Monster Itu Manusia Lama
27 March 2017

Kisah yang ditulis oleh Matius 16:21-23 menunjukkan kepada kita adanya monster dalam diri seseorang yang bisa dipandangnya rohani atau sesuai dengan gairah dari Allah, padahal dari Iblis. Injil Matius mencatat: Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.»
Rencana Allah yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus, bahwa diri-Nya harus mati di Yerusalem dan dibangkitkan dari antara orang mati, dipandang oleh Petrus sebagai tidak sesuai dengan pikiran Allah. Sehingga Petrus menegor Yesus. Di balik tindakan Petrus ini jelas adanya spirit, gairah dan pemikiran atau cara berpikir dalam diri Petrus yang bertentangan dengan Tuhan Yesus. Hal itu ada di dalam diri Petrus bukan karena sebuah gejala yang tumbuh atau timbul dalam satu hari, tetapi sebuah proses yang berlangsung bertahun-tahun. Itulah monsternya Petrus yang terbangun dan terbentuk dalam waktu lama, di atas nilai-nilai dan selera atau cita rasa jiwa serta gairah masyarakat sekitarnya.

Menanggapi kelakuan Petrus tersebut Tuhan Yesus berkata: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Kata dipikirkan dalam teks ini adalah phroneo (φρονέω). Kata ini lebih tepat diterjemahkan cara berpikir atau mindset atau pengertian (understanding). Kata ini juga digunakan Paulus adalam Filipi 2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus… Kata pikiran dan perasaan Kristus di sini digunakan kata yang sama dengan “yang dipikirkan” dalam Matius 16:23.

Ternyata spirit, gairah atau cara berpikir (mindset) Petrus yang dikiranya berasal dari Allah, ternyata produk Iblis. Produk Iblis ini cirinya adalah mengutamakan atau menekankan pemenuhan kebutuhan jasmani, kemuliaan lahiriah dan kejayaan duniawi. Petrus mengharapkan Tuhan Yesus menjadi Raja dunia atau juruselamat dunia seperti yang diharapkan hampir semua orang Yahudi atau yang sesuai dengan versi mereka. Mereka merindukan terbebas dari kekuasaan kekaisaran Roma dan membangun kerajaan Israel Raya seperti zaman Daud dan Salomo. Cara berpikir duniawi tersebut menjadi batu sandungan bagi Tuhan Yesus untuk mewujudkan keselamatan dalam kehidupan mereka khususnya dan manusia pada umumnya. Sesungguhnya teologi kemakmuran yang sekarang ini diajarkan di banyak gereja memiliki spirit yang sama dengan ini.

Tuhan Yesus menghardik Iblis dalam diri atau pikiran Petrus. Apakah Iblis dengan mudah keluar dari pikiran Petrus? Ternyata tidak. Konsep yang salah dalam pikiran Petrus masih bertahan dalam diri Petrus sampai pada setelah kebangkitan Tuhan Yesus. Mereka masih menuntut pemulihan bagi kerajaan Israel (Kis. 1:5-8). Pemikiran yang tidak berbeda dengan yang sudah mereka miliki sebelumnya. Hal ini menunjukkan tidak mudahnya mematikan monster tersebut, karena memang sudah terbangun dan terbentuk lama dalam diri mereka. Dibutuhkan proses yang panjang pula untuk mengubah nilai-nilai, selera atau cita rasa dan spirit atau gairah hidup yang membangun satu bentuk monster tersebut. Teologi kemakmuran sesungguhnya bukan mematikan monster dalam kehidupan jemaat Tuhan, tetapi malah sebaliknya, yaitu menghidupi dan membuatnya kuat. Tetapi hal ini tidak disadari, bahkan disukai, sebab sesuai dengan selera duniawi mereka pada umumnya.

Mengubah nilai-nilai yang membangun selera atau cita rasa jiwa serta spirit atau suatu gairah hidup harus dengan kebenaran Firman (baik logos dan rhema). Dalam hal ini peran Roh Kudus adalah segalanya. Tanpa Roh Kudus seseorang tidak akan tercelik memahami kebenaran. Individu juga memiliki peran dan tempatnya yang sangat penting. Dalam hal ini Tuhan juga melibatkan individu itu dalam menggarap dirinya, sehingga manusia bukanlah entitas yang tidak memiliki tanggung jawab dan bukan seperti boneka. Seseorang yang mau mematikan monster di dalam dirinya harus bekerja keras. Ia harus memberi kesempatan kehidupan anak Allah tumbuh di dalam dirinya dan tidak memberi peluang monster (manusia lama) menjadi kuat.

Terkait dengan hal di atas ini Paulus mengatakan: yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. (Ef. 4:22-24). Di bagian lain Paulus tegas mengatakan: matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi (Kol. 3:5-10). Manusia baru yang dimaksud adalah kehidupan anak Allah yang harus ditumbuhkan sementara manusia lama atau monsternya dimatikan atau diakhiri.