Nubuatan Sebagai Verifikasi
26 May 2019

Terkait dengan penentuan atau penetapan bahwa ada sebagian orang yang diselamatkan dan yang lain tidak, didasarkan pada kisah pengkhianatan Yudas. Alkitab menubuatkan bahwa ada satu di antara murid-murid-Nya yang akan berkhianat. Memang ditentukan untuk dibinasakan terdapat dalam Yohanes 17:2 – “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.” Karena teks ini banyak orang mengasumsikan bahwa Yudas “seakan-akan” telah “ditentukan untuk binasa.” Ditentukan untuk binasa dalam teks aslinya adalah ho huios tees apooleias. Yang dalam versi King James diterjemahkan the son of perdition (anak kebinasaan atau anak neraka). Dalam versi lain diterjemahkan the man who was bound to be lost (orang yang ditentukan untuk terhilang). Teks ini membuat kelompok tertentu orang Kristen meyakini bahwa memang Yudas ditentukan untuk terhilang.

Kita harus teliti membaca Yohanes 17:2 tersebut. Setelah ditulis bahwa Yudas adalah anak kebinasaan, selanjutnya tertulis kalimat “supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci” (so that the scripture might come true). Kalimat ini menunjukkan bahwa Yudas terverifikasi sebagai salah satu dari dua belas murid yang mengkhianati Tuhan Yesus setelah peristiwa pengkhinatan benar-benar telah terjadi atau berlangsung. Hal ini meneguhkan bahwa memang Tuhan Yesus adalah Mesias atau Juruselamat yang telah dinubuatkan oleh Kitab Suci. Di sini yang penting bukan penjelasan mengenai Yudas yang berkhianat, tetapi Tuhan Yesus sebagai penggenapan akan nubuatan dalam Perjanjian Lama. Jadi, ditentukan untuk terhilang atau binasa tersebut tidak harus menunjuk pada penentuan pribadi Yudas oleh Allah sebagai anak kebinasaan, tetapi lebih menunjuk kepada penggenapan kitab suci bahwa salah satu orang dekat Sang Mesias akan berkhianat.

Tidak menutup kemungkinan bahwa salah satu dari murid yang lain (bukan Yudas) juga bisa berkhianat. Ketika Tuhan Yesus menunjuk ada “Iblis” -yang sama dengan adanya pengkianat di antara murid-murid- peristiwa itu belum terjadi. Jadi Yohanes 6:70-71 yang menunjukkan bahwa pengkhianat itu Yudas, ditulis setelah kejadian pengkhianatan terjadi. Demikian pula dalam Yohanes 6:66-67 tertulis: “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: Apakah kamu tidak mau pergi juga?” Dari apa yang tertulis di sini Tuhan Yesus pun juga membuka kemungkinan atau memberi peluang kepada orang-orang dekat-Nya untuk bisa dan boleh meninggalkan-Nya. Dari catatan ini jelas bahwa terbuka kemungkinan bila salah satu murid-Nya dapat berkhianat kepada-Nya.

Namun ternyata Yudaslah yang berkhianat. Berkenaan dengan ini digenapi pula apa yang tertulis dalam Alkitab: “Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel” (Mat. 27:9). Nubuat yang digenapi ini mengokohkan fakta bahwa Yesus putra Maria adalah Mesias, Sang Juruselamat. Hal ini sangat dibutuhkan oleh manusia pada zaman itu yang memandang Yesus tidak lebih dari anak tukang kayu yang lahir dan hidup di tengah-tengah mereka. Nubuat-nubuatan yang digenapi tersebut membuktikan kebenaran diri Yesus Kristus sebagai Mesias, sehingga mereka tidak lagi memiliki alasan untuk menolak atau menyangkal Yesus Kristus sebagai Mesias. Salah satu buktinya adalah pengkhianatan oleh salah satu murid Tuhan Yesus, yaitu Yudas.

Penggenapan nubuatan mengenai Yudas ini adalah satu dari sekian banyak nubuatan mengenai Mesias yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Kalau terdapat nubuatan bahwa ia akan lahir di Bethlehem, yang penting bukanlah tempat di mana Ia dilahirkan, tetapi verifikasi bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Penguasa yang lahir di tengah-tengah bangsa Israel. Semua imam kepala dan ahli Taurat rupanya tahu betul mengenai hal ini, di mana seorang Mesias akan dilahirkan (Mat. 2:4-6). Hal ini seharusnya cukup mencelikkan mata orang Yahudi untuk bisa menerima Yesus Kristus sebagai Mesias yang dijanjikan. Jadi, kalau mereka menolak atau menyangkal Dia, mereka harus memikul resikonya.

Kalau dikatakan bahwa Ia akan mengendarai keledai tunggangan, maka yang penting bukan penunjukkan keledai sebagai tunggangan-Nya masuk Yerusalem, tetapi yang penting pembaca Injil dapat diyakinkan dan menerima konfirmasi bahwa sungguh Dia adalah Mesias (Luk. 19:39; Yoh. 12:12). Oleh sebab itu kita tidak boleh menganggap nubuatan sebagai dekret atau penetapan, tetapi nubuatan sebagai konfirmasi dan pembuktian kebenaran Allah yang telah dinubuatkan oleh Alkitab dan semua itu mengarah kepada pribadi Kristus, dan karya keselamatan-Nya.