Penggalian Alkitab Terus Menerus
30 April 2019

Bagi individu atau sebuah komunitas yang meyakini bahwa Allah memang menentukan adanya orang-orang yang dikasihi dan yang tidak dikasihi, akan memberi keyakinan kepada individu atau komunitas tersebut bahwa mereka sudah pasti selamat. Kalau dipertanyakan apa alasan mereka dipilih untuk masuk surga? Biasanya jawabnya adalah karena “kasih karunia.” Hal ini dikarenakan mereka merasa telah memiliki kasih karunia tersebut, sedangkan yang lain tidak diberi kasih karunia. Menurut individu atau komunitas ini, orang-orang tersebut sudah ditetapkan untuk tidak bisa menerima kasih karunia dari Tuhan. Individu atau komunitas seperti ini adalah orang-orang yang tidak memikirkan keselamatan orang lain secara proporsional. Mereka membiasakan diri merasakan apa yang diyakini, bukan apa yang dialami.

Teologi seperti di atas tidak memiliki implikasi yang wajar. Tidak heran kalau teologi mereka lebih kepada aktivitas dalam pikiran, tetapi tidak dalam pengalaman konkret. Untuk itu teologi mereka lebih bersifat falsafi untuk memuaskan pikiran saja. Pada umumnya penganut ajaran ini, akan menerima saja “kedaulatan Allah” tersebut. Mereka merasa lebih menghormati Tuhan dengan menerima “kedaulatan Allah.” Padahal sejujurnya, malah sebaliknya, mereka tidak menerima kedaulatan Allah yang memberi kehendak bebas kepada manusia. Menganalisa “tindakan Tuhan memilih dan menentukan” mereka yang akan selamat bukan sesuatu yang sederhana dan tidak boleh disederhanakan (Ef. 1:4-5). Efesus 1:4-5 dan ayat-ayat lain yang isinya sejajar dengan ini, secara hurufiah dan dalam pengertian yang sempit, mengesankan bahwa Tuhan telah menentukan siapa yang akan selamat, yang berarti juga menentukan atau membiarkan mereka yang akan binasa di api kekal. Pandangan ini telah mengakar di pikiran sebagian orang Kristen dan diakui dapat mewakili kebenaran Alkitab yang murni.

Hendaknya kita berpikir secara mendalam dan jujur terhadap teks-teks semacam itu supaya kita tidak terjebak pada usaha memformulasikan teks alkitab secara gegabah. Jangan dibelenggu dengan konsep doktrin yang sudah ada, siapa pun perumusnya, seakan-akan konsep tersebut sejajar atau berkekuatan setara dengan Firman Tuhan. Bila ada usaha untuk mengoreksi atau merevisi pandangan yang sudah ada tersebut, hendaknya tidak disikapi sebagai pandangan yang dangkal, tidak berpengetahuan teologi yang eksklusif serta dianggap sebagai tinjauan yang tidak berdasarkan Alkitab. Padahal Tuhan akan terus membuka rahasia-rahasia Firman Tuhan lebih dalam dan tajam, seiring dengan perkembangan iptek yang mengagumkan. Kalau sudah lebih dulu bersikap apriori terhadap pandangan baru yang muncul, maka individu atau komunitas tertentu itu tidak akan bisa bersikap obyektif. Cenderung menjadi resisten, arogan, dan picik. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah menemukan inovasi-inovasi yang akan Tuhan bukakan bagi jemaat-Nya di zamannya.

Alkitab harus diletakkan di atas dogma atau doktrin dan ajaran manapun, juga di atas pandangan teolog manapun. Observasi dan eksplorasi terhadap Alkitab tidak akan dan tidak boleh berhenti. Itu adalah tanggung jawab setiap orang percaya sampai Tuhan datang kembali. Harus selalu ada usaha untuk memeriksa kembali apakah pandangan yang selama ini dianggap Alkitabiah benar-benar Alkitabiah atau tidak. Fakta empiris dalam sejarah gereja membuktikan, bahwa gereja-gereja dan ajaran-ajaran yang berumur ratusan tahun ternyata memuat ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil yang murni. Untuk itu sebagai gereja dan orang percaya kita harus bersedia dikoreksi. Jangan merasa bangga dan puas dengan pandangan teologi yang sudah ada seolah-olah kebenaran Firman Tuhan sudah termargin dan orang Kristen hanya bisa mewarisi dan melestarikan tanpa sikap kritis. Mereka membela buta ajaran yang diyakini benar, karena tidak mau dianggap sebagai orang bodoh atau berkhianat terhadap seorang tokoh teolog atau denominasi gereja.

Menjelang berakhirnya dunia, Tuhan akan membuka rahasia Firman-Nya yang murni dan tidak terubahkan lagi. Ini merupakan penyingkapan kebenaran di akhir zaman. Sementara mereka yang tetap mempertahankan doktrin leluhurnya, akan terpenjara oleh doktrin tersebut dan pengajarannya akan tertinggal. Kalau suatu ajaran atau pandangan yang harus dikoreksi berasal dari seorang bapak gereja, tentu kita tidak boleh mengurangi rasa hormat kita kepada beliau, tetapi kita harus menyadari bahwa manusia adalah tetap manusia yang terbatas. Tidak ada yang sempurna. Kita bersyukur kepada Tuhan atas hadirnya pahlawan-pahlawan iman tersebut. Keberadaan kita adalah untuk melengkapi mereka. Sangat mungkin, pandangan mereka efektif sekali untuk meluruskan kehidupan umat dan gereja pada masanya, tetapi tidak efektif lagi untuk masa yang berbeda. Sama seperti kita tidak mengurangi rasa hormat kita kepada penulis Alkitab yang dalam kesederhanaan pola berpikir mereka pada saat itu, terkait adanya hal-hal yang kelihatannya bertentangan dengan ilmu pengetahuan masa kini.