Pejuang Tuhan
25 August 2018

Pernahkah kita benar-benar berperkara dengan Bapa dan Tuhan Yesus mengenai satu hal penting ini: Apa kita sungguh-sunguh telah termasuk orang Kristen yang berdiri di pihak Tuhan? Apakah kita sungguh-sungguh telah mengabdi kepada Bapa dan Tuhan Yesus secara patut? Kita harus memeriksa diri dengan jujur apakah kita telah benar-benar melayani Tuhan Yesus sebagai Tuhan dengan segenap hidup tanpa batas? Oleh korban Yesus, kita telah menjadi anak-anak Bapa. Menjadi anak-anak Bapa artinya bukan berarti dapat menerima fasilitas berkat jasmani-Nya, tetapi dipanggil untuk menderita bersama-sama dengan Yesus. Paulus adalah sosok hamba yang benar-benar mengabdi kepada Bapa. Inilah yang Bapa kehendaki, yaitu agar kita memiliki pergumulan yang sama dengan Paulus. Kehidupan seperti itulah yang dapat dikatakan sebagai “berpadanan dengan Injil” (Flp. 1:27). Injil sejati yang merasuki seseorang akan menjadikan orang itu “pejuang bagi Kristus”.

Orang yang jiwanya belum dirasuki jiwa Injil yang benar, pasti belum bisa berlaku sebagai “pejuang Kristus”. Seperti yang telah Tuhan Yesus katakan bahwa Injil itu seperti ragi; dan ragi itu pasti mengubah. Perubahan tersebut sampai tingkat radikal, seperti yang Tuhan Yesus lakukan bagi Bapa-Nya. Inilah yang Tuhan Yesus kehendaki, kebenaran Injil menjadikan kita pejuang-pejuang Injil, pejuang kebenaran, pejuang bagi Tuhan untuk mengawal Kerajaan Bapa, sehingga kita dapat menjadi seperti anak panah bagi Tuhan. Bila tidak demikian, Injil yang kita terima bukanlah Injil yang benar. Tidak ada orang yang menerima Injil yang benar tidak menjadi pejuang bagi Kristus

Kita harus memahami bahwa pemberontakan Iblis di hadapan Bapa, dengan menyeret pula malaikat-malaikat, berlanjut di muka bumi ini. Pemberontakannya beralih dari surga ke bumi ini. Iblis mencoba menyeret sebanyak mungkin manusia untuk mengikuti jejaknya, melawan Allah. Ini merupakan gerakan Iblis yang terus berlangsung sampai hari ini. Kita harus menyadari hal ini dengan seksama dan berjaga-jaga dengan serius, agar tidak terseret menjadi pengikutnya atau berdiri di pihak dia.

Ketika Kerajaan Allah datang, Yesus menantang kita, kita ada di pihak siapa? Pihak Tuhan atau di pihak musuh. Kerajaan Allah yang dihadirkan oleh Tuhan merupakan isyarat dimulainya sebuah peperangan besar. Peperangan untuk membinasakan pekerjaan Iblis dan mengembalikan manusia kepada Allah sebagai pemilik-Nya. Sebagaimana Iblis mendayagunakan segala kekuatan melalui pengikutnya untuk melawan Bapa, demikian pula Tuhan Yesus mendayagunakan kita, para pengikut-Nya, untuk menghancurkan pekerjaan Iblis. Di surga malaikat-malaikat yang berperang, tetapi di bumi “kita”, orang percaya, yang mengawal Kerajaan Bapa. Dalam hal ini yang penting harus dipastikan sekarang ini kita berada di pihak siapa? Apakah kita turut serta mengawal Kerajaan Bapa- atau sibuk dengan urusan kita sendiri?

Kita harus memilih, mengumpulkan bersama dengan Tuhan atau sebaliknya menceraiberaikan. Tuhan Yesus berfirman: Barangsiapa tidak mengumpulkan bersama Dia, berarti menceraiberaikan, artinya merusak atau mengganggu pekerjaan Tuhan. Sebagai anak-anak tebusan, merupakan keharusan yang mutlak, kita hidup hanya bagi Tuhan. Ini berarti hidup kita hanya untuk kepentingan Kerajaan Bapa. Orang Kristen yang sudah dewasa, dapat mengerti bahwa sebenarnya orang percaya tidak berhak menuntut Tuhan, tetapi Tuhanlah yang berhak menuntut diri orang percaya untuk melakukan kehendak Bapa.

Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang telah ditebus oleh darah Yesus, bukan lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Yesus yang sudah mati bagi mereka. Sekarang Tuhan Yesus menunjukkan otoritas-Nya sebagai Raja, Tuhan berhak menuntut ketegasan kita, kepada siapa kita berpihak? Kita tidak boleh plin-plan. Keadaan plin-plan sangat berbahaya. Banyak orang Kristen yang tidak hidup serius bagi Tuhan. Banyak orang Kristen dibuat Ibliskehilangan arah hidupnya. Mereka menjadi tawanan musuh dan tergiring ke dalam api kekal. Tetapi malangnya mereka tidak menyadari keadaan mereka tersebut.

Mereka merasa sudah hidup dalam kewajaran standar manusia beragama yang baik. Itulah sebabnya mereka merasa berhak mengklaim kepada Tuhan apa saja yang mereka ingini. Bagi mereka Tuhan penolong yang baik. Tuhan dapat memahami keinginan mereka dan memuaskan hasrat mereka. Tanpa mereka sadari mereka memperlakukan Tuhan secara tidak pantas. Kebodohan semacam ini, sebenarnya banyak diajarkan kepada jemaat di banyak gereja. Mereka hanya mengajarkan mengenai Allah hanya dari satu sudut pandang, tetapi tidak melihat aspek yang lain. Dengan cara demikian mereka membuat jemaat Kristen berjiwa kerdil. Tidak bertumbuh dewasa. Akhirnya orang-orang Kristen yang kerdil ini sangat rentan terhadap pencobaan, sehingga imannya mudah gugur.