Pemerintahan Tuhan
19 October 2019

Orang percaya yang mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah berarti hidup dalam pemerintahan Allah. Orang percaya seperti ini akan selalu mencari kehendak Tuhan untuk dilakukan. Sebelum seseorang mengenal pemerintahan Tuhan, ia hidup sesuka hatinya sendiri. Dirinya sendirilah yang menjadi tuan atas hidupnya. Inilah pemerintahan diri sendiri. Tetapi ketika menjadi orang percaya, ia harus hidup dalam pemerintahan Allah, maka ia harus sudah mulai mencari kehendak Tuhan untuk dilakukan. Masalah krusial yang harus disadari adalah bahwa perubahan dari pemerintahan diri sendiri kepada pemerintahan Tuhan merupakan sebuah proses. Proses ini adalah proses yang berat dan bisa menyakitkan, sebab untuk menurunkan si “aku” dari takhta bukan hal yang mudah. Inilah revolusi dalam kehidupan yang sangat penting untuk dialami. Revolusi ini berlangsung setiap hari. Jadi, tidak ada hari yang boleh bebas dari proses revolusi ini, itulah sebabnya revolusi tidak mengenal hari.

Kesediaan untuk mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah dengan menerima pemerintahan Allah berlaku dalam hidup, akan berdampak atau nyata dalam sikap hidup setiap hari. Orang percaya seperti ini akan bertindak lebih berhati-hati dalam segala hal. Orang percaya harus selalu sadar bahwa dirinya bukan berada di daerah yang tak bertuan, tetapi di dalam wilayah pemerintahan Tuhan yang berhukum. Pada dasarnya, keyakinan dan penerimaan terhadap pemerintahan Allah dan kekuasaan-Nya bukan bertujuan untuk memanfaatkan Tuhan demi kepentingan diri sendiri terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi merupakan persiapan untuk hidup dalam pemerintahan Tuhan di Kerajaan-Nya nanti di langit baru dan bumi yang baru. Dengan demikian, seorang yang hidup dalam pemerintahan Tuhan mulai memberi diri dibelenggu oleh pemerintahan-Nya.

Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah atau hidup dalam pemerintahan Allah sebenarnya adalah jalan kepada kemerdekaan hidup yang sejati. Sebab kalau seseorang tidak dibelenggu oleh Kerajaan Allah, maka berarti terbelenggu oleh kekuatan kerajaan lain. Kerajaan lain tersebut tentu saja adalah kerajaan kegelapan. Ini berarti kebinasaan. Jadi, kalau seseorang tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, berarti berpotensi mendatangkan atau menghadirkan kerajaan kegelapan. Oleh sebab itu, tidak bisa dihindari bahwa orang percaya harus mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah untuk hidup dalam pemerintahan-Nya. Mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah untuk mengalami pemerintahan Tuhan adalah sebuah kehidupan yang menyerah kepada pengaturan Allah sepenuhnya. Berarti, tidak seseorang pun yang menyatakan diri percaya kepada Yesus dan mengucapkan Doa Bapa Kami, yang boleh lagi mengatur dirinya sendiri. Ia harus memberi diri diatur oleh Allah secara mutlak dan absolut. Kalau orang percaya sampai pada level kehidupan seperti ini, maka hal itu menunjukkan kedewasaan rohani yang menyenangkan hati Bapa.

Tidak sedikit orang Kristen yang hidupnya di bawah pengaturan diri sendiri, tetapi mereka tidak menyadari keadaan mereka yang berbahaya tersebut. Biasanya orang-orang seperti ini disesatkan oleh roh-roh jahat, sehingga mereka tidak mengerti kehendak dan rencana Allah dalam hidup mereka untuk digenapi. Penyesatan ini bukan hanya terjadi secara individu, tetapi juga secara komunitas. Hal ini nampak pada gereja-gereja yang memiliki segudang program yang tidak dikonfirmasikan dengan Allah. Mereka tidak sungguh-sungguh menggumuli setiap program di hadapan Allah. Mencari kehendak Allah dengan mendengar suara Tuhan sudah digantikan sistem lain yang dianggap lebih canggih, yaitu pola kerja hasil karya rasio manusia.

Dalam kehidupan pribadi, tidak banyak orang yang mendiskusikan rencana-rencana dan keinginan-keinginan hatinya dengan Tuhan. Banyak orang berjalan sesuai dengan selera, perhitungan, dan keinginannya sendiri. Dengan sesuka hati mereka sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan Allah, mereka bertindak seperti membeli suatu barang, memilih sekolah, memilih jodoh, pindah rumah, bisnis, tempat kerja, dan lain sebagainya. Rupanya mendengar suara Tuhan untuk mohon pimpinannya dianggap mustahil, rumit, dan tidak berlaku lagi di zaman sekarang. Bagi mereka suara Tuhan dianggap sudah mati (Yes. 2:3-4). Menurut pemikiran orang modern sekarang ini, pikiran manusialah yang harus berjalan dan manusia itu sendiri yang harus bertindak sesukanya. Dengan cara ini mereka mengisolasi diri dari Allah. Inilah keadaan hidup orang yang tidak mendatangkan atau menghadirkan Kerajaan Allah, sehingga mereka hidup dalam pemerintahan diri sendiri. Tentu doanya bukanlah “Kehendak-Mu yang jadi”, tetapi “kehendakku yang jadi.” Inilah orang-orang yang memiliki dirinya sendiri dan mempersembahkan diri kepada kuasa kegelapan.