Pengampunan Atas Semua Orang
24 January 2017

Menghindari dosa menghujat “Roh Kudus” ini seseorang harus berusaha memeriksa diri apakah ada sesuatu yang Tuhan tidak berkenan dalam hidupnya. Hal ini dimulai dari perkara-perkara kecil. Orang percaya harus menjaga agar tidak menyimpan dosa sekecil apa pun, sebab dosa yang dipelihara akan menjadi besar dan orang menjadi sejahtera melakukannya karena kebiasaan. Oleh sebab itu setiap kali Tuhan menegur kita, kita harus bertobat. Sarana Tuhan memberi peringatan melalui beberapa sarana antara lain: suara Tuhan melalui Firman, melalui hati atau batin, secara khusus seperti penglihatan nubuat dan lain sebagainya, dan melalui peristiwa-peristiwa kehidupan.

Orang percaya harus belajar terus melakukan kehendak Bapa, sehingga melakukan kehendak Bapa menjadi irama kehidupan kita. Tidak ada yang lebih penting dalam hidup ini selain “melakukan kehendak Bapa”. Hal inilah yang menjadi ukuran Tuhan Yesus mau mengaku mengenal kita atau tidak. Dalam Matius 7:21-23 Tuhan Yesus mengatakan bahwa hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang diperkenan masuk ke dalam kemuliaan Bapa. Dengan pernyataan Tuhan Yesus ini, kita peroleh pelajaran rohani bahwa keselamatan kita tidak berhenti sampai kita percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, tetapi sampai berstatus melakukan kehendak Bapa. Tentu orang-orang yang ditolak Tuhan dalam Matius 7:21-23 bukan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan, tetapi mereka tidak melakukan kehendak Bapa. Setelah percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat kita harus dimuridkan, didewasakan dan bertumbuh agar menjadi seorang yang melakukan kehendak Bapa.

Dalam teks aslinya kalimat “di dunia ini” bisa juga diterjemahkan “di kehidupan sekarang ini”. Hal ini menunjukkan bahwa bagi mereka yang menghujat Roh Kudus sampai kapan pun tidak ada pengampunan. Dengan pernyataan ini menunjukkan bahwa seorang yang menghujat Roh Kudus tidak akan menerima penggarapan Tuhan sebab Roh Kudus satu-satunya perwakilan Allah. Tanpa penggarapan Roh Kudus berarti tidak akan ada perbaikan atas kehidupan seseorang, sebab pengampunan dimaksudkan agar seseorang yang diampuni menerima perbaikan. Pengampunan bukan sekadar penghapusan dosa.
Dalam Kekristenan pengampunan diberikan kepada orang percaya bukan hanya membuat dosa-dosanya terampuni sehingga diloloskan dari api kekal, tetapi juga agar orang percaya memiliki dan melakukan perjuangan untuk mencapai keberadaan sebagai ciptaan yang sesuai dengan rancangan Allah semula. Inilah maksud pengampunan diberikan dan keselamatan disediakan. Pada dasarnya kematian Tuhan Yesus di kayu salib mengangkut dosa dunia. Semua kesalahan yang dilakukan semua manusia yang pernah hidup dari sejak zaman Adam sampai manusia terakhir telah diselesaikan di kayu salib. Dosa yang dipikul oleh Tuhan Yesus adalah semua dosa manusia, baik orang Kristen maupun bukan orang Kristen, baik mereka yang hidup di zaman anugerah maupun hidup sebelum zaman anugerah.

Dengan demikian Tuhan Yesus mati bukan hanya untuk orang Kristen tetapi untuk semua orang yang pernah hidup di atas muka bumi ini. Jelas sekali dalam pernyataan Yohanes: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 2:29). Harus dimengerti bahwa ketika Yohanes mengucapkan kalimat tersebut, ia ada di lingkungan para pemimpin agama Yahudi, masyarakat umum Yahudi dan prajurit-prajurit Roma yang tidak berkebangsaan Yahudi. Hal ini berarti bahwa pernyataan tersebut ditujukan kepada dunia.

Orang percaya tidak boleh menyamakan dirinya dengan orang yang ada di luar Kristen. Perbedaan orang percaya dengan mereka yang ada di luar Kristen adalah mereka tidak mengenal penanggungan dosa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, tetapi kita mengerti pengorbanan Tuhan Yesus memikul dosa-dosa dunia. Walaupun mereka yang di luar Kristen tidak pernah mengerti pengampunan ini, tetapi akibat dosa-dosa yang dilakukan oleh mereka dipikul oleh Tuhan Yesus. Apakah berarti mereka semua akan mudah masuk Surga? Tentu tidak. Mereka akan dihakimi menurut perbuatan mereka. Tentu bukan perbuatan itu sendiri yang menentukan mereka diperkenankan masuk dunia yang akan datang atau tidak, tetapi bagaimana kualitas diri mereka yang tercermin dari keadaan nurani mereka (Rm. 2:12-16).