Objek Pelayanan
30 December 2017

Dalam Matius 25:31-46, ditunjukkan oleh Tuhan Yesus bahwa segala perbuatan baik yang telah kita lakukan bagi orang yang membutuhkan pertolongan sehingga membuat mereka mengenal Juruselamat dan dipersiapkan masuk Kerajaan Surga adalah perbuatan baik kepada Tuhan sendiri. Ini berarti bahwa pelayanan yang benar dan nyata adalah perjalanan hidup kita setiap hari di tempat di mana kita menyelenggarakan hidup, misalnya: di rumah, toko, pasar, kantor, pergaulan, sekolah, kampus, dan lain sebagainya. Di tempat di mana setiap hari kita melakukan segala aktivitas kita, di sanalah pelayanan yang sesungguhnya. Pelayanan ini pasti jauh lebih berdampak. Harus diingat bahwa garam bukan hanya di toko, justru garam dibutuhkan di dapur, juga bukan di ruang tamu. Bila garam ditempatkan ruangan yang salah, akan tidak efektif sesuai dengan fungsinya. Garam di ruang tamu tidak berdampak. Garam justru berdaya guna di dapur atau ditempat di mana ia dibutuhkan. Gereja tidak terlalu membutuhkan orang Kristen yang berkiprah di dalamnya, tetapi justru di tengah-tengah masyarakat. Gereja hanyalah gudang garam.

Pelayanan tanpa batas adalah pelayanan yang tidak dibatasi oleh cara, berarti bukan hanya kegiatan yang berbau gereja atau yang selama ini disebut sebagai kegiatan rohani. Pelayanan bukan hanya ada di sekitar gereja seperti berkhotbah, memimpin puji-pujian, menjabat sebagai staf pengurus gereja, guru sekolah Minggu, dan lain sebagainya. Segala kegiatan yang dilakukan demi kepentingan atau keuntungan Tuhan sehingga memuaskan dan menyenangkan hati-Nya adalah pelayanan (1Kor. 10:31). Pelayanan dapat dilakukan siapa pun tanpa membedakan status (pria wanita, kaya atau miskin, dari berbagai suku bangsa dan berbagai golongan). Di sini pelayanan bukan monopoli pejabat yang disahkan sinode sebagai pejabatnya.

Dalam pelayanan yang penting adalah siapakah yang menerima pelayanan kita. Tentu jawabnya mudah, yaitu Tuhan. Pertanyaannya adalah apakah semua yang kita lakukan benar-benar adalah ditujukan bagi Tuhan, sebab banyak orang yang tidak jujur dengan dirinya sendiri. Mulut mengatakan melayani Tuhan, padahal sebenarnya ia melayani dirinya sendiri. Hal ini terjadi berhubung dirinya belum bisa menyalibkan dirinya sendiri atau belum menurunkan dirinya dari takhta kehidupannya. Sehingga, Tuhan Yesus belum berkuasa atas hidupnya. Ia belum bertumbuh pada suatu kehidupan yang bernafaskan, “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”. Pelayanan yang benar hanya dapat dilakukan oleh mereka yang benar-benar telah menyadari bahwa tujuan hidup ini satu-satunya adalah mengabdi kepada Tuhan (Flp. 1:21).

Oleh sebab itu, pelayanan yang benar harus dimulai dari kerinduan yang sungguh-sungguh untuk melakukan segala sesuatu untuk kepentingan pekerjaan Tuhan, sehingga hati Tuhan dipuaskan dan disenangkan. Hal ini harus dipelajari dalam perjalanan hidup dari hari ke hari. Sampai suatu saat seseorang mengerti apa artinya hidup menghamba kepada Tuhan. Pelayanan harus dimulai dari diri sendiri, yaitu mengasihi diri sendiri seperti Tuhan mengasihi dirinya. Kemudian, berkembang menjadi mengasihi orang lain di sekitarnya seperti mengasihi diri sendiri. Orang di sekitarnya adalah siapa pun. Dari pasangan hidup, anak, orang tua, mertua, keluarga besar, pembantu rumah tangga, supir, dan setiap orang yang kita jumpai. Sebab, Tuhan mengasihi mereka dan mau menyelamatkan serta memberkati mereka.

Tidak sedikit terdapat orang-orang Kristen yang cakap dalam kegiatan pelayanan gereja, tetapi kehidupan setiap harinya tidak mendatangkan keteduhan bagi sesama. Mereka rajin datang ke gereja dan di depan mata masyarakat menunjukkan sebagai seorang pembela agama Kristen. Tetapi dalam kehidupan setiap hari, perbuatan mereka tidak memberkati orang lain. Orang-orang seperti ini pada dasarnya belum melayani Tuhan. Dalam kasus-kasus tertentu, nampaklah karakter manusiawi mereka yang tidak berbelas kasihan terhadap sesama atau sewenang-wenang, mau menang sendiri atau tidak mau mengalah, serakah, mau menunjukkan prestasi dan kelebihan yang dimilikinya, tidak mau mengerti orang lain, memaksakan kehendaknya kepada orang lain, pelit, bengis, dan lain sebagainya. Orang-orang seperti ini jika berada dalam kegiatan di gereja pasti menjual nama Yesus untuk kepentingan dirinya sendiri.