalam kehidupan banyak orang Kristen, mereka sudah merasa nyaman karena merasa sudah menjadi anak-anak Allah yang sah. Mereka yakin kalau mati pasti diterima masuk surga. Padahal mereka belum pantas menyandang status sebagai anak-anak Allah, karena keberadaan mereka belum sebagai anak-anak Allah. Kebodohan yang ada dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini sesungguhnya membinasakan mereka tanpa mereka sadari. Betapa celaka kalau gereja tidak memberi peringatan yang tegas. Bisa dimengerti kalau Paulus mengatakan terkutuklah orang yang mengajarkan Injil yang berbeda dengan Injil yang diberitakannya. Banyak orang Kristen merasa sudah menjadi anak-anak Allah, padahal belum sah sebagai anak-anak Allah, jadi masih berstatus tidak sah (nothos), sementara mereka merasa sudah menjadi anak Allah yang sah (huios). Di pengadilan Kristus nanti mereka pasti ditolak oleh Allah sebab mereka belum berkeberadaan sebagai anak-anak Allah, yaitu belum melakukan kehendak Allah yang standarnya adalah Yesus.