Pelayanan Tanpa Batas
29 December 2017

Setelah melayani pekerjaan puluhan tahun, barulah saya menyadari benar apa yang dimaksud dengan pelayanan itu. Pada dasarnya, yang saya pahami mengenai pelayanan selama ini adalah apa yang saya lihat dari para pejabat gereja, aktivisnya, dan pendidikan teologi yang saya pelajari di sekolah tinggi teologi. Pengertian saya dulu mengenai pelayanan adalah kegiatan di sekitar gereja yang dilakukan oleh mereka yang memiliki legitimasi (pengesahan) untuk pelayanan, yaitu para pejabat gereja dan yang lulus dari sekolah Alkitab. Konsep saya mengenai pekerjaan pelayanan antara lain khotbah, memimpin puji-pujian, mengorganisir serta berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan gereja. Itulah sebabnya, kalau saya mengajak orang melayani Tuhan itu berarti ikut serta dalam kegiatan gereja. Konsep pelayanan yang tidak tepat ini membatasi pelayanan secara utuh dan lengkap yang seharusnya dilakukan setiap orang percaya bagi Tuhan. Harus diingat, bahwa menyembah Allah harus dalam Roh dan kebenaran, artinya ibadah yang tidak dibatasi oleh ruangan dan waktu serta sistem yang dibuat manusia (Yoh. 4:24). Konsep yang salah mengenai pelayanan menutup peluang banyak anak Allah untuk melayani pekerjaan-Nya, sehingga banyak orang-orang yang tidak pernah melayani Tuhan sepanjang umur hidupnya.

Selama ini tanpa disadari telah bertahun-tahun terbangun “kerajaan manusia di dalam gereja” yang menjurus kepada “game” atau permainan manusia bukan pekerjaan Tuhan. Kegiatan orang Kristen hanya diakui telah mewakili pemerintahan Tuhan, apabila melakukan pekerjaan Tuhan di dalam gereja. Hal ini mengesankan bahwa tidak ada kegiatan di luar gereja yang merupakan kegiatan perwujudan pemerintahan Tuhan dalam kehidupan orang percaya. Dalam sejarah gereja telah tercatat kesalahan ini (Mat. 23:15). Para pejabat gereja mengambil keuntungan materi dan non materi dari konsep yang salah tersebut. Mereka menjadi sangat berkuasa mendominasi kehidupan umat dan memanipulasi kehidupan umat untuk kepentingan pribadi dan institusi dengan menggunakan nama Tuhan. Sebagai akibatnya, terbentuk strata dalam gereja, strata pelayan Tuhan dan bukan pelayan Tuhan. Timbul konsep pekerjaan gereja dan pekerjaan dunia, imam dan awam.

Hari ini kesalahan tersebut terulang. Dengan munculnya nabi-nabi palsu yang mengatasnamakan Tuhan, mengajarkan ajaran-ajaran yang sebenarnya tidak Alkitabiah mempengaruhi umat untuk tenggelam dengan kegiatan gereja, seolah-olah itulah yang disebut sebagai mencari dan melayani Tuhan untuk menjadi umat yang berkenan kepada-Nya guna meraih berkat jasmani dan sorga. Padahal kenyataannya tidaklah demikian, kegiatan gereja baru sebagian dari usaha untuk mencari dan melayani Tuhan.

Kerajaan manusia di dalam gereja harus diganti menjadi Kerajaan Tuhan, artinya bahwa pemerintahan Tuhan harus terselenggara dalam kehidupan orang percaya dalam seluruh kegiatannya, bukan hanya dalam lingkungan gereja. Pelayanan yang benar adalah pelayanan tanpa batas. Pelayanan tanpa batas artinya usaha yang dilakukan demi kepentingan atau keuntungan Tuhan sehingga memuaskan dan menyenangkan hati-Nya (Gal. 1:10). Ini adalah pelayanan yang tidak dibatasi oleh ruangan, berarti bukan hanya di lingkungan gereja dan lembaga-lembaga Kristen. Tempat pelayanan orang percaya adalah seluruh wilayah di mana mereka dapat menyelenggarakan hidup bagi kepentingan sesama.

Dalam hal ini, kita harus belajar apa yang dimaksud dengan ibadah. Ibadah atau yang di lingkungan gereja juga sering disebut sebagai kebaktian bukan hanya terselenggara di gereja, tetapi di manapun orang percaya berada harus beribadah atau berbakti kepada Tuhan. Dalam Roma 12:1, ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai korban yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Ini berarti ketika seseorang menggunakan seluruh potensi dalam kehidupannya untuk kepentingan Tuhan berarti itulah ibadahnya. Untuk Tuhan bukan berarti hanya ditujukan bagi kegiatan gereja, tetapi ditujukan juga untuk kepentingan sesama manusia. Kata “ibadah” dalam Roma 12:1 ini adalah “latreia” yang lebih tepat diterjemahkan “service”, melayani. Jadi kalau selama ini banyak orang berpikir bahwa pelayanan adalah kegiatan gereja semata-mata, maka ini adalah suatu kebodohan yang sangat merugikan. Dengan pemahaman pelayanan seperti ini, maka tidak akan mungkin terjadi praktik menjual nama Yesus.