Pemulihan Neshamah
26 June 2017

Firman Tuhan mengatakan bahwa roh manusia adalah pelita TUHAN yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Ams. 20:27). Kata roh dalam ayat ini tidak menggunakan kata ruakh (חוּר), tetapi neshamah (המָשָׁנְ). Kata neshamah selain memiliki unsur kehidupan, juga menunjukkan adanya unsur kesadaran. Inilah yang dihembuskan Allah pada waktu penciptaan manusia (Kej. 2:7). Tentu pada waktu Allah menghembuskan neshamah, neshamah manusia masih kosong, karena belum memiliki kualitas. Kualitasnya ada di nuraninya. Dengan neshamah ini, manusia bukan saja mampu bergerak melakukan aktivitas karena dorongan mempertahankan hidup seperti hewan, tetapi juga bertindak dalam tatanan Tuhan. Neshamah inilah yang mestinya berfungsi sebagai pelita Tuhan. Pelita di sini maksudnya adalah sarana untuk memberi tuntunan agar manusia tidak salah melangkah. Jadi pengertian bahwa roh (neshamah) manusia pelita Tuhan adalah bahwa Tuhan memberi tuntunan secara berkesinambungan pada nurani manusia di dalam neshamah-nya agar dapat berperilaku selalu sesuai dengan kehendak-Nya.

Kemampuan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan atau hidup dalam tatanan-Nya hanya ada pada manusia yang didewasakan atau disempurnakan. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Binatang dengan segala kecerdasannya tidak memiliki komponen ini. Hanya manusia yang diberi kemampuan untuk mengerti kehendak Penciptanya dengan sempurna. Kejatuhan manusia ke dalam dosa sama dengan tindakan manusia merusak neshamah, sehingga neshamah-nya tidak lagi dapat menjadi pelita Tuhan atau tidak dapat menjadi sarana Tuhan menuntun manusia hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Manusia yang berdosa tidak mampu hidup sesuai dengan kehendak Tuhan (sempurna). Dalam hal ini manusia kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Kehilangan kemuliaan Allah pada dasarnya adalah keadaan di mana nurani manusia tidak mampu memahami kehendak Allah dan melakukannya.

Manusia yang jatuh dalam dosa hanya mampu hidup sesuai dengan hukum yang diberikan Tuhan secara tidak sempurna, tetapi tidak mampu melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Padahal rancangan Allah sejak semula adalah manusia memiliki keberadaan segambar dan serupa dengan Allah. Dengan keberadaan tersebut manusia dapat bertindak seperti Allah bertindak; manusia memiliki moralitas Allah. Sesungguhnya manusia dirancang bukan saja memiliki pikiran dan perasaan serta kehendak (tselem) seperti Allah, tetapi juga kualitas (demuth) komponen-komponen tersebut seperti Allah. Manusia dapat menyelenggarakan hidup dengan sempurna sesuai dengan kehendak Allah, dalam penggunaan pikiran, perasaan dan kehendaknya.

Fakta yang terjadi, sebenarnya kejatuhan manusia ke dalam dosa bukan disebabkan oleh satu kali tindakan salah, tetapi sebuah proses panjang di mana Adam secara terus menerus memilih yang bukan dari Allah, sehingga nurani dalam neshamah-nya menjadi rusak. Hal ini mengakibatkan manusia tidak mampu lagi mengerti kehendak Allah dengan sempurna serta tidak mampu untuk melakukannya. Manusia tidak lagi bisa diperbaiki untuk segambar dengan Allah. Kemudian hari, setelah datang keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus, manusia dapat dikembalikan kepada rancangan semula, yaitu menjadi makhluk yang segambar dengan Allah sendiri. Jadi, keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula; menempatkan neshamah menjadi pelita Tuhan secara ideal sehingga segala sesuatu yang dilakukan manusia sesuai dengan Tuhan secara sempurna. Hal ini sama dengan memperbaiki nuraninya.

Bagaimana neshamah manusia menjadi pelita Tuhan? Hal ini tidak dapat terjadi secara otomatis dan mistik. Harus diusahakan dengan terus menerus mengisi pikiran dengan kebenaran Injil. Pada dasarnya kebenaran Injil itu adalah pikiran Tuhan yang dapat membentuk cara berpikir Ilahi (pikiran perasaan Kristus; Mat. 4:4). Kebenaran Injil yang dimengerti dengan pikiran saja hanya menjadi logos. Melalui pengalaman hidup setiap hari, Roh Kudus menerjemahkan logos menjadi rhema (Firman). Rhema adalah logos yang diterjemahkan secara konkret melalui atau di dalam situasi konkret. Seseorang tidak akan mengerti yang dimaksud dengan mengasihi musuh sebelum ia bertemu dengan orang yang memusuhinya. Orang tidak mengerti artinya percaya sebelum berinteraksi langsung dengan Tuhan. Rhema inilah yang menjadi makanan rohani.

Jika secara terus menerus rhema diberikan melalui pengalaman konkret, maka hal tersebut membentuk atau membangun hati nurani di roh atau neshamah-nya. Pada dasarnya nurani yang dipenuhi dengan kebenaran Firman menghasilkan kecerdasan roh. Kecerdasan roh ini sama dengan cara berpikir Tuhan. Kecerdasan roh inilah yang memberi kualitas pada nurani yang ada di neshamah-nya. Neshamah yang terbentuk tersebut dapat menjadi pelita Tuhan untuk dapat menuntun seseorang agar dapat berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan dengan sempurna. Hati nurani di dalam neshamah yang tidak mengalami pembaharuan atau pemulihan, sehingga tetap dalam keadaan rusak, tidak dapat menjadi pelita Tuhan.