Monster Yang Sesungguhnya
26 March 2017

Harus disadari bahwa musuh terbesar bagi diri kita bukan hanya Iblis. Iblis adalah musuh terbesar di luar diri kita yang sangat mengancam, sedangkan musuh terbesar dalam diri kita adalah diri kita sendiri yang juga harus dipandang sebagai ancaman. Di dalam diri kita ada monster yang harus dikalahkan atau ditaklukkan. Monster itu bernama Erastus, Wijaya, Bambang, Agus, Endang, Vivi, Lily dan nama masing-masing orang. Semua manusia telah berdosa dan kurang atau tidak mencapai kemuliaan Allah. Semua manusia telah berkeadaan menyimpang dari rencana semula. Keadaan menyimpang ini disebut sebagai monster. Dengan demikian semua manusia yang dilahirkan oleh Adam memiliki gambar dan rupa Adam (Kej. 5:3), bukan gambar dan rupa Allah sesuai rancangan semula.
Tidaklah keliru kalau semua keturunan Adam dikatakan sebagai monster, jika dibandingkan dengan maksud rencana Allah semula yang menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah. Wajah manusia yang tidak mencapai kemuliaan Allah adalah wajah yang menyimpang dari wajah yang dimaksud atau dikehendaki oleh Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus bermaksud mengubah wajah tersebut, bukan hanya memoles atau mendandani (make up), tetapi mengganti wajah. Suatu hari ketika kita menghadap Bapa, Ia hanya ingin menemukan wajah Putra Tunggal-Nya dalam diri kita. Hanya itu standar kehidupan anak-anak Allah yang menjadi anggota keluarga Kerajaan. Hal ini berarti kita harus mematikan monster seperti yang dikatakan Paulus dalam Kolose 3:5-10.

Selama monster itu masih berjaya, seseorang tidak dapat memenuhi Galatia 2:19-20 (hidupku bukan aku lagi melainkan Kristus yang hidup di dalam aku). Ini berarti seseorang belum bisa mengatakan diri sebagai pemenang. Ini berarti karya keselamatan Allah dalam hidupnya belum terwujud. Itu juga berarti seseorang belum menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal. 5:23-25). Dengan keadaan demikian berarti seseorang belum bisa dimiliki oleh Tuhan Yesus. Sungguh malang orang-orang Kristen yang merasa sudah selamat dan memiliki hak untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus dan memerintah bersama Dia, padahal dengan keberadaan yang masih “bermonster” paling-paling hanya bisa masuk sebagai anggota masyarakat. Itupun belum tentu, sebab kenyataannya banyak orang Kristen yang kejam, pelit, tidak memiliki belas kasihan, bahkan hidup dalam pelanggaran secara moral umum. Bagian orang-orang seperti ini adalah neraka; terpisah dari hadirat Allah selamanya. Walau mereka mengaku percaya dan pergi ke gereja, aktif dalam pelayanan bahkan menjadi pendeta, tetap akan tertolak dari hadapan Tuhan (Mat. 7:21-23).

Untuk membunuh monster dalam diri seseorang, ia harus menghidupi kehidupan anak Allah di dalam dirinya dengan kebenaran Firman Tuhan (logos) dan selalu ada dalam proses pendewasaan yang intensif. Ia harus memberi makan kehidupan anak Allah di dalam dirinya dalam pergaulan doa dengan Tuhan. Peristiwa-peristiwa kehidupan setiap hari mengandung rhema yang harus ditangkap guna memberi makanan rohani. Kebalikan dari hal ini, ia tidak boleh memberi makan monsternya dengan berbagai hal seperti bergaul dengan orang yang tidak takut Tuhan, mengkonsumsi bacaan dan tontonan yang tidak membangun kesucian hidup, terus-menerus dalam kebiasaan hidup yang Tuhan tidak kehendaki. Dalam hal ini keberadaan monster seseorang tergantung orang tersebut, apakah ia mencintainya atau bersedia mematikannya.

Salah satu yang dapat membuat monster seseorang eksis adalah “cinta akan uang”. Cinta akan uang didasarkan pada nilai-nilai di dalam pikirannya dan cita rasa yang terbangun. Ia merasa bahwa dunia dengan segala fasilitasnya dapat membahagiakan dirinya. Selain itu kekayaan dapat membangun prestise dan kehormatan. Untuk itu ia harus memburu uang demi semua itu. Alkitab mengatakan bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang. Kalau seseorang sudah terikat oleh “cinta akan uang” dan dirinya tidak mau melepaskannya, maka hal itu menjadi belenggu yang membuat dirinya tidak bisa mengerti Firman Tuhan, sehingga membuat monsternya terbentuk menjadi kuat; keadaan ini bisa sampai pada taraf di mana monsternya tidak bisa dimatikan lagi. Oleh sebab itu tidak ada pilihan jika seseorang hendak mematikan monster di dalam dirinya, ia harus melepaskan dirinya dari belenggu percintaan akan uang. Hal ini bisa dilakukan setiap individu kalau memang sungguh-sungguh berniat untuk itu. Tuhan menghendaki kita yang melepaskannya sendiri dengan niat yang kuat yang kita bangkitkan sendiri di dalam diri kita masing-masing (Luk. 14:33: Ibr. 12:1).

Ketika seseorang melepaskan keterikatannya dengan uang atau harta dunia, maka Tuhan akan membuka jalan untuk melepaskannya dari semua unsur (spirit atau gairah) yang membangun dan mengokohkan monster di dalam dirinya. Dengan demikian proses mematikan monster dapat mulai berlangsung. Kalau seseorang masih terikat dengan uang atau harta kekayaan dunia dan tidak bersedia melepaskannya, maka Tuhan tidak dapat melepaskan orang seperti itu. Tuhan tidak dapat menolong orang yang tidak menolong dirinya sendiri. Tuhan tidak dapat membunuh monster tersebut tanpa respon manusia itu sendiri. Pada akhirnya memang kematian monster dalam diri seseorang adalah kerjasama antara setiap individu tersebut dengan Roh Kudus yang menuntunnya kepada segala kebenaran.