Pasti Berakhir
30 November 2019

Banyak orang berpikir seakan-akan perjalanan hidup ini tidak ada ujungnya atau tidak ada akhirnya. Hal ini menyebabkan sebagian besar orang Kristen tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi pengadilan Tuhan. Bila hal ini terjadi, itu berarti ia tidak mengerti kebenaran. Ini adalah sebuah penyesatan Iblis yang sukses. Bila jujur, kita dapat menemukan banyak manusia yang memberontak atau menolak kenyataan bahwa jalan ini akan berakhir. Ia tidak mau berpikir atau menerima kenyataan bahwa jalan ini akan berakhir. Dan akhir perjalanan hidup manusia ini merupakan sebuah misteri yang pada umumnya tidak seorang pun tahu (Yak. 4:13-17). Iblis akan berusaha menenangkan banyak jiwa manusia seakan-akan hidup ini tidak ada bahayanya. Tanpa disadari, mereka sedang dibawa ke dalam siksaan kekal.

Perjalanan waktu juga mengisyaratkan adanya batas waktu yang disediakan untuk suatu tugas tertentu. Harus diingat bahwa Sabat telah diciptakan Tuhan sebelum manusia jatuh dalam dosa. Ini berarti Adam dan Hawa harus tertib dan ketat memerhatikan perjalanan hari sebab pada hari ketujuh mereka harus berhenti bekerja atau beristirahat. Jadi, Allah juga dengan tertib bergaul dengan manusia dalam perjalanan waktu yang bergulir. Hal ini dikemukakan oleh Pengkhotbah dengan kalimat “Untuk segala sesuatu ada masanya” (Pkh. 3:1). Kuasa gelap akan menggiring seseorang berpikir bahwa nanti selalu ada waktu untuk mencari dan menemukan Tuhan sehingga hidup hari ini harus diisi dengan segala kegiatan tanpa mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Sementara hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, Iblis mewarnai hidupnya dengan segala warna kehidupan yang membuat kebenaran Tuhan tidak memiliki tempat dalam hidupnya. Seseorang merasa telah memberi tempat bagi Tuhan sebab ia tidak merasa berencana mengkhianati Tuhan. Padahal, tanpa mengisi jiwanya dengan kebenaran Tuhan dan pengalaman pribadi yang konkret dengan Tuhan, seseorang sama dengan tidak memberi tempat bagi Tuhan.

Tidak menyadari perjalanan waktu—sehingga tidak mengisi hidup ini guna mencari dan menemukan Tuhan secara benar—juga terjadi atas orang-orang yang merasa bahwa dirinya sudah bijaksana, cukup umur, dan memiliki banyak pengalaman serta prestasi kehidupan; apalagi kalau ditambah banyak uang. Mereka makin menjadi buta terhadap kebenaran yang murni. Padahal dalam Tuhan atau kedewasaan iman, mereka sebenarnya miskin. Inilah kebodohan “orang-orang bijaksana.” Bagi orang-orang seperti itu, Tuhan menyembunyikan hikmat-Nya (Mat. 11:25). Untuk orang-orang seperti ini, Tuhan Yesus menuntut agar melepaskan segala sesuatu dan mengikut Dia (Mat. 19:21; Luk. 14:33). Kalau mereka tidak merendahkan diri, mereka akan binasa dalam keangkuhan yang sering sangat terselubung. Nilai diri yang mereka miliki akan menjebak mereka menjadi orang-orang yang tidak bertumbuh dalam Tuhan dan kedewasaan iman yang Tuhan kehendaki. Mereka tidak bertumbuh dalam karakter Kristus yang seharusnya makin melekat dan muncul dalam kehidupan mereka.

Momentum-momentum yang berharga yang Tuhan sediakan bagi orang yang dikasihi-Nya berlalu dengan sia-sia. Momentum-momentum itu bisa saja berupa pengajaran-pengajaran Firman Tuhan yang dapat menjadi kunci pembuka pengertian dalam pengalaman hidup untuk menemukan Tuhan. Karena kuncinya tidak dimiliki, pengalaman hidup yang di dalamnya memuat pembentukan Tuhan untuk menyempurnakan hidup, tidak berdampak sama sekali dalam hidupnya. Momentum- momentum ini adalah anugerah bertahap yang harus diterima secara berkesinambungan seperti tali yang harus bersambung terus dan dijaga agar tidak putus. Ironis, banyak hal yang dianggap lebih menarik dari Kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Dengan sikap ini, mereka melecehkan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Melalui penjelasan ini, Saudara diingatkan untuk bertobat. Jika tidak, Saudara akan binasa.

Setiap orang terseret oleh waktu itu. Karenanya, sementara terseret oleh waktu, hidup harus diarahkan ke tujuan yang benar (1Kor. 9:26). Waktu ini sangat ketat. Artinya, kendaraan yang membawa kepada kebenaran ini terbatas waktu penggunaannya (Yak. 4:4; 1Ptr. 1:24). Jika orang percaya menyadari hal ini, ia akan memiliki hati yang bijaksana (Mzm. 90:10). Banyak waktu yang digunakan sekadar untuk mengumpulkan harta dan meraih cita-cita duniawi, seperti: pangkat, prestasi, gelar dan lain sebagainya. Waktu juga digunakan untuk memuaskan hasrat daging dan berbagai kesenangan, seolah-olah hidup ini adalah kesempatan sekali-kalinya manusia memiliki kesadaran. Ia lupa bahwa hidup sekarang ini barulah permulaan dari sebuah kesadaran abadi (1Kor. 15:32; Luk. 16:19-31). Di balik kehidupan hari ini, masih ada kehidupan panjang yang Allah sediakan, yaitu kehidupan di keabadian. Inilah yang dinanti-nantikan oleh tokoh- tokoh iman (Flp. 3:10-11). Gereja Tuhan harus menggiring jemaat kepada kehidupan yang penuh harapan di sini (1Ptr. 1:3-4). Oleh sebab itu, waktu yang sisa ini hendaknya jangan digunakan untuk hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki, tetapi kita gunakan secara bijaksana (1Ptr. 4:2-3), sehingga dapat menyelesaikan tugas kehidupan dengan sempurna.