Motivasi
27 December 2017

Selama ini kita sering menyebut-nyebut kata “motivasi”. Biasanya, kata “motivasi” dalam lingkungan gereja dikaitkan dengan pelayanan atau pengiringan kepada Tuhan Yesus. Kita harus membahas hal kemurnian motivasi pelayanan, sebab hal ini sangat terkait dengan hal menjual nama Yesus. Motivasi berasal dari kata dalam bahasa latin “movere” yang artinya bergerak. Kata “movere” memberikan kesan yang jelas atau menunjuk sesuatu yang aktif, dinamis, dan juga bisa menunjukkan sesuatu yang berkembang atau progresif. Secara etimologis (asal usul kata); kata ”motivasi” berasal dari kata motif, yang artinya dorongan, kehendak alasan atau kemauan. Maka motivasi adalah dorongan-dorongan (forces) yang membangkitkan dan menggerakkan kelakuan individu.

Motivasi bukanlah tingkah laku, melainkan kondisi internal yang kompleks dan tidak dapat diamati secara langsung. Akan tetapi, motivasi mempengaruhi tingkah laku seseorang. Itulah sebabnya, kita dapat melihat motivasi seseorang berdasarkan tingkah lakunya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dideskripsikan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Deskripsi ini memiliki kesamaan dengan pengertian motivasi di atas bila ditinjau dari etimologinya, yaitu movere.

Dengan penjelasan di atas ini dapatlah ditarik konklusi bahwa motivasi menunjuk kepada sikap hati yang menghasilkan suatu dorongan untuk berbuat sesuatu secara konkret. Itulah sebabnya, bisa dikatakan bahwa motivasi menentukan kuat-lemahnya tingkah laku atau gerakan untuk mencapai tujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan. Pada dasarnya, motivasi timbul karena dilandaskan pada kebutuhan-kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Seorang penulis buku mengenai motivasi mengatakan mengenai motivasi sebagai berikut: Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga, dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka mencapai tujuan.

Sejajar dengan ungkapan pernyataan di atas, penulis lain mengatakan bahwa motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Motif yang dimaksud ialah daya dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Dalam ungkapannya tersebut hendak menekankan bahwa motivasi merupakan proses yang menggerakkan sebuah kegiatan atau proyek, demi tercapainya sebuah tujuan tertentu dengan melahirkan atau menciptakan motif-motif lain sebagai pendukungnya. Berkenaan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam motivasi, seorang penulis buku lain mengenai motivasi dari Barat mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya rasa dan tanggapan terhadap adanya tujuan.

Selanjutnya, ia mengemukakan bahwa motivasi sangat berkorelasi dengan tujuan. Jika tidak ada motivasi, maka tujuannya pun menjadi tidak jelas. Di sini, nyatalah bahwa motivasi adalah daya penggerak seseorang mencapai tujuan. Fenomena ini ditegaskan oleh pendapat tokoh pemikir yang bernama Callahan dan Clark bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Jadi berbicara mengenai kemurnian motivasi, maka hendak dijabarkan mengenai motivasi yang seharusnya dimiliki seorang anak Tuhan dan pelayan Tuhan dalam gereja Tuhan. Tidak ada motivasi lain dalam hidup kita kecuali mengenal Dia untuk mengabdi kepada-Nya secara tak terbatas. Di luar hal ini berarti pemberontakan dan menuju kebinasaan dalam api kekal.

Untuk memiliki motivasi yang benar seseorang harus memiliki gambaran yang utuh dan lengkap mengenai kebenaran Tuhan. Gambaran yang lengkap dan utuh tersebut membangun cara berpikirnya. Cara berpikir inilah yang menjadi penentu isi motivasi hidup seseorang. Tidak ada motivasi yang benar dalam kehidupan ini selain menyembah Tuhan dan hanya kepada Dia saja kita berbakti (Luk. 4:5-8). Definisi ini juga sejajar dengan pernyataan Tuhan Yesus yang lain dalam Yoh. 4:34: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”.