No Man Can Serve Two Masters
19 February 2017

Merupakan sebuah perjuangan yang tidak mudah untuk dapat terlepas dari kehidupan mengabdi kepada dua tuan. Sebagai hasilnya, jika seseorang sungguh-sungguh berjuang, maka dengan hati nurani yang benar seseorang mampu hanya mengabdi kepada Tuhan saja dan tidak dapat mengabdi kepada yang lain (Mat. 6: 24). Banyak orang yang hati nuraninya tidak diasah oleh kebenaran, sehingga ia tidak tahu bahwa sebenarnya ia masih mengabdi kepada dua tuan.

Saya baru menyadari hal ini setelah saya lebih diasah oleh kebenaran Firman Tuhan. Dulu saya merasa bahwa saya sudah benar-benar full time hidup buat Tuhan sebagai hamba Tuhan atau pendeta yang disahkan sinode, tapi ternyata belum. Dengan profesi pendeta, saya merasa sudah mengabdi hanya kepada Tuhan Yesus, faktanya sebenarnya belum. Ternyata banyak agenda pribadi dalam pelayanan yang terselubung.

Nurani kitalah yang akan menerangi diri kita untuk melihat seberapa murni kita hidup bagi Tuhan. Di level seperti Paulus, seseorang bisa berkata bahwa ia melayani Tuhan dengan hati nurani yang murni (Kis. 23:1; 24:16). Maksudnya bahwa dalam hidup ini, khususnya dalam pelayanan, ia tidak memiliki agenda sendiri. Yang bisa mengerti bahwa dirinya ada agenda sendiri atau tidak adalah seorang yang hati nuraninya telah diterangi oleh Tuhan. Banyak orang merasa bahwa ia telah hidup untuk Tuhan sepenuh hati dan sepenuh waktu, ia tidak mampu melihat agendanya sendiri yang bersembunyi di kedalaman hatinya. Orang yang memiliki agenda sendiri dalam menjalankan hidup sebenarnya membenamkan diri pada penjara kebinasaan tanpa disadari oleh dirinya sendiri.

Dalam hidup ini hanya ada satu pilihan di antara dua kemungkinan atau dua opsi, yaitu kehidupan yang didasarkan pada filosofi pertama: “aku ada karena Tuhan dan bagi Tuhan”, adapun yang kedua adalah “aku ada karena aku ada dan bagi diriku sendiri”. Inilah kenyataan kehidupan atau bisa disejajarkan dengan hukum kehidupan. Setiap orang akan jatuh pada salah satu pilihan tersebut, dan tidak akan dapat menghindarkannya. Kalau seseorang tidak melandaskan hidupnya pada filosofi yang pertama, pasti jatuh ke filosofi yang kedua, atau sebaliknya. Sungguh malang kalau banyak manusia tidak memahami realitas kehidupan atau hukum kehidupan ini. Kalau binatang tidak memahami hukum kehidupan ini, tidak menjadi masalah. Tetapi kalau manusia tidak memahami hukum kehidupan ini, maka lebih baik ia tidak pernah menjadi manusia. Kesadaran terhadap realitas hukum kehidupan tersebut bisa menciptakan gaya hidup yang berkualitas tinggi, yaitu bila seseorang memilih opsi pertama. Tetapi kalau seseorang tidak memahami kebenaran ini, maka sekalipun ia kaya raya, berkedudukan dan berpendidikan tinggi, terkenal dan lain sebagainya, maka hidupnya tidak berkualitas sama sekali, sebab ia pasti jatuh di opsi yang kedua. Pada kenyataannya banyak orang Kristen yang jatuh pada opsi yang kedua: “aku ada karena aku ada dan bagi diriku sendiri”. Dengan opsi ini seseorang menempatkan diri sebagai pemberontak.

Mengenai hal ini Tuhan Yesus telah berkata tegas: No man can serve two masters atau No one can be a slave of two masters, kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan atau kamu tidak dapat menjadi budak dua majikan (Mat. 6:24). Memang jarang atau hampir tidak ada orang yang beragama mengaku ber-Tuhan tetapi menyembah dan mengabdi kepada Iblis secara langsung. Tetapi sebenarnya ketika seseorang melandaskan hidupnya pada filosofi yang kedua yaitu “aku ada karena aku ada dan bagi diriku sendiri”, maka ia “menjadikan dirinya sendiri sebagai majikan”, ini berarti telah menjadikan dirinya budak kuasa kegelapan. Orang yang berfilosofi ini sebenarnya mengangkat diri sebagai Tuhan. Seharusnya mereka menundukkan diri sepenuh-penuhnya kepada Tuhan sebagai hamba. Sikap hidup seperti ini sama seperti yang dilakukan oleh Lusifer.

Setiap orang harus memilih salah satu di antaranya. Manusia tidak boleh memilih dua-duanya atau sebagian dari kedua pilihan tersebut. Harus memilih salah satu. Jika seseorang menunda menetapkan pilihannya atau tidak berniat memilih salah satu, berarti ia memilih yang kedua. Ternyata tidak sedikit orang Kristen yang menunda atau mengulur-ngulur waktu dalam menetapkan pilihan. Penundaan ini sangat berbahaya, sebab kuasa kegelapan secara berkesinambungan dan intensif menuntun orang-orang tersebut untuk tidak akan bisa lagi dikendalikan oleh Tuhan. Akhirnya mereka hidup dalam kekuasaan atau dominasi kuasa kegelapan selamanya. Cara Iblis mendominasi seseorang sangat sistematis dan cerdas. Dari penguasaan sedikit sampai penguasaan seluruh kehidupan secara besar dan kuat. Dalam hal ini Paulus menasihati kita: Janganlah memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4:27).