Momentum Tuhan
24 February 2021

Play Audio

Alkitab berkata bahwa setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sebagaimana Paulus pun berkata, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Dalam hal ini, jelas bahwa seseorang dapat dituntut bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang diambil semasa hidupnya. Seseorang tidak bisa menimpakan ganjaran atas pilihan yang ia ambil semasa hidupnya kepada Tuhan. Oleh karenanya, sangat aneh atau absurd apabila ada orang berpikir bahwa ketika seseorang bisa berbuat baik dan berkenan, itu karena Tuhan yang membuatnya dapat demikian. Sesungguhnya, tidak ada satu pun oknum di luar diri manusia yang dapat membuatnya menjadi baik ataupun jahat. Manusia diberi kehendak bebas untuk menentukan nasibnya di bumi ini dan di kekekalan. Setiap pilihan individu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan pada hari penghakiman.

Dengan mengatakan hal ini, bukan berarti Tuhan sama sekali tidak peduli terhadap orang percaya atau Tuhan bersikap acuh terhadap umat-Nya. Tuhan adalah sosok Guru yang senantiasa mendampingi umat-Nya melalui kehidupan ini untuk sampai di rumah-Nya yang abadi. Dalam proses kehidupan kita menjadi berkenan, Tuhan menyediakan kairos atau momentum untuk mengubah orang percaya. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa mengikut Yesus berarti belajar. Ada kesempatan atau momentum tertentu yang Tuhan sengaja hadirkan dalam hidup kita. Melalui kesempatan atau momentum tersebut, orang percaya hendak diajar untuk menyesuaikan dan mengubah diri sesuai yang dikehendaki-Nya. Dalam hal ini, orang percaya harus merespons pengalaman atau peristiwa yang Tuhan berikan dengan disiplin. Disiplin adalah sebuah pembiasaan yang ketat. Jadi, Tuhan tidak bisa mengubah kita tanpa proses. Maka dikatakan: “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan” (Rm. 8:28). Allah membutuhkan peristiwa, kejadian, dan momentum untuk bekerja dalam kehidupan manusia. Allah memiliki kairos untuk membentuk orang itu. Di sini respons individu sangat menentukan. Allah pasti memenuhi bagian-Nya, tetapi apakah seseorang merespons apa yang Allah berikan, itu sangat tergantung pada keputusan masing-masing individu.

Jangan dikesankan bahwa apa pun keadaan orang percaya, yang penting percaya saja. Tuhan Yesus mati di kayu salib untuk kita dan kita sudah dibenarkan secara otomatis. Kepercayaan ini sesungguhnya adalah kepercayaan pada ranah akali yang kelihatannya dogmatis atau teologis, namun menyesatkan. Ajaran seperti ini tidak memiliki implikasi kuat untuk mengubah orang percaya. Keyakinan dalam pikiran tanpa mekanisme yang jelas membutakan mata orang percaya terhadap kebenaran. Sehingga mereka menjadi orang-orang yang merasa tidak bermasalah ketika menjadi wajar di mata dunia. Sesungguhnya, ajaran yang benar harus dapat dipraktikkan dalam kehidupan konkret dan berimplikasi pada perubahan hidup yang radikal.

Kebenarannya adalah setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya masing-masing. Tuhan memberikan momentum bagi setiap orang percaya sesuai dengan pergumulan dan kebutuhan untuk mengubah orang tersebut. Namun momentum tersebut harus direspons dengan benar oleh orang percaya dengan melakukan apa yang dikehendaki Allah. Jika dikaitkan dengan pengampunan, maka setiap kita harus hidup dalam keharmonisan sebagai anak-anak Allah yang telah ditebus dosa-dosanya. Kehadiran orang-orang yang melukai, memfitnah, melukai, merusak nama baik, atau membunuh karakter kita merupakan momentum yang Tuhan izinkan untuk mengubah kita.